Skip to main content

Full text of "Tabloid Reformata Edisi 7, Oktober 2003"

See other formats


EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Harga Eceran: Jabotabek Rp. 4000., Pulau Jawa Rp. 4250, Luar Pulau Jawa Rp. 4500 



Tveformata 

Menyuarakan Kebenaran dan Keadilan 



heartlineT^) 

network 



netwofk@heartHne.co.id 
www.hearttlne.co.ld 




Karawaci - 97.85 Mhz 



Samarinda - 98.8 Mhz 



Lampung - 92.15 Mhz 



Bali -101.95 Mhz 



GEREJA ISA ALMASIH GILAKU DIBAKAR 



'W 



! / ! / r j 

JAJAJjBcinduno 

Dibubarkan Itu 






Dessy Fitri Ade Manuhutu< 

Berencana "Wanita 

Menikah Tak Boleh 

|Tahun Depan Naik 




Dr. Sanihu Munir 
Merongrong HjjH 



KeTuhanan 
Yesus 




Millenium 
Motorcycle 



Hubungi segera: 021-I46O8888 
Agen-Tunggal Pemegang Merek: 

_' G p¥ CATUR GATRA EKA PERKASA 

J^rLP. 0 pegangsaan Dua No.83, Ke(apa Gading; 

FmX . 021- 31486W 14250 




— r 



bsiemba Kaya no. i 
Jakarta Pusat .0430 



o 



'Meja %edaksi 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



DAFTAR ISI 



EDITORIAL 3 

Keberagamaan Amrozi dan 
Keberagamaan Kita 
LAPORAN UTAMA 4-6 

§ Amarah dan Tangis di Balik 

KKR Bandung 
§ "Saya Ditinggalkan 

Sendirian" 
§ Umat Islam di Bandung 

Sangat Toleran 
§ "Bandung Festival, Catatan 

Buruk" 

§ Bukti Inkonsistensi Polisi 
VARIA GEREJA 7 

§ Sutiyoso: 

§ PERRI Adakan Jumpa 

Pendengar Radio Heartline 
§ HUT 100 Tahun GKPS Diisi 

Dengan Ibadah Syukur 
§ Dies Natalis dan Wisuda UKI 
LIPUTAN 8 
Pleno Pokja JK-LPK dan Diskusi 
Pemilu 2004 

Usia Harapan Penduduk 
Indonesia 70 Tahun 
KOTBAH POPULER 8 

Melalui Kristus, Damai jadi Nyata! 
RESENSI 9 

Ihwal Kekristenan yang 

Bukan untuk Orang Iseng 

Heidy Diana: 

Belajar Mengerti Sesama 
GEREJA & MASYARAKAT 10 
§ MIKA dan Pemkab Landak: 

Gelar Pelatihan Guru Fisika 

dan Matematika 
§ Agar Tak Jadi Momok di 

Kalangan Siswa 
§ NCF: Memberdayakan 

Kesehatan Masyarakat 
SELEKTA 11 
§ Gereja Isa Almasih Musnah 

Dibakar 

KONSULTASI TEOLOGI 11 

Becerai Demi Ketenangan 

PROFIL ° 12 

Drs. Comelis: Menggapai Langit Kedua 
SENGGANG 13 

§ Herry Priyonggo: Merajut 

Karya Bagi Dia 
§ Dessy Fitri: Berencana 

Menikah Tahun Depan 

UNGKAPAN HATI 14 

Pukul 05.30 yang Pilu 

KHAS 15 

Gereja Katoli Santa Maria de 
Fatima: Pesona Tiongkok Klasikjdi 
Pusat Metropolitan A 

BACA GALI ALKITAB 1? 

Kitab Amos: Amos 5f 14-27 

LAPORAN KHUSUS 16-17 

§ Ketika Perempuan Masih 

Dinomor 2 kan 
§ Akibat Budaya Timur 
§ Perempuan TidalHBoleh 

Kotbah di atas MTmbar 

' BINCANG-BINCANG 18 

dr. Handrawan Nadesul: Banyak 
Orang Beragama Tapi Tidak 
Bermoral 

PELUANG 18 

Achen: Bosan Menjadi Anak Buah 
JEJAK 19 
Jhon Wesley: Kesalehan Akal Budi 
PRO-KONTRA 20 
Bertentangankah Asuransi 
dengan Kekristenan 
MATA HATI 20 
KKR, KPI, KKI, yang Mana Dong? 
OPTIK 21 
Temu Kangen PDS dan Media Massa 
DISKUSI BUKU 22 
Ketuhanan Yesus Kembali Dirongrong 
KONSULTASI TEOLOGI 23 



DarlRedaksii 




PEMBUKAAN i4-REFORMATA 

Guna membekali umat Kristen 
dengan wawasan yang dalam 
mengenai arti berpolitik dalam 
perspektif kristiani, Institut 
Integrasi Iman dan Ilmu (i4), 
sebagai divisi khusus dalam 
pelayanan tabloid REFORMATA 
mengadakan program pendidikan 



PERLUNYA REKONSILIASI 
BANGSA INDONESIA 

Mengamati kondisi negara kita 
Indonesia, beberapa tahun ter- 
akhir ini sangat memprihatinkan. 
Begitu banyaknya tindakan ke- 
jahatan, penyalahgunaan obat 
berbahaya (narkoba), kerusuhan, 
berbagai penyakit yang ber- 
bahaya seperti misalnya AIDS/HIV 
dan SARS, kemiskinan absolut, 
penyalahgunaan kekuasaan 
dengan terjadinya KKN (Korupsi, 
Kolusi, dan Nepotisme), pe- 
langgaran hukum dan hak asasi 
manusia (HAM), berbagai krisis 
multi-dimensional hingga akhirnya 
tindakan terorisme di mana-mana 
dengan aksi peledakan bom di 
berbagai daerah, dan berbagai 
persoalan besar lainnya. Ke- 
semuanya itu menimbulkan dam- 
pak psikologis yang cukup berat 
di antara seluruh komponen 
bangsa dan negara ini, berupa 
kegelisahan, kekecewaan, kece- 
masan, ketakutan. Apalagi 
seringkali terjadi kekerasan di 
mana-mana. Bahkan juga kini 
telah terjadi semacam gap atau- 
pun "tembok pemisah" antara 
pemerintah dengan rakyatnya, 
yang menimbulkan kebencian 
dan apriori antara pemerintah dan 
rakyat maupun komponen atau 
unsur lainnya di negeri ini. Padahal 
negeri kita ini dahulunya terkenal 
aman, tenteram, damai dan 
sejaterah dengan masyarakatnya 
yang dikenal ramah-tamah, 
gotong royong yang didukung 
oleh potensi sumber daya alam- 
nya yang begitu melimpah 
sebagai berkat dan rahmat dari 
Tuhan. 

Karena itulah, kini dirasakan 
sangat perlu untuk dapat segera 
memperbarui kondisi bangsa dan 
negara ini ke arah yang lebih baik 
lagi untuk menyongsong masa 
depan yang cerah, dengan me- 
lakukan rekonsiliasi di antara 
seluruh komponen bangsa dan 
negara. Penting disadari bahwa 
perdamaian itu sangat perlu 
untuk bersama-sama memba- 



singkat non-gelar bersertifikat, 
yang bertempat di Jalan Sura- 
baya, Menteng, Jakarta Pusat. 

Kuliah perdana dilaksanakan 
pada tanggal 30 Agustus 2003 
lalu, yang diawali dengan 
kebaktian pembukaan yang 
dipimpin oleh Pdt. Bigman Sirait. 
Usai kebaktian, informasi leng- 
kap mengenai materi perkuliahan 



ngun kehidupan berbangsa dan 
bernegara ke arah yang lebih 
baik. Diperlukan juga pertobatan 
bagi seluruh komponen bangsa 
dan negara ini, sehingga tembok 
pemisah tadi dapat segera di- 
hapuskan. Selanjutnya, antara 
pemerintah dan rakyat kiranya 
dapat memiliki komitmen bersama 
untuk kembali membenahi dan 
memperbaiki kondisi negeri ini 
dengan tindakan transformatif. 

Ir. Agam K. Zebua 
Medan, Sumatera Utara 



INGIN MENJADI AGEN 

Saya sangat bersimpati 
dengan tabloid REFORMATA yang 
sudah ada di kota saya, Kupang. 
Melalui lembaga Increase, saya 
ingin menawarkan kerjasama 
dengan menjadi agen REFOR- 
MATA di wilayah Kupang dan 
sekitarnya, karena saya melihat 
REFORMATA banyak mendapat 
sambutan yang hangat di ka- 
langan masyarakat, teristimewa 
dari kalangan gereja. Saya sudah 
pernah menawarkan tabloid 
tersebut dan saya mendapatkan 
hampir 200 orang yang mau 
menjadi pelanggan tetap. Karena 
itu saya kembali mengulang 
permohonan saya untuk menjadi 
agen REFORMATA. 

Petrus_deta@yahoo.com 
Kupang 



TUNTUTUTAN GMKI JAKARTA 
SEKAITAN KONFLIK ACEH 

Segala tindakan kekerasan 
seperti penganiayaan, pem- 
bunuhan, pemerkosaan, dan 
pembantaian terhadap warga sipil 
di Aceh mengindikasikan bahwa 
pelanggaran-pelanggaran HAM 
pernah terjadi. Para pengungsi 
yang menderita batin akibat trau- 
ma juga merasakan penderitaan 
fisik akibat kekurangan pangan. 
Mereka tidak hanya berjumlah 
satu orang, melainkan tigapuluh 



ini disampaikan oleh Pemimpin 
Redaksi REFORMATA, Victor 
Silaen. 

Pendidikan non-gelar ini selain 
diikuti oleh seluruh karyawan 
tabloid REFORMATA, juga dihadiri 
sejumlah umat Kristen dari 
berbagai macam denominasi 
gereja di wilayah Jakarta dan 
sekitarnya. 

Program pendidikan yang 
dilaksanakan setuap Sabtu siang 
ini berlangsung rata-rata selama 
empat jam, terdiri dari dua paket. 
Paket A secara khusus mem- 
bicarakan masalah-masalah yang 
menyangkut kehidupan berpolitik 
ditinjau dari sudut iman Kristen. 
Sedangkan materi Paket B me- 
muat pelajaran mengenai Teo- 
logia Kristen. 

Di edisi kali ini, dalam Laporan 
Utamanya, REFORMATA men- 
coba menelisik lebih dalam ihwal 



ribu orang lebih yang memiliki ke- 
samaan dengan kita, yang selalu 
ingin hidup damai , bercanda- 
gurau. 

Sanitasi lingkungan di tempat 
penampungan yang sangat buruk 
sedang mengancam kelang- 
sungan hidup mereka. Terbakar- 
nya dan rusaknya sarana-sarana 
umum seperti ratusan sekolah 
dan bebrapa tempat pelayanan 
kesehatan, instalasi PLN, dan 
lainnya, menimbulkan kerugian 
yang besar. Sebab itu, pember- 
lakuan darurat militer di Aceh 
bukanlah cara yang tepat bahkan 
sangat merugikan. 

Penyelesaian kasus Aceh yang 
ditempuh melalui intervensi militer 
tersebut telah menghasilkan 
tindakan kekerasan, dan bukan 
perdamaian. Sebagai mahasiswa 
Kristen, kita dituntut untuk 
menyatakan perdamaian bagi 
negeri Aceh. Ada tertulis, Matius 
5:9: "Berbahagialah orang yang 
membawa damai, karena mereka 
akan diisebut anak-anak Allah"; 
Mazmur34:15b: "Carilah perda- 
maian dan berusahalah men- 
dapatkannya". 

Berangkat dari latar belakang 
di atas, Gerakan Mahasiswa 
Kristen Indonesia (GMKI) Cabang 
Jakarta menyatakan sikap dan 
menuntut: 1) TNI/Polri/TNA 
(Tentara Negara Aceh) GAM 
untuk mengurangi tindakan- 
tindakan kekerasan terhadap 
warga sipil Aceh yang tak 
bersalah; 2) Pemerintah RI dan 
GAM agar kembali ke meja 
perundingan untuk menyele- 
saikan konflik Aceh secara damai, 
sehingga GAM kembali ke dalam 
NKRI dan menerima otonomi 
khusus dari pemerintah RI; 3) 
Pemerintah RI segera memper- 
baiki kerusakan fasilitas-fasilitas 
umum dan menobati rasa trauma 
rakyat Aceh akibat perang; 4) 
Pemerintah RI agar lebih mem- 
perhatikan kebutuhan hidup para 
pengungsi di tempat penam- 
pungan; 5) Seluruh masyarakat 
Indonesia agar peduli terhadap 
saudara sebangsa dan setanah air 
di Aceh. 



penyebab peristiwa dibu- 
barkannya KKR Festival Bandung 
2003. Redaksi REFORMATA 
sengaja menurunkan salah 
seorang wartawannya, Albert 
Gosseling, ke Bandung. 

Perlu strategi khusus, rupa- 
nya, untuk bisa menggali data 
dan cerita dari beberapa nara- 
sumber yang diharapkan. Tidak 
mudah, soalnya ini sudah menjadi 
masalah yang agak sensitif untuk 
disoroti, utamanya bagi orang- 
orang yang terlibat dalam KKR itu. 

Sementara dalam Laporan 
Khusus, diangkat persoalan ke- 
kerasan yang dialami oleh kaum 
perempuan. Ada juga kisah pilu 
jemaat Gereja Isa Almasih Cilaku, 
Parung Panjang, Bogor, yang 
gedung gerejanya telah rata 
dengan tanah akibat dirusak 
massa. Bagaimana jelasnya, 
silakan membacanya. 

# REDAKSI 



Tim Kerja Diskusi Aceh 
Richman Patandung 
Badan Pengurus Cabang 
GMKI Jakarta 
Michael R. Dotulong 

SEKEDAR MASUKAN 

Saya ingin memberi masukan 
agar kiranya REFORMATA dapat 
mempelajari kelemahan dari 
tabloid-tabloid Kristen yang 
sudah ada, kenapa tidak bisa 
eksis? Sekian saja, terima kasih. 

Pasaribu, Cimanggis 

TUJUH TAHUN MENGALAMI 
KELUMPUHAN 

Sebelumnya saya mohon 
maaf, bila surat ini mengganggu 
dan menjadi beban bagi 
saudara seiman di REFORMATA. 
Nama saya Sugito, 29 tahun, 
menderita suatu penyakit yang 
hingga kini belum tersem- 
buhkan, yaitu tulang belakang 
yang sudah rusak sehingga 
membuat kedua kaki saya 
lumpuh total dan nyeri yang 
amat sangat pada tulang 
belakang. Saya sudah mende- 
rita selama 7 tahun belakangan. 
Saya berasal dari keluarga 
miskin, kedua orangtua saya 
sudah lanjut usia dan hanya 
bisa pasrah dengan keadaan 
saya ini. Dulu saya seorang 
muslim. Dalam keadaan lumpuh 
inilah saya menerima Yesus, 
tanpa ada yang memaksa. 
Abang-abang saya semua 
muslim yang fanatik. Saya harus 
berjuang untuk tetap memper- 
tahankan iman. 

Pada kesempatan ini, dengan 
kerendahan hati saya meminta 
tolong agar REFORMATA dapat 
memuat pergumulan hidup saya 
ini ke tabloid REFORMATA. 

Sugito 

Desa Dukuh Ngablak RT 03/ 
RW IX, Kecamatan Cluwok, 
Pati 59157 - Jawa Tengah 



Penerbit: YAPAMA, Pemimpin Umum: Bigman Sirait. 

Pemimpin Redaksi: Victor Silaen, Wakil Pemimpin Redaksi: Paul Makugoru, Redaksi Pelaksana: Binsar TH Sirait 
Staf Redaksi: Celes Reda, Daniei Siahaan, Albert Gosseling, Sekretaris Redaksi: Lidya Wattimena, Design Grafis: Rio Jonatan 
Kontributor: Gunar Sahan, Joshua Tewuh, Binsar Antoni Hutabarat, Tabita (Singapura), Nany Tanoto (Australia) 
Pemimpin Usaha: Greta Mulyati , Iklan: Greta Mulyati, Sirkulasi: Sugihono, Keuangan: Prima Agustina Novianti 
Distribusi: Zetly.Yoyarib, Riduan, Michael, Praptono, Transportasi: Handri, Langganan: Goty (Untuk Kalangan Sendiri) 



Saya No. 9 Kel. Gunung Sahari Selatan, Jakarta Pusat 10610, Telp. Redaksi (021)42883963-64, Pemasaran & Iklan- (021)42885649-50 
Faks: (021) 42883964, E-mail: reformata@yapama.org, Website : www.yapama.reformata.org, 
Rekening Bank: a.n. REF ORMATA, Lippo Bank Cab. Jatinegara Acc:796-30-071 30-4 



Keformata 

Menyuarakan Kebenaran & Keadilan 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



TLditoriati 



Keberagamaan AMROZI dan 
Keberagamaan Kita 



DALAM konteks ini, 
keberagamaan dapat 
diartikan sebagai cara-cara 
manusia, selaku homo orans 
(mahkluk beragama), dalam 
menghayati agama yang di- 
anutnya, baik sebagai pedoman 
hidup di dunia sekarang maupun 
sebagai penuntun jalan ke akhirat 
kelak. Mengacu pada konsep itu, 
maka keberagamaan manusia 
selaku homo orans sangatlah 
beragam corak dan bentuknya: 
ada yang dengan menggunakan 
akalnya (rasional), tapi ada pula 
yang menafikannya (irasional). 
Selain itu, masih ada yang lain: 
yang tidak menggunakan akalnya 
sama sekali, alias nir-akal 
(arasional). 

Apa beda ketiganya satu sama 
lain? Yang rasional, menganggap 
segala sesuatu bisa dicerna oleh 
akalnya. Salahkah? Tidak juga. 
Hanya saja, ia kurang lengkap. 
Memang, manusia diberi akal 
untuk berpikir: mencerna segala 
sesuatu agar semua bisa dipahami 
dengan tepat atau dijelaskan 
dengan logis. Tapi, karena akal 
manusia terbatas adanya, maka 
diperlukan daya yang lain yang 
memiliki sifat ilahi: iman. Lantas, 
apakah iman itu sesungguhnya? 
Ada banyak definisi, tentu saja, 
untuk menjelaskannya. Yang 
jelas, ia tak antirasional atau kon- 
trarasional. Sebaliknya, ia justru 
suprarasional. Artinya, ia tetap 
berada di wilayah rasio. Hanya 
saja, rasio yang satu ini tak ter- 
batas sebagaimana halnya rasio 
manusia. Itulah sebabnya, akal 
manusia tak bisa mencernanya 
dengan tuntas. Kendati demi- 
kian, sebagaimana halnya semua 
yang rasional, ia tetap memenuhi 
asas keteraturan, ketertiban, dan 
konsitensi. 

Didasarkan imanlah maka rasio 
manusia yang terbatas itu dapat 
ditersambungkan dengan rasio 
Allah yang tak terbatas. Karena 
itulah, alih-alih memaksa agar Dia 
berbuat begini atau bertindak 
begitu, iman justru meniscayakan 
manusia memiliki sikap tunduk, 
pasrah, dan ihklas tatkala ber- 
hadapan dengan-Nya. Sesung- 
guhnya, Ia Mahabesar, Al la h u 
akbar. Jadi, alih-alih meminta Dia 
selalu menuruti kehendak kita, 
justru kitalah yang harus se- 
nantiasa menyesuaikan diri 
dengan-Nya. Maka, jelaslah 
bahwa akal yang diberikan-Nya itu 
harus digunakan semaksimal 



mungkin — pun dalam beragama. 
Tapi, jangan lupa memadukannya 
dengan iman — agar seimbang 
sekaligus lengkap. Sebab, tanpa 
akal, manusia dungu — seperti 
binatang. Sedangkan tanpa iman, 
manusia sesat. 

Yang kedua, yang irasional, 
adalah orang yang menghayati 
agamanya dengan setengah 
rasional atau kadang-kadang saja 
rasional. Itulah sebabnya, jangan 
heran bila suatu saat keber- 
agamaannya nampak begitu 
ngawur, tak lazim, bahkan aneh. 
Tapi, di sisi lain, ia bisa juga sangat 
rasional, seolah sedang membuat 
kalkulasi dalam relasinya dengan 
Tuhan. Dengan begitu, ia jelas tak 
konsisten. 

Begitupun dalam keber- 
agamaan. Terkadang ia ter- 
kesan pasrah, terkadang 
justru ngotot. Dalam hal 
yang satu begitu teguh 
pendiriannya, dalam hal 
yang lain sangat mudah 
berkompromi. 
Sesungguhnya, 
Tuhan memang tak 
lebih dari sekedar 
"sesuatu" baginya. 
Karena itulah, maka 
Tuhan harus senantiasa 
menyesuaikan diri 
dengannya . 
Bukan 
sebaliknya. 

Sementara 
yang ketiga, 
yang arasional, 
ini memang 

berada di luar wilayah rasional. 
Jadi, orang dengan keberaga- 
maan seperti ini mungkin sekali 
menghayatinya dengan emosi 
yang meluap-luap. Ia cenderung 
fanatik dan ekstrim: bersedia 
melakukan apa saja, demi agama. 
Padahal, kalau ditanya, mengerti 
pun ia tidak sekaitan apa yang 
dilakukannya itu. Jadi, tak perlu 
berdebat mengapa ia melakukan 
ini atau itu. Karena, jawabannya 
niscaya selalu tak bisa dipertang- 
gungjawabkan — alias tak masuk 
di akal. 

Sekarang, kita semua harus 
bertanya: di manakah posisi kita 
sendiri dalam ketiga model 
keberagamaan itu? Bercerminlah 
pada Amrozi, sebelum menja- 
wabnya. Ia seorang teroris (dalam 
kasus Bom Bali, 12 Oktober 
2002). Lewat proses yang 
panjang, di pengadilan, akhirnya 
ia dijatuhi hukuman mati. Tapi, 



ck-ck-ck... Luar biasa, hebat betul 
Amrozi - the smiling terroristitu. 
Ia tersenyum menyambut vonis 
sang hakim. Kedua tangannya 
terangkat ke atas seraya menga- 
cungkan jempol. Bagi Amrozi, 
kematian yang dipercepat (oleh 
negara) itu seolah mempercepat 
langkahnya menuju ke surga. 
Itulah sebabnya, ia nampak 
bersukacita. Allahu akbar, Allahu 
akbar. Itulah keberagamaan yang 
patut dipuji: apa pun yang terjadi 
dalam hidup ini, semua dihadapi 
dengan syukur kepada Tuhan. 

Begitupun Imam Samudra, 
rekan Amrozi dalam gerakan 
terorisme di Bali itu. Ia, bahkan, 
jauh-jauh hari sudah mempro- 
klamirkan keyakinannya yang 




Imam Samudra dan Amrozi. Ngawur dan tak lazim 

teguh itu - sesuatu yang 
menunjukkan betapa seriusnya ia 
dalam beragama. 

"Buat apa malu?" jawabnya 
kepada Lulu, adiknya, suatu kali. 
"Saya kan tidak melakukan 
sesuatu yang zalim yang dilarang 
Allah. Justru jalan yang saya 
tempuh adalah jalan Allah." 
Betapa teguhnya Imam Samudra 
dalam beriman. Itu sebabnya ia 
hakul-yakin bahwa Allah berkenan 
kepadanya — tak peduli perbu- 
atannya justru dikutuk jutaan 
orang di seluruh dunia. Maka, 
ketika vonis mati sang hakim itu 
dibacakan, ia pun berteriak: 
"Allahu akbar, Allahu akbari" 
Serupa dengan Amrozi. Hanya 
saja, Imam tak tersenyum, 
karena sorot mata dan air 
mukanya memang selalu dingin. 

Amrozi dan Imam Samudra, 
keduanya merupakan contoh 
keberagamaan yang patut 



dipujikan - seandainya kita tak 
harus mencermati apa dan 
bagaimana substansi keyakinan 
keagamaannya itu. Serius dan 
teguh. Tapi sayang, keduanya 
goyah juga akhirnya. Karena 
ternyata, keduanya sama-sama 
mengajukan banding (bahkan 
kasasi, setelah upaya banding itu 
ditolak). Itu berarti, kalau bisa, 
kematian janganlah dipercepat. 

Apa gerangan yang terjadi? 
Mengapa sekarang kematian tak 
bisa dihadapi dengan kerelaan dan 
kepasrahan? Agaknya sekarang 
Amrozi dan Imam Samudra betul- 
betul mengggunakan akalnya. 
Itulah sebabnya, kini, hukum 
negara pun diterima - untuk 
diakali, kalau-kalau dapat diubah 
atau setidaknya di- 
tawar agar jangan 
terlampau berat. 
Padahal, 
sebelumnya, 
hukum negara 
itu "no" 
karena hukum 
agamalah yang 
"yes". 

Begitulah. 
Dulu irasional 
dalam bera- 
gama, sekarang 
ber-ubah menjadi 
sio-nal - dalam 
waktu cepat. Arti- 
nya, meski telah 
berbuat brutal, tapi 
tetap merasa diri 
diperkenan Allah — 
sehingga tak perlu 
mengaku salah. Tapi, para- 
doksnya, konsekuensi yang 
mengikuti perbuatan itu tak rela 
dihadapi. 

Itulah sikap rasional dan tidak 
rasional dalam menghayati hidup 
beragama. Keduanya menjadi 
satu di dalam keberagamaan, 
yang karenanya terkesan ngawur, 
tak lazim, bahkan aneh. Amrozi 
dan Imam Samudra jelas tak kon- 
sisten, dan karenanya tak patut 
dipujikan sebagai model ke- 
beragamaan yang ideal. 

Begitupun "sesepuh" mereka: 
Abu Bakar Baasyir. Selalu lantang 
menyebut Amerika sebagai "kafir" 
tatkala bicara di hadapan siapa 
saja. Tapi, telepon seluler buatan 
"bangsa kafir" itu dipakainya juga. 
Agaknya jelas, ketika mencap 
Amerika, ia bersikap tak rasional. 
Tapi, ketika berkomunikasi 
dengan alat yang canggih itu, ia 
bersikap rasional. Maka, tak heran 




VictorSilaen 

jika demikian pulalah sikapnya 
tatkala menyambut vonis sang 
hakim: "Empat tahun penjara. 
Tok-tok-tok!" Sebenarnya itu 
pun sudah ringan, begitu kata 
banyak pihak dan kalangan. Tapi, 
sang uztad menampiknya. Peng- 
adilan dunia itu "no way". Kalau 
begitu, mengapa harus banding? 
Jawabannya, karena sekarang 
Uztad Baasyir betul-betul pakai 
akal. Kalau pengadilan dunia yang 
"no way" itu masih bisa disiasati, 
agar hukumannya menjadi lebih 
ringan, mengapa tidak? Itulah 
sikap rasional dan tidak rasional 
yang menyatu di dalam ke- 
beragamaan sang Amir Majelis 
Mujahidin Indonesia itu. Ter- 
kadang begini, terkadang be- 
gitu, alias tak konsisten. 

Sesungguhnya, inkonsistensi 
dalam keberagamaan itu ada di 
dalam setiap agama. Artinya, 
boleh jadi banyak juga di antara 
kita (Kristen) yang serupa 
dengan Amrozi dan kawan- 
kawannya itu dalam menghayati 
hidup beragama. Terkadang 
rasional, sehingga ngotot men- 
dirikan partai politik dengan 
target menjadi penguasa - bah- 
kan orang nomor satu di republik 
ini. Tapi, terkadang bahkan 
sangat tak rasional, sampai- 
sampai hari kiamat pun diprediksi 
kapan akan tiba (bukankah Allah 
sudah mengatakan, dengan 
tegasnya, bahwa tak seorang 
pun tahu tentang hal itu?). 
Ketika bicara di mimbar, dunia 
dicela habis-habisan. Tapi, di 
dalam kehidupan sesehari, justru 
harta, gelar, dan aneka kenik- 
matan duniawi dicari dengan 
segenap kerinduan. Maka, doa 
dan puasa pun menjadi satu- 
satunya jalan perjuangan - 
karena aksi dan strategi di luar 
bait Allah dianggap tak kristiani. 
Padahal, sikap sedemikian justru 
mencerminkan keinginan jas- 
maniah yang begitu kuatnya 
menguasai diri: yang semata 
ingin mencari aman dan nyaman 
di dalam hidup ini dan di dunia 
ini. Tak lebih dan tak kurang. Dan 
karenanya, keberagamaan 
Kristen semacam itu dapat 
dikatakan tak lebih baik dari 
keberagamaan Amrozi dan 
kawan-kawannya. 



I Bang Repot 



Tentara Nasional Indonesia 
(TNI) merupakan elemen yang 
paling banyak melakukan 
pelanggaran hak asasi manusia 
(HAM) di Provinsi Nangroe Aceh 
Darussalam (NAD), berupa aksi 
pembunuhan, penculikan, dan 
perkosaan, dibandingkan Polisi 
Republik Indonesia (Polri) dan 
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 
sejak operasi militer diberlakukan 



tanggal 19 Mei 2003 lalu. 
Demikian dikemukakan Ketua Tim 
Ad Hoc Pelanggaran HAM Provinsi 
NAD Komnas HAM, MM Bitlah. 

Bang Repot: Pertanyaannya, 
kapan para pelanggar hukum dan 
HAM itu akan diadili dengan 
seadil-adilnya? Kalau tidak, sia- 
sialah berharap rakyat Aceh akan 
bersimpati kepada NKRI. 
Pertanyaan berikut: kapan 
operasi darurat militer itu akan 
dihentikan? Kalau tidak, sia-sialah 
berharap Pemilu 2004 dapat 
berjalan dengan baik di sana. 



Di hadapan para ulama di Tegal, 
Jawa Tengah, Wapres Hamzah 
Haz mengatakan Amerika Serikat 
adalah rajanya teroris. Menang- 
gapi pernyataan itu, jurubicara 
Departemen Luar Negeri Marty 
Natalegawa hanya bisa berharap 
agar hubungan RI-AS tidak 
menjadi tegang karenanya. 

Bang Repot: Susah, memang, 
kalau pemimpin bangsa-negara 
ngomongnya begitu. Padahal, 
kalau dikasih bantuan, apalagi 
dalam bentuk dollar, diterima 
juga, kan? 



pendanaan pendidikan terendah 
di dunia. Dibandingkan negara- 
negara ASEAN, Indonesia hanya 
mengalokasikan 7,3 persen dari 
APBN. Sedangkan Thailand, 
Malaysia, Singapura dan Filipina 
mengalokasikan 20 persen dari 
APBN-nya. Menurut perubahan 
UUD 1945 dan UU Sisdiknas, 
persentase minimal dana 
pendidikan adalah 20 persen. 

Bang Repot: Pantaslah kalau 
mutu manusianya juga rendah. 
Pantas juga kalau mutu para 
pemimpin dan elit politiknya setali 
tiga uang. Soalnya kurang diajar 



sih, alias kurang ajar. 
Amrozi dan Imam Samudra, 
keduanya terdakwa teroris di 
Bali, 12 Oktober 2002, akhirnya 
divonis hukuman mati oleh 
Pengadilan Negeri Denpasar, 
Bali. Tak disangka, keduanya 
ternyata mengajukan banding. 
Itu pun ditolak, sehingga lalu 
ajukan lagi kasasi. 

Bang Repot: Lho... katanya tak 
takut mati. Kok, sekarang, 
malah ingin menghindari 
kematian itu? Goyah, ya, 
imannya? Makanya, pakai otak 
dong 




Cnjinrgn Utama 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 




FESTIVAL Bandung yang 
dibubarkan paksa itu 
akhirnya menuai kontro- 
versi. Kemarahan massa yang 
berada di luar tempat acara me- 
maksa polisi menghentikan acara 
rohani itu. Dan panitia pun sedih, 
bukan hanya karena penghentian 
acara tapi juga oleh reaksi dan 
teror susulan. 

KKR yang diberi tajuk "Festival 
Bandung" itu akhirnya hanya se- 
paruh jalan. Pasalnya, KKR yang 
sedianya dilaksanakan 13-17 
Agustus 2003 dengan menda- 
tangkan Peter Yougren dari Ka- 
nada itu dihentikan oleh pihak ke- 
polisian pada tanggal 14 malam. 
Aneh memang, sebab seperti di- 
kemukakan John Simon Timo- 
rason, izin pagelaran rohani itu 
sudah dikeluarkan oleh Mabes 
Polri dan Polda Bandung. Tapi, 
mengapa Polwiltabes Bandung 
membatalkan 'kebijakan' institusi 
di atasnya? 

Kapolwitabes Bandung, Ko- 
misaris Besar Polisi Hendra Suk- 
mana, sebagaimana ditulis tabloid 
Gloria, edisi September 2003, 
mengambil kebijaksanaan itu 
karena alasan keamanan. "Prioritas 
kepolisian adalah keamanan," kata 
dia. Maka, melalui SK Kapolwil- 
tabes Bandung No. B 393/VII/ 
2003, izin Mabes Polri gugur 



dengan sendirinya. 

Benarkah situasi saat itu telah 
betul-betul membahayakan ke- 
amanan masyarakat Bandung? 
Seperti dilaporkan Koran Tempo 
(15/8), suasana di dalam dan se- 
putar Gelora Sapararua, tempat 
berlangsungnya Bandung Festival 
itu, sudah sangat panas. Pada 14 
malam itu, sekitar 3.000 massa 
KAMMI (Komite Aksi Mahasiswa 
Muslim Indonesia) mendatangi 
tempat acara yang dihadiri sekitar 
6.000 orang. Menurut sebuah 
sumber, kedatangan para maha- 
siswa itu didorong oleh per- 
nyataan MUI yang menuduh 
acara itu sebagai cara untuk me- 
narik pengikut. 

Ketegangan muncul ketika 
massa di dalam melagukan puji- 
pujian dengan suara keras meng- 
ikuti teriakan Peter sambil meng- 
angkat tangan. Kelompok KAMMI 
pun membalas dengan membaca 
doa keras-keras. Tak pelak, su- 
asana pun memanas. 

Tapi ketegangan itu mengen- 
dur bersamaan dengan turunnya 
sekitar 100 personil polisi. Massa 
di luar lapangan kemudian meng- 
irim utusan ke panitia, meminta 
acara dihentikan. Tim negosiator 
yang dipimpin Rizal Fadilah me- 
nemui Kapolwiltabes Bandung 
yang berada di lokasi bersama pa- 



nitia. Tapi, panitia ngotot melan- 
jutkan acara. Akhirnya, sekitar 
pukul 20.00, ketika suasana me- 
manas, Hendra Sukmana me- 
minta acara dihentikan. 

Iklan yang 'menipu' 

Bila saja tajuk acara tidak ber- 
nuansa netral, dalam arti keken- 
talan makna rohaninya sungguh 
ditonjolkan, barangkali acara itu 
tidak berbuntut duka. Jauh se- 
belum acara tersebut digelar, 
pihak panitia telah mempro- 
mosikan acara ini secara gencar. 

Tak main-main. Dalam brosur 
yang disebarkan, tertulis dengan 
jelas: "Semua Boleh Datang! 
Harapkan Mujizat!!!" Dilatar- 
belakangi oleh massa yang me- 
nyemut nampak potret beberapa 
orang yang disembuhkan. "Yang 
tuli mendengar! Yang buta me- 
lihat! Yang lumpuh berjalan!" 
Unsur atau simbol-simbol kekris- 
tenan sungguh tak tampak. Tak 
heran bila banyak pihak me- 
nuduh hal itu sebagai akal-akalan 
pihak panitia untuk 'menjebak' 
masyarakat. 

Ketertarikan massa akan hal- 
hal spektakuler memang dapat 
dimaklumi. Tetapi, alangkah ter- 
kejutnya lembaga ulama di Ban- 
dung, juga beberapa intelektual 
muslim lainnya - seperti PERSIS 
dan KAMMI - ketika tahu bahwa 
acara tersebut ternyata meru- 
pakan ibadah Kristen. 

Kontan, acara itu pun men- 
dapat reaksi keras mereka. Di- 
tambah berita yang menye- 
butkan, kalau ada minat besar dari 
umat muslim juga yang akan 
menghadiri Festival Bandung. 
Apalagi setelah pelaksanaan acara 
tersebut berkembang cerita 
bahwa ada seorang muslim yang 
naik ke panggung untuk menga- 
lami penyembuhan (baca REFOR- 
MATA edisi 6, hal 22). Semua 
kabar tadi jugalah yang pada 
akhirnya mendesak massa non- 
Kristen untuk berdemo di depan 



lapangan Gelora Saparua Ban- 
dung. 

Dibiarkan sendiri 

Pasca-acara yang dibubarkan 
itu, Simon Timorason sebagai ke- 
tua pelaksana acara merasa sung- 
guh disudutkan, baik oleh pihak 
massa yang menyerang maupun 
oleh pihak gereja sendiri. Ia 
merasa ditinggalkan sendirian 
menanggung ekses-ekses sosial 
yang ditimbulkan oleh KKR itu. 

Sementara menanggapi du- 
gaan bahwa panitia dengan seng- 
aja mengelabui massa, Simon 
dengan tegas mengatakan 
bahwa pihaknya telah lebih dulu 
menjelaskan bahwa acara itu 
sungguh merupakan KKR. Saat 
mengurus perizinan di Mabes Polri 
pun dipaparkan, bahwa Festival 
Bandung merupakan KKR untuk 
kalangan Kristen. Hal yang sama 
juga telah disiarkan kepada 
masyarakat luas melalui media 
massa. "Sebulan sebelum acara 
terlaksana, kami telah menga- 
dakan jumpa pers dengan meng- 
undang beberapa media cetak 
dan elektronik. Jadi, transparansi 
informasi perihal kegiatan rohani 
tersebut benar-benar telah kami 
lakukan," kata Simon. 

Sebenarnya tidak semua 
warga non-muslim menolak acara 
ini. Pihak Nahdlahtul Ulama, mi- 
salnya, mendukung acara ini 
dengan peran serta pemuda An- 
sor, untuk memberikan bantuan 
tenaga pengamanan yang ber- 
jumlah banyak. "Ini bukti, kalau 
KKR itu sama sekali tidak meng- 
gangu keimanan mereka," ujar 
Simon lagi. 

Inkonsisten 

Pembubaran acara tersebut 
disesalkan oleh praktisi hukum 
Hendardi. Menurut Ketua Per- 
himpunan Bantuan Hukum Indo- 
nesia (PBHI) ini, pihak keamanan 
seharusnya mempertemukan 
kedua belah pihak, baik dari pihak 



panitia penyelenggara maupun 
massa pendemo, guna menjelas- 
kan duduk persoalannya bahwa 
kegiatan KKR Bandung Festival 
adalah kegiatan yang resmi. Hal 
serupa diungkapkan pengacara 
Paulus R. Mahulette. Sebagai 
pemberi izin keamanan, kata ak- 
tivis gereja ini, pihak Polda Jabar 
harus memberikan jaminan ke- 
amanan kepada peserta KKR 
Festival Bandung hingga usai 
acara, tanpa menimbulkan insi- 
den apapun. 

Pernyataan mereka memang 
beralasan, sebab peristiwa itu bisa 
menjadi preseden yang kurang 
menguntungkan bagi perkem- 
bangan kehidupan keberaga- 
maan ke depan. Sekelompok 
orang bisa saja menghentikan ke- 
giatan agama kelompok lain 
hanya karena mereka merasa 
"kepentingan' mereka diganggu. 

Pihak kepolisian, ujar Hen- 
dardi, berkewajiban menganti- 
sipasi segala kemungkinan yang 
terjadi saat berlangsungnya KKR 
tersebut. Bila di kemudian hari pi- 
hak keamanan terpaksa harus 
membubarkan kegiatan tersebut, 
maka mereka harus memanggil 
kedua belah pihak, baik dari panitia 
penyelenggara maupun massa 
pendemo. Tujuannya, untuk me- 
nyelesaikan persoalan sekaligus 
menyatakan posisi aparat yang 
bertugas mengamankan keteta- 
pan hukum. "Dalam hal itu, harus 
berpihak pada izin pelaksanaan 
Bandung Festival yang sudah 
sesuai aturan perundang-un- 
dangan. Sehingga, tak seorang 
pun boleh membubarkannya." 

Urusan agama, sambung Hen- 
dardi, adalah hak asasi setiap 
penganutnya. Selama orang ter- 
sebut secara sukarela mengikuti 
kebaktian, itu sah-sah saja. Justru 
salah jika seseorang dipaksa me- 
nganut agama orang lain dengan 
intimidasi atau todongan senjata. 
^ Albert Gosseling 



KARYA SASTRA DUNIA 
DALAM PENTAS ROHANI 

Pada masa kini, terasa tidak mudah untuk mencari suatu tontonan seni 
yang berbobot, menghibur namun juga pada saat bersamaan mampu 
mengingatkan kita akan perilaku dan bagaimana hubungan kita dengan 
Tuhan, Sang Pencipta yang sesungguhnya memegang kendali atas 
seluruh kehidupan umat manusia. 

Inspektur Jenderal" merupakan karya sastra dunia terkenal dari Nikolaj 
Gogol, dipilih Hosanna Ministry, sebuah wadah pelayanan seni kreatif 
yang anggotanya terdiri dari anggota berbagai gereja, untuk dipentaskan 
di bulan Oktober 2003 ini. Sekalipun telah dipentaskan oleh beberapa 
Teater lainnya, seperti Teater Populer pimpinan Teguh Karya, Hosanna 
Ministry akan mengemasnya dalam bentuk Drama Musikal dengan 
menggabungkan unsur Drama, Musik, Paduan Suara dan Tarian. Hal ini 
akan menjadikannya berbeda dengan pementasan-pementasan 
sebelumnya dan menjadikannya tontonan yang menarik bahkan bagi 
mereka yang tidak terlalu dapat menikmati tontonan teatrikal yang umumnya 
berbobot dan serius. Selama 2,5 jam, penonton akan menikmati 70-an 
pemain yang akan muncul dalam pagelaran ini. 



Didukung oleh: 



o 

94YAKARTA 

HOTELS & RESORTS 



HOSANNA o , . „ . 

uimictdv o. rrienas 



"Inspektur Jenderal", mengisahkan tentang sebuah kota kecil di Jawa 
Tengah pada tahun 1930-an, dimana mulai dari pemimpin tertinggi sampai 
terendah, semuanya tak terkecuali, menyimpan aibnya masing-masing. 
Ketika tersiar kabar tentang akan datangnya Inspektur Jenderal dari Batavia 
yang ditugaskan menginspeksi daerah tersebut beserta kinerja aparat- 
aparatnya, maka segala carapun mereka legal-kan untuk menjaga tampang 
masing-masing agar tidak tercoreng arang kotor bikinan mereka sendiri. 
Namun, bagaimana bila setelah segala daya upaya dilakukan ternyata 
Inspektur Jenderal yang mereka sambut adalah Inspektur Jenderal palsu? 
Lalu, bagaimana dengan Inspektur Jenderal sesungguhnya, akankah ia 
datang? Dan celakanya, mereka memang tidak benar-benar 
mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Sang Inspektur 
Jenderal. 



Digarap secara komedi namun berkarakter dan diperkaya tembang- 
tembang baru karya Jonathan Prawira yang apik, juga mudah dinikmati 
setiap pendengarnya, maka Drama Musikal Inspektur Jenderal ini menjadi 
suatu karya yang layak untuk ditonton. Apalagi dikalangan rohani saat 
ini, boleh dikatakan hanya sedikit atau mungkin tidak ada pemain yang 
sungguh-sungguh berani menggarap sebuah karya seni berbobot untuk 
dijadikan konsumsi yang membangun bagi kita-kita yang menamakan 
diri pengikut Kristus. Mari, siapkan waktu tanggal 24-25 Oktober ini, ajak 
teman dan keluarga. Selamat menikmati dan "siapkan diri kita" untuk 
kedatangan Sang "Inspektur Jenderal". Akhirnya, ada satu pertanyaan 
yang perlu kita renungkan saat Anda membaca artikel ini, siapkah kita 
jika "Inspektur Jenderal" kita yang sesungguhnya datang??? 




menarahi 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Laporan Utama 




John Simon Timorason: 



"SAYA DITINGGALKAN SENDIRIAN!" 

Siapa pun akan marah serta kecewa, bila dituding salah tanpa dasar argumentasi yang jelas. Sementara, pihak yang mengetahui 
kebenaran diam membisu, bahkan terkesan ikut menekan. Air mata pun lama-kelamaan kering dan akhirnya habis. Mungkin karena 
terbakar amarah yang membara. Itulah yang terjadi dalam diri John Simon Timorason saat merekaulang drama pembubaran Bandung 

Festival 2003 oleh aparat kepolisian. 



TUTUR kata John Simon 
Timorason bernada duka. 
Air matanya menetes. 
Suara pun sedikit parau, dan 
sesekali terdengar keluhan. 
Ternyata, dia merasa disisihkan, 
terpinggirkan, oleh sikap sebagian 
para pemimpin gereja di Bandung. 
Belum lagi banyaknya tekanan dari 
kalangan non-Kristen. Terutama 
teror yang terus disampaikan via 
telepon. Tidak sekedar memaki, 
bahkan juga mengancam hendak 
membunuh. Hingga akhirnya, 
untuk dua pekan lamanya, 
Timorason terpaksa mengungsi, 
tinggal terpisah dari isteri serta 
anak, di salah satu hotel sekitar 
kota Bandung. 

Penyelenggaraan Bandung 
Festival 2003 telah menyisakan 
rasa tidak nyaman dalam hidup 
Timorason. Ketulusan hatinya 
berbuah penderitaan. Bayang- 
kan, ia sebenarnya bukan peng- 
gagas acara tersebut. Ide itu milik 
Bambang Wijaya, Ketua Pil 
nasional, dan rekan-rekan dari 
Jaringan Doa wilayah Jawa Barat. 
Timorason kebetulan menjabat 
sebagai Ketua Pil wilayah Jawa 
Barat, dan diminta sebagai fa- 
silitatornya. Karena dia mendapat- 
kan dukungan kuat dari rekan- 
rekan sepelayanan, maka keper- 
cayaan itu pun diterima. 

Lelaki berdarah Ambon ini 
memang cukup luas relasinya. 
Para pemegang kebijakan ke- 
kuasaan pun dikenalnya. Maklum, 
ia juga salah satu tokoh ma- 
hasiswa di era peralihan Orde 
Lama ke Orde Baru, sehingga 
banyak memiliki kawan yang saat 
ini banyak memegang jabatan 
publik. Selain memiliki hubungan 
dengan lembaga keagamaan 
lainnya. Itu sebabnya, Timorason 
mengetuai tiga jabatan penting 
saat ini. Antara lain, di Forum 
Komunikasi Kristian wilayah Jawa 
Barat, Badan Kerjasama Gereja- 
gereja se-Bandung, serta 
Persekutuan Injili Indonesia 
perwakilan daerah Jawa Barat. 

Meskipun ia merasa tersanjung 
dengan kepercayaan Ketua Pil 
nasional dan World Impact 
Ministry - mitra pelayanan Pil 
untuk penyelenggaraan Bandung 
Festival 2003 ~ tapi tak serta- 
merta Timorason menyang- 
gupinya. Pasalnya, pria yang sudah 
puluhan tahun menjadi warga 
Bandung itu tak yakin kalau ma- 
syarakat luas menyambut dengan 
positif nantinya. Atau setidaknya, 
menunjukkan sikap menghargai 
makna dari penyelenggaraan itu. 
Sebab ia tahu, karakteristik 
masyarakat Bandung beda 
dengan di Jakarta atau Medan. 
Pengadaan kebaktian dalam skala 
akbar, apalagi digelar di tengah 
lapangan terbuka - seperti 
Stadion Saparua - cenderung 
rentan menimbulkan keributan. 
Dan hal itu telah diutarakannya 
pada Ketua Pil serta rekan-rekan 
pelayanan dari World Impact 
Ministry. Termasuk pada Peter 
Youngren, sebagai pembi- 
caranya. 

"Tapi, Peter Youngren sendiri 
turut mendesak saya agar 
Bandung Festival 2003 tetap 
dilaksanakan. Walau sudah saya 




John Simon Timorason. Tidak takut. 



jelaskan bahwa karakteristik 
masyarakat Bandung beda 
dengan daerah-daerah lain di 
Indonesia. Termasuk rekan-rekan 
sepelayanan. Hingga akhirnya, dia 
(Peter) dan teman-teman 
mampu meyakinkan saya. Bebe- 
rapa pertanyaan Youngren yang 
paling menyudutkan saya adalah, 
apakah alasan kekuatiran tadi 
lebih didasari ketakutan untuk 
mewartakan Injil? Tentu saja, 
saya tidak takut! Saya menyadari, 
pewartaan Injil Yesus adalah 
tugas pokok! Itu sebabnya, saya 
menyetujui pelaksanaan KKR itu. 
Latar belakang inilah yang 
sesungguhnya mendorong ter- 
selenggaranya Bandung Festival 
2003. Tetapi, diberikan makna 
lebih dari harapan Youngren. 
Yakni, untuk menyatakan, bahwa 



September 2003 di Braga, 
Bandung. 

Ternyata perkiraan Timorason 
benar. Kebaktian yang didukung 
oleh Jaringan Doa wilayah Jawa 
Barat dan World Impact Ministry 
ini berdampak penolakan serius 
dari umat non-Kristen. Iklan KKR 
itu sendiri dianggap banyak pihak 
di luar kekristenan sebagai hal 
yang berkonotasi "menipu" ma- 
syarakat luas. Sebab terbukti, 
Bandung Festival merupakan 
wahana pewartaan Injil, bukan 
pesta seni. Plus, demonstrasi 
penyembuhan ala Kristen. Dan 
opini itu telah berkembang di 
Kota Kembang, sebagaimana 
didengar REFORMATA. 

Timorason juga mengakui isu 
tersebut. Opini yang negatif 
terhadap KKR itu mengakibatkan 



yang beragama Kristen, atau 
bukan. Ketegangan di luar sta- 
dion antara pendemo dan panitia, 
seolah dianggap sepi oleh mereka 
yang di dalam stadion. Apalagi 
ketika banyak mukjizat terjadi. 
Yang lumpuh berjalan, yang tuli 
mendengar. Suara sorak-sorai 
kesenangan pun mengarahkan 
perhatian mereka sebatas luasnya 
Stadion Saparua, tempat ber- 
langsungnya KKR. Timorason 
nampak bersemangat saat 
mengisahkan situasi tersebut. 
Seakan ia lupa, kalau saat itu me- 
rupakan masa-masa sulit yang 
dihadapinya. Tetapi, gelora itu 
melemah kembali, saat diingatnya 
kesulitan pasca Bandung Festival. 
"Youngren," kata Timorason, 
"sudah pulang ke Kanada. Tapi 
masalah pasca Bandung Festival 
tidak hilang begitu saja." 

Timorason mengaku banyak 
kecaman tertuju padanya. Entah 
dari sesama Kristen, pun yang 
lain. Menurutnya, tidak sedikit 
pemimpin gereja-gereja di Ban- 
dung yang menunjukkan sikap 
tak bersahabat. Semua itu karena 
persepsi yang berkembang 
mengarah tentang Bandung 
Festival berpotensi pada kete- 
gangan sekitar SARA. Apalagi 
Majelis Ulama Indonesia Wilayah 
Jawa Barat jelas menentang 
kegiatan itu. Bahkan, aktif dalam 
upaya penghentian kegiatan 
yang disinyalir berujung pada 
upaya Kristenisasi. Padahal, itu 
ketakutan yang tak berdasar. 
Timorason sendiri tak pernah 




Suasana acara KKR itu. Mereka mengalami kesembuhan. 



orang-orang Kristen sebenarnya 
punya hak untuk merayakan 
pengakuan iman di bumi Indo- 
nesia ini. Tentang hal itu, seturut 
arti dan makna dalam UUD 1945 
Pasal 29. Jadi, nilai-nilai demokrasi 
serta kebebasan berserikat dan 
beribadah, akan diuji melalui 
sukses atau tidaknya penye- 
lenggaraan Bandung Festival ini. 
Sekali lagi, inti acara ini - selain 
mewartakan Injil, tapi ia menolak 
kalau diartikan untuk kristenisasi 
— bertujuan mengingatkan 
semua orang, kalau umat Kristen 
berhak ibadah. Tanpa boleh 
dihalang-halangi, oleh siapa pun! 
Dan demi apa pun!" ujar Timo- 
rason dengan wajah sesal saat 
dijumpai REFORMATA, Sabtu, 6 



timbulnya gelombang aksi pe- 
nolakan oleh sekelompok massa 
yang mengatasnamakan pen- 
junjuhgan kemurnian ajaran 
agama tertentu. Akibatnya, pada 
hari pertama Bandung Festival 
digelar, ratusan massa langsung 
unjuk rasa. Tujuannya, minta 
acara itu dibubarkan. Bahkan, MUI 
ikut angkat suara dalam hal ini. 
Dalam situasi seperti itu, Timo- 
rason, selaku penanggung jawab 
kegiatan harus berhadapan 
dengan banyak pihak. Baik kepo- 
lisian maupun lembaga majelis 
ulama Kota Bandung. 

Sementara, yang menghadiri 
kebaktian akbar itu sendiri terus 
bertambah. Semua orang, dari 
pelosok Kota Bandung, entah 



berpikir kearah kristenisasi melalui 
acara tersebut. 

Diizinkan Mabes POLRI 

Bandung festival -yang 
mengambil tempat di lapangan 
Gelora Saparua Bandung— 
sebenarnya telah mengikuti pro- 
sedur perizinan seturut standar 
UU. Antara lain: izin dari Mabes 
Polri, serta Polda Bandung, pula 
koordinasi yang terus-menerus 
dengan jajaran dinas Poltabes 
Bandung. Sebab menurut 
Timorason, konsekuensi logis dari 
sikap taat tadi seharusnya adalah 
jaminan kenyamanan dan 
keamanan dari pihak kepolisian. 
Karena hal itu memang dijamin 
dalam UU. Tapi kenyataannya, 



semua itu gugur karena tekanan 
massa. Bahkan, upaya pemba- 
talan penyelenggaraan itu sendiri 
dilegalkan dengan kebijakan 
penarikan izin acara oleh pihak 
Polwiltabes Kota Bandung. 
Alasannya sama sekali tidak logis, 
karena pasaran saham di bursa 
efek Jakarta tergoncang akibat 
Bandung Festival. Ini ditekankan 
Timorason dengan nada penuh 
curiga pada obyektivitas pihak 
kepolisian. Ia kecewa, sebab 
keadilan dalam konteks tersebut 
memang tak ditegakkan. 

Kapolwitabes Bandung, 
Komisaris Besar Polisi Hendra 
Sukmana, sebagaimana dikutip 
Gloria, edisi September 2003, 
membenarkan pencabutan izin 
Bandung Festival oleh pihaknya. 
Hal ini disebabkan oleh perhi- 
tungan keamanan saat itu. 
Hendra menegaskan bahwa 
prioritas kepolisian adalah ke- 
amanan. Maka, berdasarkan itu 
pula kebijakan pencabutan izin 
ditempuh. Dengan SK Kapol- 
wiltabes Bandung no. B 393/VII/ 
2003, izin Mabes Polri pun gugur 
dengan sendirinya. Waiau ia juga 
mengakui, pihaknya hingga kini 
belum menemukan adanya upaya 
Kristenisasi dalam acara tersebut. 
Sehingga, boleh dikatakan, alasan 
utama pencabutan izin Bandung 
Festifal sesungguhnya adalah 
tekanan massa dan kekuatiran 
terjadinya gangguan keamanan. 

Timorason sendiri merasa 
telah berupaya menjelaskan 
tujuan acara tersebut sewaktu 
mengurus perizinan di Mabes Polri, 
bahwa Bandung Festival 
merupakan KKR untuk kalangan 
kekristenan. Untuk kalangan luas 
pun, sebulan sebelum acara 
terlaksana, penyelenggara 
mengadakan jumpa pers, dengan 
mengundang beberapa media 
cetak dan elektronik. Jadi, trans- 
paransi informasi perihal kegiatan 
rohani tersebut, menurut dia, 
benar-benar telah dilakukan. 
Dengan demikian, mestinya, 
pihak kepolisian taat hukum, 
dalam arti, tidak serta-merta 
mencabut izin hanya karena 
tekanan massa. 

Padahal, dalam kenyataannya, 
tak semua orang atau lembaga 
Islam yang bersikap tertutup 
terhadap umat lain itu. sebagian 
dari mereka justru dapat 
menerima penyelenggaraan Ban- 
dung Festival, bahkan men- 
dukungnya. Buktinya, Nahdlahtul 
Ulama atau NU, dengan peran 
pemuda Ansor-nya, secara pro- 
aktif memberikan bantuan 
tenaga pengamanan. Jumlah 
mereka yang terlibat dalam 
mengamankan acara tersebut 
puluhan banyaknya. Ini menjadi 
bukti bahwa KKR itu sama sekali 
tidak menggangu keimanan 
mereka. Pihak Polwiltabes 
Bandung mestinya juga 
mempertimbangkan faktor 
dukungan dari pihak NU tersebut. 
Begitulah idealnya suatu kebijakan 
beratasnamakan keamanan yang 
ditetapkan Polri, menurut 
Timorason, seraya menunjukkan 
surat pernyataan NU yang berisi 
dukungan itu. 

^ Albert Gosseling 



e 



Laporan Utama 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



KH. A. Hafizh Utsman: 



x Umat Islam di Bandung 
Sangat Toleran!" 



PENCABUTAN izin Bandung 
Festival oleh pihak Kepolisian 
Polwiltabes Bandung disinyalir 
akibat tekanan MUI Bandung. 
Apalagi, menurut kabar yang 
beredar di kalangan akar rumput 
umat Kristen menyebutkan, 
bahwa peran serta petinggi 
lembaga ulama tersebut sangat 
kuat. Bahkan di lapangan pun, 
mereka ikut terjun meng- 
usahakan penghentian ke- 
giatan KKR tersebut. Tetapi 
sejauh mana kebenaran berita 
itu tentu harus dipastikan oleh 
karena itu, semua pernyataan 
miring terhadap sepak terjang 
lembaga majelis ulama Bandung 
tersebut dibantah KH. A. Hafizh 
Utsman, Ketua MUI wilayah 
Jawa Barat. Hal ini ditegaskan- 
nya saat dihubungi REFORMATA 
via telepon, 9 September 2003, 
di Bandung. Menurutnya, umat 
muslim di Kota Kembang itu 
sangat toleran dengan belbagai 
acara keagamaan apa pun. Se- 
lama, isi kegiatannya tidak me- 
nyinggung kenyamanan iman 
mereka. Lalu faktor apa yang 
menyebabkan umat Islam di 
Bandung geram dengan pelak- 
sanaan Bandung Festival? 
Berikut kutipan wawancaranya. 

Benarkah, umat Islam di 
Bandung sangat tertutup 
pada segala bentuk ibadah 
umat lain? 

Tidak! Umat Islam di sini 
sangat toleran. Selama kegiatan 
tersebut tidak memasuki wilayah 
keimanan agama lain. Termasuk 
Islam. 

Kalau begitu, apakah itu 
artinya, Bandung Festival 
telah menyinggung wilayah 
keimanan kaum muslim? 

Masalah utamanya adalah, 
pelaksanaannya terlalu terbuka. 
Dan itu dapat menimbulkan ba- 
nyak interpretasi dari umat lain- 
nya. Termasuk umat Islam di sini. 
Sedangkan kegiatan itu sendiri 
sama sekali tidak menyinggung 
kami, umat muslim. Kami, sangat 
toleran dengan agama apa saja, 
termasuk Kristen. 
Atau, MUI sendiri melihat 
adanya upaya kristenisasi 
dari acara tersebut? 



Oh, sejauh ini, kami - MUI, 
maksudnya - sama sekali tidak 
menafsirkan acara Bandung 
Festival sebagai wahana kris- 
tenisasi. Dan tak pernah me- 
maknainya sejak awal untuk 
tujuan demikian. 
Tapi mengapa, MUI Kota 
Bandung begitu gigih untuk 
menghentikan acara ter- 
sebut? 

Begini, MUI Kota Bandung 
memang dimintai keterangan, 
masukan, atau pendapat dari pi- 
hak Poltabes Bandung meng- 
enai hal ini. Tentu saja, semua 
itu berkaitan erat dengan aksi 
massa yang menuntut peng- 
hentian kegiatan tersebut. Tapi 
kedatangan MUI itu sendiri sifat- 
nya sebatas memberikan per- 
timbangan. Sama sekali tidak 
berusaha untuk menghentikan. 
Apalagi intervensi kekuasaan 
terhadap pihak Polri. Sama sekali 
tidak benar. 

Lalu, apa usul MUI pada 
umat Kristen, berhubungan 
dengan kegiatan keagamaan 
semisal Bandung festival? 

Saya berharap, tema-tema 
kebaktian Kristen dalam ke- 
giatan seakbar Bandung festival, 
alangkah baiknya, kalau sisi-sisi 
sosial dan keadilan yang lang- 
sung kena-mengena dengan 
masalah masyarakat, dijadikan 
tema utamanya. Sebab dengan 
demikian, kita berarti peduli 
dengan masalah bangsa. Dan itu 
sangat aktual, bila diangkat se- 
bagai tema beriman, juga ke- 
rukunan beragama. 
Apakah pasca Bandung fes- 
tival ini nantinya akan meng- 
akibatkan ketidaknyamanan 
dalam hidup kerukunan an- 
tar umat beragama di Ban- 
dung? Khususnya, antara 
Islam dengan Kristen? 

Tidak! Sama sekali tidak ada 
hubungan antara Bandung fes- 
tival dengan kerukunan antar 
umat. Khususnya, Islam dengan 
Kristen. Saya pastikan sama 
sekali tidak akan mengganggu 
hubungan Islam-Kristen. Apalagi 
sampai menimbulkan kete- 
gangan Islam dengan Kristen di 
Bandung. Tidak akan hal itu ter- 
jadi. 

& Albert Gosseling 



Bukti Inkonsistensi Kepolisian 



BAGI Ketua Perhimpunan 
Bantuan Hukum Indonesia 
(PBHI) Hendardi SH, kebebasan 
menjalankan ibadah sesuai 
dengan agamanya masing-masing 
itu dilindungi dengan UU. Siapa- 
pun tidak berhak melakukan in- 
tervensi atau menganggu ja- 
lannya ibadah, termasuk dalam hal 
ini penyelenggaraan KKR yang 
berlabel Bandung Festival 2003. 

Pihak kepolisian, sebagai pen- 
jamin keamanan, selayaknya ber- 
kewajiban untuk mengantisipasi 
segala kemungkinan yang terjadi 
pada saat berlangsungnya KKR 
tersebut. 

Bila di kemudian hari pihak 
keamanan terpaksa harus mem- 
bubarkan kegiatan tersebut, 
maka mereka harus memanggil 
kedua belah pihak baik dari pa- 
nitia penyelenggara maupun 




massa 
pendemo. 
Tujuannya, 
untuk me- 
nyelesaikan 
persoalan. 
Sekaligus 
menyatakan 
posisi aparat 
yang bertugas mengamankan ke- 
tetapan hukum. Dalam hal itu, 
jelas berpihak pada izin pelak- 
sanaan Bandung festival, yang 
sudah sesuai aturan perundang- 
undangan. Sehingga tidak se- 
orangpun boleh membubarkan- 
nya. 

Urusan agama, sambung Hen- 
dardi, adalah hak azazi setiap 
penganutnya. Selama orang ter- 
sebut secara sukarela mengikuti 
kebaktian, itu sah-sah saja. Tin- 
dakan yang salah apabila sese- 



Pdt. Supriatno, Ketua PGIW Jawa Barat: 

Bandung Festival Catatan Buruk! 




Supriatno 

UPAYA membangun 
kehidupan rukun antar 
umat, bukanlah hal mudah. 
Pasalnya, pasca runtuhnya rezim 
Soeharto, kerukunan antar 
pemeluk agama menjadi sesuatu 
yang rawan. Sehingga menim- 
bulkan kesan, kalau selama 36 
tahun - di era Orde baru — se- 
sungguhnya tidak pernah ada 
kedamaian antar umat. Oleh 
sebab itu, kedamaian hidup lintas 
iman sangat diutamakan. Begitu 
juga halnya orientasi pelayanan 
PGIW Jawa Barat, sebagaimana 
dipaparkan oleh Pdt. Supriatno, 
Ketua PGIW Jawa Barat pada 
REFORMATA, 8 September 
2003, di jalan Dewi Sartika, Ban- 
dung. 

"Sejak dihentikannya Ban- 
dung Festival, reaksi kalangan 
Islam bersifat reaktif. Mereka 
segera melakukan acara ke- 
agamaan 'tandingan'. Dan itu 
sesungguhnya merupakan ba- 
hasa penolakan mereka terhadap 
Bandung Festival. Makna yang 
dapat kita pahami dari reaksi ter- 
sebut adalah, sinyal, bahwa 
upaya membangun kekokohan 
hidup tenggang rasa antar umat, 
khususnya Kristen dengan Islam, 
'semakin jauh'. Ini berarti, upaya 
membuka jaringan kerukunan 
harus dimulai dari awal kembali. 
Sebab tingkat kecurigaan mereka 
kembali meninggi. Walau secara 
formil PGIW belum diundang MUI 
untuk membicarakan hal ini. Saya 
pun tidak tahu, apakah MUI 
sendiri memahami acara Ban- 
dung Festifal tersebut sebagai 
produk PGIW atau tidak? Tapi 
yang jelas, ini menjadi catatan 
buruk! Apalagi media massa 
memberikan kesan, kalau acara 
tersebut merupakan kegiatan 
Kristen pada umumnya. Konse- 
kwensi logisnya, maka imej 
kekristenan secara keseluruhan 
jadi negatif." Demikian pendapat 



orang dipaksa menganut agama 
orang lain dengan intimidasi atau 
todongan senjata. 

Pula halnya dengan Paulus R. 
Mahulette SH, yang berprofesi 
sebagai pengacara. Menurutnya, 
penghentian secara mendadak 
acara Bandung Festival 2003 
oleh pihak Kepolisian, semestinya 
tidak perlu terjadi. Bila mereka 
memperhatikan secara detail me- 
ngenai permohonan ijin yang di- 



Supriatno pada REFORMATA. Be- 
rikut petikan wawancara REFOR- 
MATA dengan ketua PGIW Jawa 
Barat, Pdt. Supriatno M.Th.: 

Apa dampak langsung ter- 
hadap hubungan Kristen 
dengan Islam, pasca Bandung 
Festival? 

Yang jelas, citra kekristenan 
secara keseluruhan kemungkinan 
besar akan dipandang negatif 
oleh umat Islam. Padahal, Ban- 
dung Festival hanyalah produk 
dari salah satu kelompok dalam 
kekristenan. Dan tidak mewakili 
semangat berteologi seluruh 
umat Kristen. Sebab dalam ke- 
kristenan itu sendiri banyak aliran 
teologi yang berbeda. 
Mengapa Anda sampai pada 
kesimpulan demikian? 

Jelas, karena opini yang 
dibentuk banyak media massa 
tentang acara tersebut bernada 
negatif. Konsekuensi logisnya, kita 
harus berusaha keras untuk 
kembali membangun keper- 
cayaan pihak muslim, guna men- 
capai keutuhan hidup beragama 
di Bandung ini. 

Menyikapi perkembangan be- 
rita demikian, dan guna mem- 
bentuk kembali opini positif 
tentang kekristenan, apakah 
PGIW mengeluarkan per- 
nyataan resmi, bahwa Ban- 
dung festival merupakan 
kegiatan yang tidak difa- 
silitasi serta didanai PGIW? 

Tidak. Hal itu hanya memberi 
cela, serta menghasilkan banyak 
interpretasi tentang kerukunan 
dalam lingkup kekristenan sendiri. 
Serta tidak bijak. 
Berkembang pendapat, kalau 
istilah Bandung festival ber- 
sifat manipulatif. Karena 
tujuan utamanya adalah pe- 
wartaan Injil Yesus Kristus. 
Anda setuju dengan opini 
tersebut? 

Kami tidak memaknai istilah 
tersebut, sebagaimana opini di- 
luar. Memang kesan yang dapat 
dipahami siapa pun, bila mengikuti 
perkembangan pemberitaan me- 
dia massa, akan menyetujui pan- 
dangan tersebut. Tapi kami tidak. 
Hanya, menurut kami, sebaiknya 
sejak awal, pihak penyelenggara 
lebih bersifat terbuka. Katakan 
saja, kalau acara itu hanya di- 
selenggarakan bagi kalangan 
sendiri sehingga membatasi mi- 
nat kehadiran mereka yang non- 
Kristen. Sebab menggunakan 
istilah festival identik dengan 
kegiatan intertainment. Jadi, 
perlu lebih jelas, spesifik bagi ka- 
langan sendiri sehingga mem- 
batasi minat kehadiran mereka 
yang non-Kristen. Sebab meng- 
gunakan istilah festival identik 
dengan kegiatan entertain. Jadi, 
perlu lebih bijak dalam memilih 
judul. Gunakanlah istilah yang 
umum dipahami banyak orang. 
Kebaktian yah tulis aja kebaktian. 

ajukan oleh penyelenggara KKR 
tersebut. 

Apalagi, masih katanya, 
jajaran Polda Jawa Barat juga 
mengeluarkan ijin. Jadi harus 
konsisten bila memberi izin. 
Jangan kemudian mencabutnya. 
Apalagi tanpa dasar argumentasi 
yang berlandaskan kekuatan 
hukum. Kecuali dalam 
penyelenggaraannya 
mengandung unsur-usur yang 



Itu justru lebih elegan. Saya 
pribadi menganggap, setelah 
peristiwa ini, penyelenggara tidak 
memahami kultur Jawa Barat. 
Tapi, bagaimana PGIW me- 
mahami pencabutan izin 
yang sebelumnya sudah 
diberikan oleh pihak Polri 
sendiri. Adakah unsur ke- 
tidakadilan dalam masalah 
tersebut? 

Secara kultur di Jawa Barat, 
promosi keagamaan yang ter- 
buka bukan wilayah yang pas. 
Mungkin di daerah lain bisa. Tidak 
ada metode universal, begitu juga 
halnya dengan metode KKR. 
Meskipun dari aspek hukum legal, 
tapi etika bukan hanya masalah 
legal, tapi masalah kultur. Dan ini 
menjadi sinyal yang patut di- 
perhatikan kita semua, karena ke- 
mungkinan, esok kita akan 
mengalami kesulitan, bila hendak 
melakukan perayaan-perayaan 
ibadah di tempat terbuka. Seperti 
acara Bandung Festival. 
PGIW pernah bertemu lang- 
sung dengan pihak pe- 
nyelenggara, jauh sebelum 
peristiwa ini terjadi? 

Ya, saya bertemu langsung 
dengan pak Simon. Tapi dia 
bersikukuh pada izin yang telah 
dikantonginya. Akhirnya, saya 
hanya mempertanyakan kesiapan 
dirinya, kalau kemungkinan terjadi 
hal yang terburuk dari penye- 
lenggaraan tersebut. 
Tapi kabarnya, pihak penye- 
lenggara, khususnya pak 
Simon, sudah meminta PGIW 
untuk duduk sebagai pe- 
nasehat. Mengapa hal itu 
ditolak? 

Karena apa artinya posisi se- 
bagai penasehat, bila sekadar 
mengisi kekosongan struktural 
belaka? Sebab, kalau sebagai pe- 
nasehat, maka berhak ikut 
menentukan format KKR ter- 
sebut. Sementara, sebelum kami 
diundang pun, format itu sudah 
jadi. Sehingga tidak ada gunanya. 
Lalu, bagaimana idealnya 
format KKR, menurut Anda? 

Yang penting, hindari peng- 
gunaan istilah yang dapat me- 
nimbulkan banyak interpretasi. 
Apalagi hingga menimbulkan ke- 
curigaan dari umat lain. Juga, ha- 
rus diingat, jangan sampai, 
menimbulkan ketidaknyamanan 
hidup bersama antar gereja, se- 
bab seringkali, terjadi mobilisasi 
massa warga jemaat gereja te- 
tangga. Bukan jemat sendiri. 
Akhirnya, menimbulkan hidup 
bergereja yang tidak "sehat". Ini 
yang harus dihindari. Formatlah 
bentuk KKR yang tidak mem- 
proselitkan warga gereja lain, 
untuk menjadi warga gerejanya. 
Apalagi sengaja menyeberangi 
wilayah keimanan dari umat 
lainnya. Bijaklah! 

ef Albert Gosseling 



bertentangan dengan kepen- 
tingan orang banyak. 

Dalam fenomena penyeleng- 
garaan KKR di Bandung, Paulus 
melihat kondisinya sudah cukup 
memungkin untuk mengadakan 
perhelatan besar seperti ibadah 
KKR. Disinilah peran pihak keama- 
nan untuk menjamin pelaksanaan 
Bandung Festival dengan aman 
dan tertib tanpa pilih-pilih kasih 
dalam memberikan ijin. 

- Dan/e/ Siahaan 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Varia Qereja 




Sutiyoso: 

"Saya tidak mau 
agama yang satu 
dianiaya oleh 
agama lain!" 



PERRI Adakan Jumpa 
Pendengar Radio Heartline 



GUBERNUR DKI Jakarta Sutiyoso 
mengakui ledakan bom di Hotel 
J. W Mariott pada awal Agustus 
silam dilakukan oleh orang-orang 
yang tidak menginginkan situasi 
Jakarta kondusif. Pernyataan 
Sutiyoso ini disampaikan di 
depan ribuan peserta KKR 
(Kebaktian Kebangunan Roha- 
ni) Jakarta 2003 yang diseleng- 
garakan Stephen Tong Evange- 
listic Ministries International 
(STEMI), Minggu (7/9). 

"Dengan jumlah penduduk 
Jakarta yang besar sangat ber- 
potensi menimbulkan perilaku 
yang memicu konflik SARA, 
seperti peledakan bom malam 
Natal 2000. Saya tidak mau 
agama yang satu dianiaya oleh 
agama lain. Ini biasanya dilaku- 
kan oleh orang-orang yang tidak 
menginginkan Jakarta kondusif, 
aman, damai dan tenteram," 
kata mantan Pangdam Jaya ini. 

Lebih lanjut ia mengatakan 
kegiatan kerohanian seperti KKR 
mempunyai manfaat yang besar 
bagi pertumbuhan keimanan 
umat Kristen, khususnya yang 
berdomisili di Jakarta. 



KKR ini dihadiri lebih dari 
20.000 jiwa setiap malam (3-7 
September), yang berasal dari 
berbagai denominasi gereja. Di 
akhir acara, Pdt. Dr. Stephen 
Tong mengajak semua jemaat 
kembali ke gereja masing- 
masing untuk menjadi garam 
dan terang. 

Minggu pagi dalam Kebaktian 
HUT GRII (Gereja Reformed Injili 
Indonesia) XIV dan Wisuda II 
Institut Reformed, Pdt. Tong 
berkata: "Kami melihat kekris- 
tenan di Indonesia terdiri dari 
dua kubu besar yang tidak 
mewakili semangat Kristen 
sejati. Pertama, Liberal, yang 
menekankan aksi sosial dan tidak 
berpegang pada iman yang 
sejati, tak percaya kepada Yesus 
satu-satunya juruselamat. 
Kedua, Kharismatik, yang 
menekankan emosi, glosolali 
(bahasa lidah), dan merasa tak 
perlu doktrin. Di bidang 
administrasi kuat, uang banyak, 
organisasi sehat, tapi tak 
mempunyai iman yang sejati 
kepada Kristus. 

Binsar TH Sirait 




Baru-baru ini Persatuan 
Rekaman Rohani Indonesia 
(PERRI), meluncurkan album 
Kaset dan CD dan Jumpa Pen- 
dengar Radio Heartline. Acara ini 
digelar di Mal Diamond, Cikokol, 
Tangerang, Banten. 

Tampak hadir beberapa 
pimpinan perusahaan rekaman 
Kaset dan CD rohani yang 
menjadi anggota PERRI, antara 
lain Yayasan Siaran Kristen 
Indonesia (YASKI), Solideo, 
Hosana, Maranatha, Sola Gracia, 
Harvest Musik, Tiberias Music, 
YOBEL, YAMUGER, Chosen One, 
Menorah Record, dan majalah 
Bahana. 

Ruangan D-Best di mal itu, 
meski luas tapi terasa sempit. 
Pasalnya, jumlah pendengar 
Heartline yang datang ternyata 
membludak, diperkirakan 2.700 
-3.000 orang. Mereka dipuaskan 
dengan puji-pujian yang 
disampaikan oleh beberapa 
penyanyi, antara lain Nikita, Rea 



I Chirstian, Dessy Fitri 
dan Stafany de 
^ Keyzer. 

Dalam kotbah- 
nya, Pdt. Erastus 
Sabdono, Gembala 
Sidang GBI Reho- 
both, menegaskan 
bahwa umat Kristen 
selayaknya 
mewujudkan perbuatan kasih di 
tengah-tengah kehidupan 
berbangsa dan bernegara. 

"Kasih tidak cukup hanya 
dikatakan, tapi harus diwujud- 
nyatakan dalam hidup sehari-hari. 
Karena, seringkali kita menjadi 
orang Kristen yang hanya mencari 
keuntungan sendiri," ujarnya. 

Sementara itu, Edy Susanto, 
Ketua PERRI, lebih jauh menga- 
takan bahwa acara Jumpa 
Pendengar Radio Heartline ini 
terbilang sukses karena kerja 
keras panitia dan semua pihak 
yang telah membantu dalam 
perhelatan tiga kali dalam setahun 
ini. "Tahun yang akan datang 
kegiatan serupa akan digelar di 
Istora Senayan, sehingga semua 
umat Kristen bisa terpuaskan 
dalam menikmati lagu-lagu pujian 
kepada Tuhan Yesus Kristus yang 
dinaikan oleh artis-artis Kristen," 
ujar Edy Susanto. 

es Binsar T H Sirait 



HUT 100 Tahun GKPS Diisi dengan Ibadah Syukur 



MENYAMBUT HUT ke-100 
Gereja Kristen Protestan 
Simalungun (GKPS), GKPS se- 
Distrik VII mengadakan ibadah 
perayaan syukur, bertempat di 
Istora Senayan Jakarta, pada 
hari Senin (21/9) lalu. 

Rangkaian ibadah ini diisi 
dengan pementasan operet 
yang bercerita tentang penga- 
laman para penginjil ketika 



melakukan misi penginjilan di 
daerah Simalungun, Sumatera 
Utara. Menariknya, operet yang 
berdurasi selama satu setengah 
jam ini diperankan oleh pemuda- 
pemudi yang berasal dari GKPS 
sendiri. Sedangkan untuk refleksi 
teologis disampaikan oleh Ephorus 
GKPS Pdt. Dr. Edison A. Munthe. 

"Kami sengaja membuat 
operet ini semata-mata untuk 



mengingatkan kembali akan 
perjalanan misi penginjilan yang 
membuat perubahan drastis, 
khususnya di wilayah Simalu- 
ngun, baik dalam pendidikan 
maupun perbaikan taraf hidup 
masyarakat," jelas Edwin Purba, 
Sekretaris Panitia HUT ke-100 
GKPS ketika dikonfirmasi 
REFORMATA. 

Sebelum memasuki puncak 



acara di Istora Senayan, Jakarta, 
pihak panitia telah mengadakan 
beberapa kegiatan olahraga dan 
seni, antara lain gerak jalan, bola 
voli, sepakbola dan festival 
Paduan Suara se-Distrik VII yang 
meliputi Papua, Surabaya, 
Lampung, Kalimantan, dan 
Jakarta sebagai tuan rumah. 

^ Daniel Siahaan. 



Pertemuan Bulanan 

Bertempat di Plaza Bapindo, 
PD Lintas Media mengadakan 
pertemuan rutin bulanan. 
Pertemuan yang dikhususkan 
bagi insan pers Kristen ini 
menampilkan pembicara Pe- 
mimpin Umum Sinar Harapan 
H.B.L Mantiri dan matan Dirut 
TVRI Sumita Tobing. ms DS 

Pelatihan Jurnalistik 

Baru-baru ini Yayasan Bina 
Kasih kembali mengadakan 
seminar sekaligus pelatihan 
bagi para wartawan media 
Kristen, dengan topik "Pesan 
Kristiani Dalam Media Massa". 
Tampil sebagai pembicara 
adalah penulis novel sekaligus 
antropolog Amerika, Mrs 
Miriam Adeney. s DS 

I Pementasan Drama 

Sebuah pementasan drama 
j yang bertajuk "Inspektur 
i| Jenderal," akan digelar oleh 
j Hosana Ministry, 25 Oktober, 
1 di Graha Bhakti Budhaya, 
Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 
"Inspektur Jenderal" karya 
Nikolai Gogol ini diadaptasi oleh 
sutradara Varian Adiguna 
dalam bentuk drama musikal. 
Aransemen musiknya sendiri 
dipercayakan pada Vonty S 
dan Joseph S. Jaffar. *s DS 

Seminar Agama-agama PGI 

Bertempat di Pondok Remaja 
PGI Cipayung, Jawa Barat, 
Badan Penelitian dan Peng- 
embangan PGI meng-gelar 
seminar bertajuk "Globalisasi, 
Kebangsaan, dan Agama- 
agama di Indonesia". Pem- 
bicara yang hadir antara lain 
adalah Prof. Dr. Olaf Schumann 
dan Pdt. Dr. Eka Darmaputera. 
*s DS 



Dies Natalis dan Wisuda UKI 




Arkian Zebua, Purek I UKI 



PENINGKATAN kualitas sarjana 
yang dihasilkan, baik oleh 
universitas negeri maupun 
swasta, ke depan sangat 
diperlukan. Ini menyangkut 
kesiapan sumber daya manusia 
Indonesia dalam menyambut era 
perdagangan bebas AFTA tahun 
ini. Demikian disampaikan oleh 
Rektor Universitas Kristen 
Indonesia Atmonobudi Soebagio 
PhD di depan para wisudawan 
dalam acara Wisuda dan Dies 
Natalis UKI ke-50. 

"Perusahaan atau industri 
yang membutuhkan tenaga kerja 
atau staf baru akan memper- 
hatikan nilai transkrip dalam 
mempertimbangkan kemampuan 
atau keahlian. Perusahaan yang 
besar menuntut nilai IPK se- 



kurang-kurangnya 2,75 dengan 
nilai tertinggi 4.00," katanya. 

Sementara itu, menanggapi 
aksi demo mahasiswa UKI yang 
cenderung brutal, Purek I UKI 
Arkian Zebua mengatakan, dari 
pemantauan pihak kampus, 
sekitar delapan puluh persen 
mahasiswa yang ikut demo itu 
sifatnya hanya ikut-ikutan saja. 
Mereka tidak mengetahui arah 
yang diperjuangkan dan bagai- 
mana cara berjuang. 

"Mayoritas mereka mencoba 
mengepresikan kebebasan karena 
selama 30 tahun lebih tindak 
tanduk mahasiswa diawasi terus. 
Jadi wajar kalau sekarang, di era 
reformasi, mereka bersuara. Tapi 
sejauh itu masih dalam koridor, 
etika dan hukum yang berlaku," 
ujar Arkian. 

Lebih lanjut ia menjelaskan 
upaya pihak UKI dalam meng- 
eliminir tindakan brutal para 
mahasiswa ketika berdemo masih 
tetap dilakukan. Salah satunya, 
melalui kegiatan ekstra-kurikuler 
kampus yang sifatnya lebih kreatif 
dan dinamis. Selain itu, pihaknya 
lebih mengedapankan pentingnya 
diskusi-diskusi yang bersifat ilmiah 
bagi mahasiswa ketimbang harus 
turun ke jalan. 

& Binsar T H Sirait 



® 



Buku terbaru karya 
Pdt. Gilbert Lumoindong, S.Th 



SUARA BAGI BANGSA 




adalah buku kumpulan renungan singkat yang dimuat penulis 
di internet, sebagai responsnya terhadap 
peristiwa-peristiwa yang terjadi dari 
hari ke hari, baik di Indonesia 
maupun di belahan dunia lainnya. 
Tulisan-tulisan ini dimaksudkan untuk 
membuka cakrawala berpikir para 
"netter"-nya di dalam menyikapi berbagai 
peristiwa yang terjadi dan kaitannya dengan 
iman percaya mereka. 
Kini tulisan-tulisannya tersebut 
dibukukan, dengan harapan 
jangkauannya akan semakin luas. 



Cetakan ke-I: 2003. 14,5 x 21 cm 
xii + 114 hlm. 



Rp 20.000,- 

PT BPK GUNUNG MULI 

^mtriii Tzrkwwkfr, Toko t5(J(tt> Kri4im ~TtrUngl(ap 




Dapatkan segera di Toko Buku BPK GUNUNG MULIA dan cabang-cabangnya di Indonesia: 

JAKARTA: Jl. Kwitans 22-23 Jakarta 10420. Telp. 021-3901208. * SERPONG: Jt. Sektor I Blok C1 No. 3-4. BSD, Serpong 15310. 
Telp. 021-5377179. • BANDUNG: Komp. ITC Kosambi Kav. G-21 Jl. Baranangsiang ■ Bandung 40122. Telp. 022-4222182 
• SURABAYA: Jt. Genteng Besar 28 Surabaya 60275. Telp. 031-5342534. • MAKASSAR: Jl. Cendrawasih 267B-C-D Makassar 90134. 
Telp. 0411-853586. • MANADO: Komp. Ruko Matahari Plaza Blok C-11, Jl. Sam Ratulangi No. 22A Manado 95000. Telp. 0431- 
847726. • MEDAN: Jl. Nibung 11/78, Komp. Medan Plaza, Medan 20112. Telp. 061-4524157. • SALATIGA: Toko Buku WACANA 
MULIA, Jl. Diponegoro 52-60 (UKSW), Salatiga 50711. Telp. 0298-321212. (Dapatkan juga di Toko Buku Rohani Kristen lainnya) 



o 



Liputan 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Pleno Pokja JK-LPK dan Diskusi Pemilu 2004 




di i , t U 

BERTEMPAT di Tretes, Jawa 
Timur, 7-11 September lalu, 
Pokja JK-LPK (Kelompok Kerja 
Jaringan Kerja Lembaga Pe- 
layanan Kristen) - mitra PGI - 
menyelenggarakan sebuah 
pertemuan studi sekaligus rapat 
pleno tahunan untuk menyusun 
rencana kerja ke depan se- 
kaligus strategi berjejaring yang 
lebih efektif di antara lembaga- 
lembaga pelayanan Kristen di 
seluruh Indonesia. Di tengah 
rangkaian acara yang cukup 
padat, digelar diskusi bertema 
"Indonesia dan Pergulatan Politik 
Menuju Pemilu 2004" dan sub- 
tema "Peran Praksis Gereja dan 
LPK dalam Perjuangan dan 
Solidaritas mewujudkan Indo- 
nesia yang Adil dan Demokratis". 
Adapun narasumber diskusi 



tersebut adalah Daniel Sparringa 
dan Victor Silaen. 

Pemilu 2004 adalah pemilu 
yang untuk pertama kalinya akan 
menggunakan sistem pemilihan 
langsung terhadap presiden dan 
wakil presiden, di samping juga 
anggota Dewan Perwakilan 
Daerah. Dewan Perwakilan 
Rakyat dan Dewan Perwakilan 
Rakyat Daerah masih tetap ada, 
sedangkan Majelis Permu- 
syawaratan Rakyat akan di- 
bubarkan. Dilandasi UU Pemilu 
yang baru, tentu ada banyak hal 
yang perlu dicermati. Misalnya, 
tentang cara mencoblos: partai 
atau orangnya, atau kedua- 
duanya? Inilah, antara lain, hal 
yang perlu dipahami gereja- 
gereja untuk kemudian dapat 
disosialisasikan kepada umatnya. 
Dengan tujuan, agar benar- 
benar siap dalam menyambut 
pemilu mendatang secara cerdas 
dan bertanggungjawab. Selain 
itu, agar Kristen dapat menyikapi 
berbagai persoalan dan konstelasi 
politik di tengah kehidupan 
bernegara dan berbangsa secara 
lebih arif dan kritis. 

ms Victor Silaen 



Usia Harapan Hidup Penduduk Indonesia 70 Tahun 



BERDASARKAN sebuah data, 
usia harapan hidup penduduk 
di Indonesia mencapai angka 70 
tahun dan populasinya men- 
duduki peringkat ke-4 setelah 
RRC, India dan Amerika. Mena- 
riknya, dari jumlah tersebut lebih 
banyak wanita berumur panjang 
ketimbang pria. Hal ini dikemu- 
kakan oleh Dosen Fakultas Ke- 
dokteran UKRIDA Jakarta, Dr. 
Indriani K. Sumadikarya, MS dalam 
sebuah seminar yang diseleng- 
garakan oleh Yayasan Tabitha, di 
Jakarta, baru-baru ini. 

Lebih lanjut Dr. Indriani meng- 
atakan, salah satu faktor pe- 
nyebab proses penuaan yang 
dialami oleh masyarakat per- 
kotaan adalah gaya hidup manusia 
modren. Ini dapat dilihat dari pola 
makan dan penggunan berbagai 
sarana penunjang. 

"Biasanya ini terjadi pada 
masyarakat berekonomi me- 
nengah ke atas. Ketika ber- 
pergian mereka pada umumnya 
menggunakan mobil, bus, kereta 
api dan pesawat terbang. Ini 
menyebabkan tubuh kurang 
bergerak, akibatnya organ tubuh 
vital seperti jantung dan pem- 
buluh darah serta sistem per- 
nafasan kurang terlatih baik 
sehingga menimbulkan berbagai 
penyakit," jelasnya. 



Menyangkut masalah pola 
makan, wanita lulusan pasca sar- 
jana UI di bidang Fisiologi ini, 
mengakui pola makan manusia 
masa kini cenderung mengkon- 
sumsi makanan yang berlebihan. 
Parahnya jenis makanan yang di- 
konsumsi lebih banyak meng- 
andung lemak ketimbang unsur 
serat. Pola makan yang demikian, 
cenderung mempermudah ter- 
jadi obesitas (kegemukan), 
diabetes, penyakit darah tinggi, 
kanker usus, kelebihan kolestrol 
serta penyakit jantung koroner. 

Di lain pihak, kondisi ling- 
kungan yang sudah carut marut 
juga turut mempengaruhi proses 
ke arah penuaan, apalagi bagi 
masyarakat yang tinggal disekitar 
lingkungan kawasan industri 
besar. 

"Pembangunan berbagai 
proyek industri disisi lain ternyata 
menimbulkan berbagai polusi 
yang mengganggu. Ironisnya 
kegiatan industri ini juga dapat 
memberikan dampak negatif 
terhadap kesehatan," jelas wanita 
kelahiran Bogor 2 Oktober 1949. 

Menutup paparannya, Indri- 
ani yang juga menjabat Ketua 
Lembaga Penelitian, UKRIDA 
memberikan cara-cara merawat 
kondisi tubuh yang baik men- 
jelang akhir kehidupan khususnya 



bagi para manula (manusia lanjut 
usia) seperti, pemilihan tempat 
tidur yang cocok, pemberian 
bantuan makan dan mengatasi 
gangguan tidur 

Ingin membuat rumah duka 

Sementara itu, General 
Manager Yayasan Tabitha Handy 
S. Prawirasatya mengatakan 
memasuki usia ke 35 tahun dari 
yayasan yang bergerak secara 
khusus di bidang pemakaman ini, 
pihaknya berencana membuat 
sebuah rumah duka. 

"Kami berencana akan mem- 
buat sebuah rumah duka. Karena 
terus terang banyak anggota 
kami yang mengeluhkan kenapa 
yayasan Tabitha tidak membuat 
sebuah rumah duka sendiri," kata 
Handy. 

Rencananya yayasan yang 
memiliki anggota sekitar 23.000 
diseluruh wilayah DKI Jakarta ini, 
akan membangun rumah per- 
semayaman jenazah ini di ka- 
wasan Gunung Sahari Jakarta 
Pusat. Dalam master plannya, di 
tanah seluas 1200 meter akan 
dibangun rumah duka dengan fa- 
silitas dua belas ruangan. 
Bangunan bertingkat tiga ini 
letaknya bersebelahan dengan 
GKI Gunung Sahari Jakarta Pusat 
«sr Daniel Siahaan,Celes Reda. 



Melalui Kristus, namai Jadi Nyata! 



"Dan semuanya ini dari Allah, 
yang dengan perantaraan 
Kristus telah mendamaikan kita 
dengan diri-Nya dan yang telah 
mempercayakan pelayanan 
pendamaian itu kepada kami. 
Sebab Allah mendamaikan dunia 
dengan diri-Nya oleh Kristus 
dengan tidak memperhitungkan 
pelanggaran mereka. Ia telah 
mempercayakan berita pen- 
damaian itu kepada kami." 
(II Kor 5: 18-19) 

Seribu satu usaha dilakukan 
anak manusia dari mulai gerakan 
rukun tetangga sampai United 
Nation Organitation (UNO-PBB) 
untuk mendamaikan dunia. Tapi 
nyaris tak ada hasilnya. 

Berbagai buku psikologi 
mencoba memberikan solusi. 
Tapi masalah tidaklah selesai 
karena bila pada saat yang ber- 
samaan, orang mengabaikan 
Kristus Yesus Tuhan yang men- 
jadi jawaban yang sejati. Ke- 
matian Kristus di kayu salib telah 
mencabut akar dosa yang meng- 
akibatkan munculnya pertikaian, 
keributan, kerusuhan. Akar dosa 
yang merenggut perdamaian 
dari kehidupan Anak Allah. 

Manusia dicipta dalam ke- 
sempurnaan yang luar biasa. 
Dosa meluluhlantakkan semua- 
nya. Tetapi itu kembali dicabut 
oleh Kristus di kayu salib. Ia 
memperdamaikan kita yang 
berdosa dengan Allah yang suci. 
Allah yang suci tidak mungkin 
bersekutu dengan manusia yang 
berdosa. Dan jika Allah yang suci 
memalingkan wajahnya dari 
manusia berdosa, maka apa 
yang diharapkan dari manusia 
berdosa? Tidak ada! Manusia 
tidak lagi mempunyai harap, ke- 
kuatan, pegangan. Habislah dia 
dalam kehabisan anak manusia. 
Manusia mereka-reka, meran- 
cang struktur bangun damai, 
tetapi semuanya itu semu dan 



palsu serta tidak mempunyai ke- 
kuatan apa-apa. Manusia tidak 
mempunyai kemampuan cukup 
untuk itu. Ia tidak mampu me- 
nerjemahkan kata damai apalagi 
mengaktualisasikannya dalam 
kehidupannya. Karena itu kita 
harus kembali belajar bagaimana 
Kristus memberi pengharapan 
luar biasa. 

Kita tidak mungkin berdamai 
dengan Allah yang suci, karena 
kita berdosa. Kitapun tidak akan 
bisa membasuh diri kita sendiri 
supaya menjadi suci. Bagaimana 
mungkin air kotor membersihkan 
pakaian kotor? Jika pakaian kotor 
ingin dibersihkan maka yang 
diperlukan adalah air bersih. Jika 
manusia berdosa mau lepas dari 
dosa, hanya dibutuhkan manusia 
yang tidak berdosa dan manusia 
seperti itu tidak ada, kecuali Allah 
dalam Yesus Kristus yang telah 
menjadi manusia. Ia masuk ke 
dalam daging dan darah. Itulah 
sebabnya mengapa kedatangan, 
kematian Kristus di atas kayu salib 
menjadi titik sentral dari pada 
perdamaian, sekaligus peng- 
harapan anak manusia. 

Dalam pengharapan, manusia 
kembali kepada sumber yang 
sejati sehingga ada harapan akan 
damai. Ia kembali kepada sumber 
sejati sehingga ia mengerti arti 
damai. Ia datang kepada sumber 
yang sejati sehingga manusia 
mempunyai kekuatan untuk ber- 
damai. Ini penting karena kita pa- 
da hakekatnya diwarnai berbagai 
hal yang salah. Damai kita adalah 
damai yang semu, yang terbatas 
pada situasi dan waktu. Tetapi 
dengan Kristus yang menda- 
maikan kita dengan Allah, ada 
kekekalan perdamaian yang luar 
biasa. 

Kematian di kayu salib menjadi 
sebuah pengajaran sekaligus 
pengalaman di dalam batin kita 
tentang bagaimana Allah ber- 
damai dengan kita. Bagaimana 



Anda dapat berdamai dengan 
orang lain kalau Anda sendiri tidak 
mengerti apa itu damai? Atau 
tidak memahami pengalaman da- 
mai? Jadi Kristus yang sudah men- 
damaikan kita dengan Allah men- 
gajarkan kita dengan membuat 
pengalaman di dalam batin yang 
sangat kuat, sehingga dengan 
pengalaman itu, kita boleh maju 
di dalam hidup kita dengan ber- 
damai dengan orang lain di sekitar 
kita. Dengan demikian kita me- 
miliki kekuatan di dalam hidup kita 
untuk melakukan apa yang Tuhan 
kehendaki. 

Melalui kematian Kristus di 
kayu salib, damai bukan lagi men- 
jadi mimpi atau harapan kosong. 
Damai menjadi sesuatu yang pasti 
jika kita di dalam Kristus. Kematian 
Kristus menjadi kunci damai itu. 
Peganglah itu, miliki itu maka da- 
mailah hidup Anda. 

Perdamaian menjadi impian 
kita, kedamaian dapat menem- 
patkan kita di atas tahta keba- 
hagiaan. Tanpa kedamaian tak 
akan ada tahta kebahagiaan. 
Anda boleh memiliki jutaan bah- 
kan milyaran rupiah uang, ribuan 
rumah yag paling mewah, tentara 
yang luar biasa, tetapi jika damai 
tidak ada di dalam hati, nasi ayam- 
pun bisa menjadi kerikil tajam. 
Sebaliknya, jika damai di dalam 
hati memuat kesukacitaan yang 
luar biasa, nasi putih dan garam 
terasa nikmat. Bukankah yang 
penting bukanlah apa yang Anda 
makan, tapi bagaimana nikmatnya 
memakannya? Bukankah yang 
paling penting bukan di hotel atau 
dimana Anda tinggal, tapi adakah 
ketenangan disana? Bukankah 
yang penting bukan berapa ba- 
nyak yang Anda miliki, tapi berapa 
puasnya hidup ini? 

Ada satu kata yaitu damai. Ka- 
rena itu damai menjadi sesuatu 
yang indah yang diberikan Kristus 
kepada kita dengan cuma-cuma. 
Bagaimana mungkin kita mem- 



belakanginya atau melupakan- 
nya? Ada masalah di dalam hidup- 
mu? Jangan hanya berkata, 
"Tuhan tolong aku!" Atau ber- 
teriak hanya untuk mendapatkan 
yang indah dalam hidupmu. Bila 
demikian maka Anda sungguh 
menghina dan tidak mengerti 
belas kasihan Tuhan. 

Berdamailah dengan Dia 
dengan pertobatan. Kata per- 
tobatan adalah kata yang sangat 
sering dan kuat dikumandangkan 
oleh Kristus. "Bertobatlah karena 
kerajaan Allah sudah dekat!" 
Bahwa orang sakit sembuh, itu 
merupakan hal kecil bagi Kristus 
karena orang matipun dibang- 
kitkan-Nya. Karena itu, yang 
menjadi kepentingan yang paling 
penting di dalam hidup yang 
terpenting adalah damai sejah- 
tera. Cara memperolehnya? 
Berdamai dengan Allah men- 
ciptakan perdamaian di dalam da- 
mai kita, membangun keba- 
hagiaan melintasi seluruh batas 
yang terbatas. 

Karena itu, jangan pernah 
menyerah hanya karena di 
rumahmu ada masalah. Jangan 
pernah menyerah hanya karena 
hubungan suami-istri yang ter- 
ganggu. Jangan pernah me- 
nyerah hanya karena anak-anak 
menimbulkan malapetaka me- 
nurut ukuranmu, tetapi me- 
nyerahlah kepada Kristus dan 
berkata, "Tuhan ampunilah aku!" 
Berdamailah di dalam kesadaran 
yang penuh itu, maka Ia akan 
mengajarkan apa kata damai. 
Dengan damai kamu dapat 
menghadapi masalah dan men- 



jadi damai yang indah yang Anda 
dambakan. Tanpa Kristus tak 
mungkin ada damai. Kristuslah 
jawaban atas kerinduan Anda 
akan damai yang sejati. 

Sangat menyedihkan jika 
Kristus dianggap hanya bisa me- 
nyembuhkan luka yang di luar 
saja. Sesungguhnya Yesus jauh 
menyembuhkan yang ada di 
dalam, yang terhilang dan tidak 
mengerti damai. Sangat me- 
nyedihkan jika orang meng- 
identifikasikan Kristus hanya 
sekadar bisa memberikan uang 
yang dibutuhkan. Yesus sangat 
kaya, namun bukan uang tapi 
damailah yang dihadiahkan-Nya. 
Kalau hati Anda damai, sakitpun 
tak masalah, miskinpun bukan 
persoalan. Berapa indah ke- 
bahagiaan yang ada padamu, 
tak ada yang dapat mengambil 
darimu, bahkan di saat Anda 
dianiaya Anda tetap merasakan 
kebahagiaan. 

Kristuslah yang mendamai- 
kan. Karena itu, kembalilah 
kepada-Nya. Kita yang mengaku 
percaya kepada Kristus, ber- 
damailah di dalam hidupmu. 
Sebagai agen-agen perda- 
maian, kitalah yang harus me- 
mulainya. Datang dan mewarnai 
kehidupan ini, mengajarkan 
damai sejahterah yang menjadi 
pengharapan setiap anak ma- 
nusia. Berikan kepada mereka 
penghiburan sejati, bukan 
barang imitasi. Dengan demikian 
mereka tahu bahwa Yesus Kris- 
tus pendamai yang sejati, yang 
mendamaikan, dengan me- 
numpahkan darah-Nya sendiri. 



SEGERA TERBin, 



IKUTI JUGA PELAYANAN PAMA LAINNYA: 



Program Radio: \ 
RPK 96.35 FM 
setiap Senin pk. 22.00 
"Perspektif Kristiani" dan 
setiap Jumat, pk. 05.00 
"Embun Pagi" 



Seri Khotbah Populer: .. 
dalam bentuk buku. 

_|l 

Program TV: | 
TRANS TV I 
setiap Sabtu ke II | 
pk. 06.30 | 
Program Website:| 
www.yapama.org 

y 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Resensi 



Ihwal Kekristenan yang Bukan untuk Orang Iseng 



O 



INILAH 



LAH buku yang niscaya 
mendorong kita untuk lebih 
bersemangat dalam menjalani 
kehidupan ini, walau topan dan 
badai senantiasa mengancam. Isinya 
mudah dicerna, karena buku ini 
memang bukan sebuah karya ilmiah 
yang dipenuhi teori-teori dan 
konsep-konsep yang membuat 
kening mau tak mau berkerut ketika 
membacanya. Meski demikian, isi 
buku ini sarat pengetahuan dan 
wawasan yang bermakna- 
bermanfaat. terutama tentang hal- 
ihwal kehidupan memikul salib dan 
mengikut Kritus dengan setia sampai 
akhir. 

Buku ini ditulis oleh Mike 
Nappa, seorang penulis yang karya- 
karyanya telah menjadi buku terlaris. 
Ia juga presiden sekaligus pendiri 
Nappaland Communications, Inc., 
sebuah organisasi media yang 
berpusat di Colorado. Hingga kini, 
ia sudah menulis lebih dari dua lusin 
buku, dan beberapa di antaranya 
menjadi bestseller. Di samping itu 
ia juga menjadi mitra penulis untuk 
buku-buku bestseller lainnya, 
seperti Basic Christian Beliefs dan 
Family Nights. Aktivitas lainnya 
adalah menjadi pembicara untuk 
program-program di seputar 



INTIMATE PRAISE 4 WORSHIP 




33EP 



Ya Tuhan Jadikan/ah 
Diri ini stagai 
Pembawa damai-Mu 
Dimana ada keputusasaan 
Biarlah diriku datang 
Membawa harapan 

Yang sedih dihibur 
Yang lemah dikuatkan 
Yang berbeban berat 
diangkatkan 
Makna dari syair ini sarat dengan 
kesediaan diri untuk mengabdi pada 
Allah secara utuh. Pengabdian yang 
siap merugi, baik waktu, tenaga, pun 
harta. Suatu kerelaan berlandaskan 
keyakinan pada kebenaran Injil 
Yesus Kristus. Cerminan ideal dari 
seorang murid Yesus yang sejati. 
Sekaligus wujud nyata cinta juga 
kasihnya pada Allah. Tepatnya, 
pembuktian kemauan melakukan 
firman Tuhan. 

Nilai-nilai dalam syair itu pun 
mengandung semangat mengangkat 
sesama. Mengangkat sesama yang 
terperosok dalam "lubang 
keputusasaan". Mengangkat 
mereka yang jatuh, karena hilang 
harapan. Mengangkat yang lelah 
percaya pada Allah, dan kemudian 
menguatkan. Tidak sekedar 



keluarga dan pernikahan. 

Buku ini. intinya, mengatakan 
bahwa kekristenan bukanlah untuk 
orang iseng. Ia, sebaliknya, 
memerlukan kesungguhan dan 
keberanian dengan semangat yang 
berkobar-kobar. Itulah Kristen sejati, 
seperti Paulus dan Petrus dan ribuan 
orang dari jemaat mula-mula. Tidak 
suam-suam kuku dan tidak setengah- 
setengah dalam berkomitmen. 
Pendeknya, setiap jam dari kehidupan 
kita harus dipersembahkan kepada 
Allah, tak peduli berapa pun harga 
yang harus dibayar. 

Buku ini terbagi menjadi enam 
bagian, ditambah dengan pendahuluan 
dan epilog. Setiap bagian terdiri dari 
beberapa bab, yang masing-masing 
merupakan artikel dengan pokok 
bahasan serupa: tentang keberanian - 
dalam berbagai bidang atau persoalan 
hidup. Bagian pertama berjudul 
"Mengikuti Tuhan dengan Semangat 
yang Berkobar-kobar". Di dalamnya 
ada tiga artikel yang membahas 
keberanian untuk berdoa, untuk 
berpikir, dan untuk menyembah. 
Bagian kedua, dengan judul "Harga 
yang Harus Dibayar", berisi empat 
artikel yang membahas tentang 
keberanian untuk memberikan 
segalanya, untuk melayani, untuk 



memimpin dan mengikuti, serta untuk 
berkata tidak kepada diri sendiri dan 
orang lain. 

Bagian ketiga berjudul "Wujudkan 
Semangat Anda yang Berkobar-kobar 
dalam Bentuk Tindakan". Di 
dalamnya terdapat lima artikel yang 
masing-masing membahas keberanian 
untuk menjadi orang Kristen di rumah, 
di tempat kerja, di komunitas kita 
sendiri, pada waktu santai, dan ketika 
sedang sendirian. Bagian keempat 
diberi judul "Kelemahan dan 
Kekuatan". Isinya adalah tiga artikel 
yang mengulas masalah keberanian 
untuk bersandar kepada Tuhan, untuk 
melipatgandakan karunia dan talenta 
yang kita miliki, dan untuk melangkahi 
kemampuan sendiri, serta untuk 
mengambil risiko. 

Bagian kelima, dengan judul 
"Kegagalan adalah Suatu Peristiwa. 
Bukan Seorang Manusia". Bagian ini 
memuat tiga artikel, tentang 
keberanian untuk mengambil risiko, 
untuk mengampuni diri sendiri dan 
orang lain, serta untuk memilih sikap 
terhadap keadaan sekitar. Terakhir, 
bagian keenam, berjudul "Ketika 
Ucapan Juga Diwujudkan dalam 
Tindakan". Ada tiga artikel di 
dalamnya, masing-masing membahas 
keberanian untuk berharap, untuk 



Heidy Diana 

Belajar Mengerti Sesama 

Judul album : Perhiasan Ganti Abu 

Penyanyi : Heidy Diana 

Executive produser : Yusuf & Jendy Gozali 
Produser : Hosea Avent Christie 

Arranger : Frank Pangkarego dan Ataw 



kesadaran, dan semangat sesaat, 
tapi menjadi gaya hidup sesehari dari 
murid Yesus. Dalam pemahaman ini 
juga, kita memahami arti syair tadi, 
yang sengaja dikutip dari album rohani 
Heidy Diana. 

Syair di atas sekaligus pula 
sebagai catatan kaki dari judul album 
rohani perdana Heidy, yang berjudul 
Perhiasan Ganti Abu. Perhiasan 
merupakan sesuatu yang bernilai, 
sehingga selalu diburu manusia. 
Sebab, dengan memilikinya, 
seseorang menjadi lebih percaya diri. 
Merasa tinggi derajatnya. 
Konsekuensi logis dari gaya hidup 
seperti ini adalah cara memandang, 
menilai, antara seorang dengan yang 
lain, melulu berdasarkan standar 
materi. Bahkan, sangat ber-potensi 
mengutamakan keinginan sendiri, dan 
mengabaikan kepentingan sesama. 
Tentu saja, bagi seorang murid Yesus, 
perhiasan bukan segala-galanya. 
Tidak menjadi pusat hidup. Dengan 
demikian, kerelaan berbagi rasa 
dengan sesama terus di-kedepankan. 
Oleh sebab itu, pere-nungan diri, 
merupakan hal utama bagi seorang 
murid Yesus. Tujuannya, agar seluruh 
karya, tetap rasional. Karena iman 
yang sejati, harus mampu 
dipertanggung jawabkan dengan 
rasional. Bukan emosional. Untuk 
mnggambarkan situasi ter-sebut, 
maka, abu, dijadikan sim-bolnya. 
Dalam Alkitab pun, abu selalu 
diandaikan sebagai suatu penyesalan. 



5 

i 





Tanda mengaku salah atas segala 
ketidaktaatan terhadap Allah. Situasi, 
di mana diri siap dibaharui, baik 
pikiran, pun perkataan. Hingga pada 
akhirnya, mengakibatkan kesadaran 
dalam diri seseorang, untuk belajar 
memahami keadaan sesama. Itulah 
gaya hidup yang seturut teladan 
Yesus. Dan sikap memuliakan Allah 
yang sejati. Karena, memuliakan 
Allah, harus mewujud melalui karya 
berbagi rasa dengan sesama. 

Perhiasan ganti abu - dalam 
pengertian diatas tadi - harusnya 
menjadi dasar teologi liturgika gereja 
saat ini. Karena tanpa sadar, lagu- 
lagu gereja, serta perkembangan 
teologianya, cendrung mengagung- 
kan sisi perhiasan. Memuja kesuk- 
sesan. Dan menetapkan keber- 
hasilan hidup, bahkan dianggap pula 
bukti diberkati Allah, bila memiliki 
banyak materi. Tanpa sadar, gaya 
hidup yang dihasilkan kemudian 
berpusat pada harta, kuasa, serta 
kemauan sendiri. Sedangkan pen- 
deritaan, dianggap akibat dosa. itu 
sebabnya, bila sakit tak sembuh juga, 
maka melulu diartikan sebagai bukti 
masih bercokolnya dosa. Padahal 
belum tentu bukan? Perhatikan, 
banyak sekali lagu-lagu rohani yang 
sifatnya mengagungkan kesenangan 
rohani sendiri, dan sedikit sekali 
bercerita tentang arti serta makna 
mengikut Yesus. Oleh sebab itu, 
Diana, melalui albumnya yang 
perdana ini, hendak mengarahkan 



Keberanian r 

menjadi 

ORANG A 



tetap gigih, dan untuk mengasihi 
- tidak peduli apa yang terjadi. 

Buku ini tergolong baik. 
Karena, meski tidak tergolong 
ilmiah, namun dilengkapi juga 
dengan catatan acuan yang 
ditempatkan di bagian 
belakang. Catatan ini agaknya 
bisa juga dianggap sebagai 
daftar pustaka, bagi pembaca 
yang ingin memperdalam 
pemahamannya tentang isi 
buku ini. Menariknya, di 
dalam setiap bab terdapat 
semacam kata-kata mutiara 
dari orang-orang terkenal 
atau yang dipetik dari 
Alkitab. Didesain secara 
khusus, dalam sebuah 
kotak, kalimat bernas nan 
indah itu nampak memikat 
untuk dilihat. 

jef Victor S i hi c n 



Judul: Keberanian Menjadi Orang Kristen 

Sub-judul: Memasuki Suatu Kehidupan Rohani yang 

Berkobar-kobar 

Penulis: Mike Nappa 

Penerbit: Metanoia Publishing 

Cetakan : Pertama, 2003 

Tebal Buku : xiii + 295 halaman 




pemahaman kita untuk lebih memahmi 
tujuan panggilan mengikut Yesus. 
Mari, kita kembangkan nyanyian 
syukur seperti yang Heidy Diana 
nyanyikan berikut ini: "Ya Tuhan 
jadikanlah Diri ini sftagai Pembawa 
damai-Mu. Dimana ada keputus- 



asaan, Biarlah diriku datang 
Membawa harapan. Yang sedih di- 
hibur. Yang lemah dikuatkan Yang 
berbeban berat diangkatkan". 

*f Albert Gosseling 



Perenungan akan kasih penyertaan 
Yesus, mampu mengubah, membaharui 

hati serta pikiranseseorang. Dan 
konsekwensi logisnya, bakti pada Allah 
pun melibwa^^ijas diri. Heidy 
Diana «ngekspre^^n semji 
keberadaan hidup barunya melalui 

setiap syair dalam album rohani 
perdananya ini. Adajpai kesalafan, 
penrjjggjp, serta pengagungan akan 
Yesus Kristus. 




keterangan lanjut tentang kaset serta CD-nya. juga pelayanan Heidy Diana. 
hubungi ibu Welly 021 -7662423 



Ordner (LAF) 
Magazine File 
Letter Tray 

Dapatkan segera Harga Khusus w 

Anthracite Grey 




Anthracite Grey 

New Colour 



Baritek 



bino 



Bisa didapat di: 
Toko Buku /ATK/ Supermarket / Hypermarket. 
Kelapa Gading: (021) 4507929, 4507930, 4535021 
ITC Mangga Dua: (021) 6017025 - 7029 - 7030 
Wisma 46 Kota BNI: (021) 2515278, 2514734 
Kuningan Area: (021) 521 0785 



0 



Gereja ^Masyarakat 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



MIKA dan Penikan landak 

Gelar Pelatihan Guru Fisika dan Matematika 



TTUMNG 0URU R»* OM* MflBW* 




Bupati Landak bersama instruktur fisika dan matematika. Kembangkan SOM 
melalui pendidikan 



YAYASAN MIKA bekerjasama 
dengan Pemerintah 
kabupaten Landak meng- 
adakan pelatihan para guru fisika 
dan matematika se kabupaten 
Landak pada 6 hingga 8 Sep- 
tember silam. Pelatihan yang 
diselenggarakan di SMU Kristen 
Makedonia, Plasma II Ngabang ini 
mendatangkan pakar di kedua 
bidang ilmu tersebut. Untuk mata 
pelajaran fisika hadir Presiden 
Olimpiade Fisika Indonesia Dr. 
Yohanes Surya PhD bersama 
Ketua Fisikawan Indonesia Dr. 
Masno Ginting, MSc.APU. Semen- 
tara untuk mata pelajaran ma- 
tematika didatangkan pakar dari 
Singapura, Thio Lay Hoon di- 
bantu Iris Lee serta penerjemah 
Daltur Rendakasiang. 

"Kita pilih kedua mata 
pelajaran fisika dan matematika 
karena itulah pilar dan dasar untuk 
ilmu-ilmu lain. Juga karena prestasi 
siswa dalam kedua mata pelajaran 



ini rendah," kata Bupati Landak 
Drs. Cornelius saat membuka 
pelatihan yang diikuti 30 guru 
matematika dan fisika ini di Aula 
Kantor Bupati. 

Pelatihan ini, lanjut Cornelis 
merupakan perealisasian salah 
satu program dasar Pemkab 
Landak yaitu Pengembangan 
Sumber Daya Manusia melalui 
pendidikan. "Kalau tidak di- 
cerdaskan, dia tidak akan bisa 
menguasai alam, termasuk isi di 
dalamnya," ujarnya. 

Sementara menurut Sugi- 
hono Subeno, gagasan untuk 
menggelar pelatihan ini bermula 
dari kerinduan untuk mendorong 
percepatan kemajuan masya- 
rakat, khususnya generasi muda 
kabupaten Landak. "Kita ingin 
mengejar ketertinggalan, bukan 
hanya dari Jakarta tapi juga dari 
dunia luar. Kita membawa ibu 
Thio, ahli matematika dari Singa- 
pura yang juga penerbit serta Pak 



Yohanes dan Pak Masno agar pola 
pikir masyarakat di kabupaten 
Landak bisa maju dan kalau perlu 
melompat," kata Ketua MIKA (Misi 
Kita Bersama) yang biasa disapa 
Yuke ini. Diharapkannya, meski 
hanya dua hari, hasilnya tak kalah 
dengan bila dilakukan berbulan- 
bulan. 

Pendekatan kontekstual 

Seperti diharapkan Ketua 
Pelaksana Pelatihan Drs. Dolsius, 
pelatihan ini membekali para guru 
agar mereka sanggup menyajikan 
materi pelajaran yang terkait 
dengan realitas yang dihadapi 
oleh para siswa. "Selama ini anak 
dipaksa mengetahui apa yang 
dipelajarinya, bukan mengalami 
apa yang dipelajarinya. Hal ini 
harus dirubah. Kita ingin agar 
materi yang diberikan itu sesuai 
dengan dunia nyata siswa dan 
mendorong siswa membuat 
hubungan antara pengetahuan 
yang dimilikinya dengan pe- 
nerapan dalam kehidupannya," 
katanya. 

Melalui sharing metodologis 
dengan pakar di bidangnya, guru 
mendapatkan dasar pengalaman 
untuk mengajar fisika dan 
matematika yang menyenangkan 
bagi para siswanya. Dengan 
demikian kedua mata pelajaran 
'kering' ini tidak lagi menjadi 
pelajaran yang ditakuti. 

Pemisahan materi pengajaran 
dengan dunia sehari-hari itulah 
yang menurut Masno Ginting 
menjadi salah satu penyebab 
ketidaktertarikan siswa terhadap 
kedua mata pelajaran ini. "Padahal 
banyak prinsip-prinsip fisika yang 



bisa kita pelajari dari alam sekitar 
kita. Misalnya mengapa ban mobil 
dibuat dari karet dengan udara 
di dalamnya sedangkan roda 
kereta api terbuat dari besi baja? 
Jadi guru harus kreatif dalam 
mengaitkan teori dan ke- 
nyataan," ujar Masno. 

Sementara menurut Dr. 
Yohanes Surya, PhD, kekeringan 
pemelajaran kedua mata pe- 
lajaran itu bermuasal pada 
keterikatan siswa pada rumusan- 
rumusan baku yang harus dihafal. 
"Kunci untuk menyelesaikan soal- 
soal fisika bukan pada rumus- 
rumusnya tapi pada pengertian 
akan konsep-konsep dari soal-soal 
yang disodorkan. Yang penting 
hasil, bukan rumus," kata 
Yohanes. 

Sebulan sekali 

Menindaklanjuti pelatihan ini, 
MIKA dan Pemkab Landak be- 
rencana akan mendatangkan se- 
orang doktor fisika untuk meng- 
adakan pelatihan pada setiap 
bulannya. "Setelah setahun, para 
guru pasti mampu menyajikan 



pelajaran fisika secara menarik dan 
menyenangkan. Dengan demi- 
kian prestasi siswa pun ter- 
angkat," kata Masno. 

Hanya, seperti ditegaskan 
Pdt. Bigman Sirait pada acara 
penutupan pelatihan itu, dituntut 
keseriusan dan kedisiplinan para 
guru dalam mengikuti pelatihan 
ini. "Sekali saja dia absen, dia 
tidak boleh ikut pelatihan ini lagi. 
Kita harus sungguh-sungguh 
dengan masalah pencerdasan 
bangsa ini," kata pendiri Yayasan 
MIKA ini. 

Para guru yang berkesem- 
patan hadir pada kesempatan ini 
mengungkapkan rasa syukurnya 
atas pelatihan semacam ini. "Saya 
senang karena dipekenalkan 
dengan metode-motode yang 
lebih hidup dan tidak mem- 
bosankan. Tentu bagus sekali bila 
kesempatan semacam begini 
terus dilakukan," harap Silvester 
Daniel, guru Fisika sebuah sekolah 
negeri di Mandor, kabupaten 
Landak. 

*S Paul Makugoru. 




Agar Tak Jadi Momok di Kalangan Siswa 



NCF 

Memberdayakan Kesehatan Masyarakat 



BOLEH jadi para guru, 
khususnya mata pelajaran 
fisika dan matematika - se 
kabupaten Landak kecewa. 
Pasalnya, dari sekitar 60 siswa 
SMU hasil didikan mereka yang 
pada 6 September itu meng- 
ikuti lomba mata pelajaran 
tingkat SMU tak satupun 
mampu mengerjakan soal 
dengan benar. Alhasil, hadiah 
yang rencananya akan diberikan 
bagi para pemenang - masing- 
masing uang Rp. 500 ribu 
beserta tropy kepada juara 
pertama, Rp. 300 ribu bagi 
pemenang kedua serta Rp. 150 
ribu bagi pemenang ketiga - 
terpaksa disimpan kembali oleh 
panitia untuk kesempatan 
perlombaan periode men- 
datang. 

Mereka boleh saja kecewa. 
Tapi itulah realitas yang harus 
ditanggapi dengan aksi nyata. 
Prestasi para siswanya, 
khususnya dalam dua mata 
pelajaran itu sangat rendah. 
Seperti dituturkan pula oleh 
bupati Landak Drs. Cornelis, 
tingkat penguasaan mata 
pelajaran fisika dan juga 
matematika memang sangat 
rendah. "Saya mencari siswa 
untuk ikut test masuk fakultas 
kedokteran, tapi sekian ratus 



tumbang dan itu semua lantaran 
gagal dalam mata pelajaran 
matematika dan fisika," katanya. 
"Kita siap membiayai anak masuk 
geologi asalkan bisa kembali 




bekerja di Landak. Tapi bisakah 
mereka lulus test bila matematika 
dan fisika mereka rendah?" 
tantangnya. 

Kreativitas guru 

Ada banyak alasan mengapa 
prestasi siswa dalam dua mata 
pelajaran itu sangat rendah mulai 
dari materi pelajaran itu sendiri 
yang kebanyakan berisi hapalan, 
rumus dan angka-angka sampai 
pada minimnya fasilitas peng- 
ajaran. 

"Itu semua bukan ketiadaan 
sarana dan prasarana mengajar, 
tapi karena situasi belajar 
mengajar yang jauh dari 
menyenangkan," kata Dr. Masno 



Ginting. Salah satu faktor yang 
menyebabkan kedua pelajaran 
"kering" ini menjadi bertambah 
kering adalah karena penampilan 
guru yang tidak bersahabat. 
"Banyak guru matematika dan 
fisika yang dahinya selalu 
berkerut dan cemberut. Anak 
pun merasa stres karenanya," 
Masno mengilustrasikannya. 
Padahal, seperti dikemukakan 
juga oleh Dr. Yohanes Surya, 
fisika sungguh ilmu yang meng- 
gairahkan dan merangsang 
orang untuk selalu kreatif. 

Untuk keluar dari keru- 
wetan itu, Masno meminta para 
guru fisika untuk memahami 
betul konsep yang berada 
dibalik rumus-rumus fisika serta 
menjelaskannya dengan mela- 
kukan kontekstualisasi materi. 
Anak bisa diajak keluar kelas, ke 
pantai misalnya, dan mem- 
pelajari gejala atau realitas alam 
yang berhubungan dengan, 
materi yang sedang dipelajari." 
"Jadi kuncinya ada pada 
kreativitas guru," katanya. 

Bagaimana melahirkan guru 
yang selain menguasai materi 
ilmu yang akan diajarkannya 
sembari terampil mengajarkan- 
nya kepada para murid tentu 
menjadi beban dan tugas 
bersama penyelenggara pen- 
didikan. 



NURSES Christian Fellowship 
(NCF) wilayah Asia Pasifik 
mengadakan penyuluhan ke- 
sehatan masyarakat di Kabupaten 
Landak, Kalimantan Barat. 
Penyuluhan itu dimulai dari 
pemaparan soal seluk beluk 
kesehatan masyarakat yang 
diberikan kepada sekitar 70-an 
hamba Tuhan se-Kabupaten 
Landak. "Kesehatan merupakan 
bagian integral dari pelayanan 
gereja. Gereja tidak bisa hanya 
membataskan diri pada pem- 
beritaan Injil saja," kata Sekretaris 
NCF wilayah Asia Pasifik, Alicia T. 
Banas, M.H.P.Ed. 

Selain memaparkan konteks 
pelayanan kesehatan masyarakat 
dalam kerangka pewartaan 
khabar gembira, Alicia juga 
menguraikan aktivitas-aktivitas 
dasar yang bisa dipraktekkan oleh 
para hamba Tuhan. "Kita bisa 
mulai dari hal-hal kecil tapi 
menentukan kesehatan ling- 
kungan, seperti memilah-milah 
sampah dan membuangnya di 




tempat yang tepat," katanya. 
Sampah basah dan bisa hancur 
misalnya, bisa dikuburkan dan 
dijadikan pupuk kompos. Se- 
mentara yang tak dapat diurai, 
misalnya pelastik dapat dijadikan 
hiaran. "Jadi perlu kreativitas," 
katanya. 

Saling menguatkan 

Nurses Chriatian Fellowship 
(atau Persekutuan Perawat 
Kristen) sendiri lahir sebagai 
sebuah wadah bagi para perawat 
kristiani untuk mengamalkan 
profesionalismenya dalam terang 
iman Kristiani. Melalui wadah ini, 
para perawat bisa saling 
menguatkan agar dapat menjadi 
perawat yang setia bagi orang- 
orang yang lemah dan tak 
berdaya. 

"Kita tidak bisa mendampingi 
orang-orang sakit secara tulus bila 
kita tidak diterangi dan didorong 
oleh semangat Kristiani. Se- 
mangat itu bisa kita ambil dan 
kembangkan melalui perkum- 
pulan ini," kata Miss Goh Swee 
Eng, Ketua Persekutuan Perawat 
Kristen Singapura yang datang 
bersama Miss Choo Peck Hong 
dan Miss Kang Kim Hian dari 
Singapura. 

Paul M.Goru. 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Sekkta 




Gereja Isa Almasih Musnah Dibakar 



HARI Senin (22/9) siang 
itu, puing-puing bekas 
bangunan terbakar masih 
tampak jelas terlihat. Batang- 
batang kayu jati sebagai penahan 
atap gedung gereja seluas 6x11 
meter persegi ini, kini hanya 
tinggal seonggok arang. 
Begitupula dengan beberapa 
buah kusen daun jendela serta 
pintu. 

Walaupun peristiwanya telah 
lama berlalu namun kejadian 
pembakaran gedung gereja yang 
dilakukan oleh massa tak dikenal 
ini, masih menyedot perhatian. 
Setiap orang yang kebetulan 
lewat lokasi kejadian pasti 
mengarahkan pandangannya ke 
sebuah bagunan permanen yang 
letaknya persis diantara rimbunan 
pohon bambu. 

Dari beberapa keterangan 
yang dihimpun REFORMATA, 
peristiwa selasa kelabu ini bermula 
ketika sekitar pukul 09.00 WIB 
ratusan massa yang diduga 
berasal dari dua desa di 
Kecamatan Jambe Parung 
Panjang, Bogor, Jawa Barat, yaitu 
Desa Tegal Pondoh dan Desa 
Tejo, dengan berjalan kaki 
mendatangi Gereja Isa Almasih 
Cilaku. 




Setelah sampai di depan 
halaman gereja, emosi massa 
mulai tidak terkendali. Sambil 
berlarian ke segala penjuru arah, 
merekapun mulai marangsek 
masuk kedalam ruangan gedung 
gereja. 



Peristiwa 
pembakaran 
gedung gereja 
kembali terjadi lagi. 

Kali ini menimpa 
Gereja Isa Almasih 
(GIA) di desa 
Cilaku, Kecamatan 
Jambe, Parung 
Panjang 
Kabupaten Bogor 
Jawa Barat, pada 
hari Selasa (3/9) 
lalu. 



Di dalam ruangan, massa mulai 
menghancurkan sejumlah sarana 
peribadahan misalnya bangku 
jemaat, meja dan mimbar. Tidak 
hanya itu saja. Peralatan pe- 
nunjang ibadah seperti sound 
system dan gitar, termasuk 
sebuah jubah pendeta yang akan 
bertugas tidak luput dari aksi 
brutal mereka. 

Warga kristen yang tinggal di 
sekitar gereja, hanya bisa 
menatap dengan sedih massa 
yang mulai melakukan aksi 
pembakaran. Pasalnya warga 
tidak mampu membendung 
perilaku kasar dari mereka, karena 
jumlahnya yang tidak sebanding. 
Hanya dalam waktu satu jam, 
gereja yang menempati lahan 
sekitar 300 meter persegi ini, 
habis dilalap oleh si jago merah. 

Setelah puas memporak- 
porandakan gereja yang di- 
bangun pada tahun 1992 ini, 
massa kembali bergerak ke rumah 
keluarga Matius, salah seorang 
pengurus gereja GIA. Ke- 




tegangan mulai memuncak saat 
mereka berniat mencoba mem- 
bakar rumah yang berjarak sekitar 
10 meter dari lokasi kejadian. 

Sambil berteriak-teriak me- 
nyebutkan nama etnis tertentu 
mereka mulai masuk ke teras 
depan rumah keluarga Matius. 
Beruntung saat itu beberapa 
tokoh masyarakat di Desa Cilaku 
mampu memberi pengertian 
kepada massa yang hendak 
membakar rumah tersebut, 
sehingga merekapun mulai 
mengurungkan niatnya dan pergi 
begitu saja keluar dari teras rumah 
keluarga yang telah dua belas 
tahun mengabdi di gereja 
tersebut. 

Sempat mendapat teror 

Kepada REFORMATA i b u 
Maria Deni (32), istri Matius 
mengatakan, sebulan sebelum 
terjadinya insiden peristiwa 
pembakaran itu, pihak gereja 
sering mendapat ancaman dan 
teror. Mulai dari surat peringatan 




yang dikeluarkan oleh 
pemerintahan desa setempat 
hingga perlakuan intimidasi yang 
dilakukan oleh orang-orang tak 
dikenal kepada jemaat gereja 
GIA, namun hal itu tidak pernah 
digubris oleh mereka. Jemaat 
masih tetap beraktivitas ibadah 
pada setiap hari Minggu. 

"Sebulan terakhir Jemaat 
Gereja Isa Almasih (GIA) Cilaku 
mendapat ancam dan teror 
berkali-kali. Peringatan mulai dari 
surat, 'diadili' massa di balai desa, 
tapi itu tidak membuat jemaat 
menjadi mundur imannya kepada 
Kristus. Justru dalam 'pengadilan' 
itu jemaat dapat bersaksi siapa 
Tuhan Yesus Kristus yang 
dipercayainya," kata Maria. 

Sebelumnya diakui Maria, 
pihak gereja setempat di panggil 
oleh aparat pemerintahan desa 
Cilaku berkaitan dengan pendirian 
gereja di daerah yang didominasi 
warga keturunan etnis Tionghoa. 

Dalam pertemuannya di Balai 
Desa Cilaku, di depan para tokoh 
agama dan alim ulama setempat, 
aparat pemerintahan desa Cilaku 
meminta pihak gereja untuk 
memberhentikan segala bentuk 
kegiatan ibadah gereja GIA. 
Akhirnya dalam keadaan tertekan 
pihak gereja terpaksa me- 
nandatangi kesepakatan untuk 
memberhentikan sementara 
kegiatan. Kesepakatan ini sendiri 
hanya berlangsung selama satu 
bulan, setelah itu gereja yang 
mempunyai jemaat lima puluh 
orang ini kembali melakukan 
kegiatan ibadah Minggunya. 

Ketika warga mengetahui 
gereja GIA kembali melalukan 
ibadah, merekapun lantas 
kembali melakukan pertemuan, 
bertempat di Balai Desa, namun 
pada pertemuan kali ini tidak 
dihadiri oleh Gembala Sidang GIA 
Pdt Johanes Rahmat. Inilah yang 
membuat mereka menjadi geram 
lalu mengadakan perusakan 



sekaligus pembakaran terhadap 
gedung gereja GIA Cilaku. 

"Setelah rapat seminggu (05/ 
08) mereka datang dan menjarah 
barang. Baju pendeta saya 
diambil dan dirobek-robek dan 
barangnya dijarah. Perabot rumah 
tangga habis dibawa, termasuk 
gitar dan tape diambil. Saya hanya 
sempat menyelamatkan tempat 
perjamuan kudus. Waktu massa 
datang, pak Pendeta memang 
tidak disini. Karena sudah men- 
dapat ancaman," jelas ibu dari tiga 
orang anak ini. 

Perlakuan diskriminatif dari 
warga setempat terhadap gereja 
GIA memang tampak terlihat. 
Buktinya hanya beberapa ratusan 
meter dari lokasi gereja, berdiri 
sebuah Wihara besar. 

Menurut pengurusnya Gin 
Seng yang ditemui REFORMATA, 
Wihara yang telah berumur 
sepuluh tahun ini tidak pernah 
mendapat masalah dari warga 
sekitar. "Wihara ini didukung 
warga masyarakat, memang 
penduduk disini mayoritas 
beragama Islam. Tapi kami yang 
beragama Budha sudah ada sejak 
dulu," kata Gin Seng. 

Maria menyayangkan tindakan 
aparat keamanan yang terkesan 
lamban dalam mengantisipasi 
terjadinya musibah itu. Pihak 
keamanan baru datang ke lokasi 
kejadian setelah gereja terbakar 
dan massa bubar. Merekapun 
lantas melokalisir tempat kejadian 
dengan membuat garis polisi. 

Anehnya, masih kata Maria, 
Lurah Desa Cilaku seakan-akan 
tidak mengetahui bahkan 
tekesan bingung kenapa bisa 
terjadi pembakaran gedung 
gereja yang telah berusia 11 
tahun ini. 

"Itu tanda bahwa kebebasan 
beribadah belum dijamin di negara 
ini," kata pengacara Paulus 
Mahulete, SH. mengomentari 
insiden itu. 

Binsar T H Sirait 



e 



TrojfiC 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Drs. Cornelis 



Menggapai 



Hasrat untuk menggapai "langit" yang lebih tinggi dari pencapaian kini 

menjadi motor penggerak kemajuan pribadi dan kabupaten yang 
dipimpinnya. Bagaimana anak daerah pertama yang terpilih memimpin 
kabupaten termuda di Propinsi Kalimantan Barat ini? 



M; 



I ASIH adakah langit di 
atas langit? Kita tak 
tahu pasti, tapi itulah 
kepastian simbolik yang 
dituturkan Asmaraman melalui 
seri silat Kho Ping Hoo: Di atas 
langit masih ada langit! Itulah 
juga "keyakinan" yang ingin 
ditularkan Drs. Cornelis kepada 
seluruh masyarakatnya. "Pen- 
capaian tertinggi yang kita 
peroleh dan banggakan belum 
tentu merupakan pencapaian 
tertinggi. Masih ada prestasi- 
prestasi yang lebih besar 
dibanding yang kita punyai," 
kata orang nomor satu di 
kabupaten Landak, Kalimantan 
Barat ini. 

Keyakinan itu akan mem- 
berikan kesadaran dan tekad 
untuk membuka diri, untuk 
terus belajar dari masyarakat 
lain. "Ini perlu menjadi ke- 
sadaran kita bersama. Kita tidak 
boleh menjadi seperti katak di 
bawah tempurung," sambung- 
nya. Melalui kesadaran itu, 
diharapkan isolemen georafis, 
sosial dan psikologis yang selama 
ini mengukung masyarakat 
Landak dapat dibuka. 

Memang, salah satu kendala 
percepatan pembangunan di 
kabupaten termuda di 
Kalimantan Barat ini adalah 
rendahnya mobilitas geografis 
dan sosial masyarakat. "Kita 
memang harus terus meng- 
adakan prasarana dan sarana 
transportasi sehingga daerah- 
daerah dan desa-desa itu bisa 
dijangkau. Kita juga harus terus 
meningkatkan kemampuan 
SDM melalui pendidikan agar 
mobilitas sosial ekonomis dapat 
terjadi," ayah dua putri ini 
menjelaskan. 

Tapi, kata dia, semua itu bisa 
terjadi bila masyarakat Landak 
menyadari sungguh, bahwa 
'langit' kita masih rendah. 
Bahwa masih ada 'langit' yang 
lebih tinggi yang harus dikejar 
dan digapai bersama. 



Peningkatan mutu SDM 

Sejak dilantik pada 6 Sep- 
tember 2001, Cornelis terus 
memacu percepatan pemba- 
ngunan di daerah yang kaya 
sumber daya alamnya ini. Selain 
kelapa sawit, karet dan kayu, 
kapupaten ini menyimpan potensi 
alam yang sangat kaya. 

Titik perhatian utama di- 
sasarkan pada masalah keamanan, 
pengembangan Sumber Daya 
Manusia dan transportasi. "Dalam 
bidang SDM kita punya beberapa 
fokus perhatian. Pertama adalah 
menyangkut masalah gizi atau 
makan mereka. Kalau manusia ini 
makannya bagus dan standart, dia 
bisa sehat. Kalau sehat, pada 
waktunya dia bisa sekolah. Kalau 
dia sudah sekolah, kita harapkan 
dia terampil," urainya. 

Diakuinya, kondisi SDM di 
kabupaten Landak masih belum 
memadai dan alamiah. Karena itu 
perlu digalakkan upaya-upaya 
terprogram dan terencana untuk 
mempersiapkan SDM di bidang- 
nya masing-masing. Untuk 
sekarang, ujar Cornelis, pihaknya 
berupaya agar dunia pendidikan 
benar-benar menjawab tan- 
tangan yang ada di lapangan. Di 
bidang pertanian, pihaknya mem- 
butuhkan orang-orang yang ahli 
pertanian, baik pertanian pangan, 
pertanian perkebunan, maupun 
perikanan dan peternakan. 
"Orang seperti ini kan sekarang 
susah carinya. Di pertambangan, 
kita cari orang-orang yang ahli 
sehingga tambang kita dikelola 
dengan baik dan benar, tidak 
separah sekarang ini yang me- 
rusak lingkungan," ujarnya. 

Kabupaten Landak memang 
menyimpan potensi alam yang 
sangat kaya. Tapi mengapa gerak 
perkembangan kesejahteraan 
masyarakatnya terkesan sangat 
lambat? Banyak pihak meng- 
introdusir bahwa pembangunan 
Landak bergerak lamban karena 
mentalitas mayoritas penduduk- 



nya yang malas. Tapi 
pendapat ini ditepis 
tegas Cornelis. "Saya 
sudah 20 tahun 
mengurus masyarakat 
ini. Mereka tidak malas. Masalah- 
nya adalah pada pemerintah yang 
dulu. Sekarang ini kan baru kita 
melihat adanya cahaya," 
tegasnya. 

Memang diakuinya ada be- 
berapa perilaku negatif yang 
masih hidup dalam masyarakat 
Landak yang mayoritas pen- 
duduknya berasal dari suku Dayak 
ini. Salah satunya adalah kemam- 
puan mengelola keuangan dalam 
keluarga. "Mereka bisa ke 
Pontianak dalam sehari. Di sana 
mereka melihat simbol-simbol ke- 
majuan ekonomi. Ketika pulang 
kampung, mereka ingin menik- 
matinya juga dengan cara yang 
cepat. Kadang-kadang mereka 
ambil jalan pintas," ia meng- 
ilustrasikan. "Jadi kuncinya di pe- 
ngembangan SDM yang holistik 
dan merangkai seluruh aspeknya, 
baik aspek pengetahuan, 
keterampilan, pun kharakter dan 
mentalitas," kata alumnus APDN 
di Pontianak ini. 

Veni, vidi, vici 

Selain nasihat Kho Ping Hoo, 
Cornelis ternyata juga berpegang 
pada semboyan: Veni, vidi, vici! 
(Saya datang, saya lihat dan saya 
menang)! "Untuk bisa meng- 
angkat masyarakat kita dari 
keterbelakangan, kita harus 
datang, melihat kenyataan per- 
gumulan dan situasi aktual me- 
reka dan dari sana baru kita bisa 
melakukan tindakan-tindakan 
untuk memenangkan mereka 
dari keterbelakangan itu," jelas 
penggemar dan pemain sekap 
bola ini. 

Soal pengenalan medan 
bukanlah masalah bagi kelahiran 
Sanggau, Kalimantan Barat 27 Juli 
1953 ini. Ia memang dilahirkan, 
dibesarkan serta mengabdikan 




dirinya di Kalimantan Barat. 
Tamat APDN di Pontianak pada 
tahun 1978, ia ditempatkan 
sebagai salah seorang staf kantor 
camat Mandor. Setelah 11 tahun 
berkarya disana, ia mendapatkan 
kesempatan melakukan tugas 
belajar di Universitas Brawijaya, 
Malang dengan spesialisasi di 
bidang Administrasi Pemerintahan 
Daerah. Dengan ijasah S-l, ia 
kembali ke Kalimantan dan 
bekerja di kantor bupati selama 
6 bulan untuk kemudian menjadi 
camat di kecamatan Menyuke 
selama 10 tahun. 

"Saya hanya bersyukur dan 
berterimakasih kepada Tuhan 
karena Dia menitipkan tugas- 
tugas yang lebih besar kepadaku. 
Ini kerjanya rakyat bersama 
Tuhan," katanya mengungkap- 
nya perasaannya ketika dipilih 
menjadi bupati pertama di 
kabupaten Landak. 

Selama dua tahun kepemim- 
pinannya, ia menyebut beberapa 
perubahan yang telah dicapai baik 
dari segi ekonomi, politik maupun 
kemasyarakatan. "Kita jelas me- 
lihat adanya perubahan. Cuma 
kita belum bisa mengukur secara 
pasti, tapi secara umum kita bisa 
melihat fisiknya. Dari segi pe- 
rangkat pemerintahan kita 
hampir lengkap, baik de- 
konsentrasi maupun daerah," 
jelasnya. Kemajuan itu bisa juga 
ditakar menurut pendapatan asli 
daerahnya. Bila pada tahun 2001, 
PAD kabupaten Landak hanya 
mencapai Rp. 300 juta, kini telah 
mencapai Rp. 1 milyar. 

Kombinasi tiga gaya 

Dalam berelasi dengan 
bawahannya, ia mengaku 
mengkombinasikan tiga gaya 
kepemimpinan. Yang pertama, 



gaya Jawa yang lembut. Kedua 
gaya setengah Batak yang 
setengah keras dan yang ketiga 
gaya Jepang yang keras. "Kalau 
dengan cara yang baik tak juga 
ada perubahan, ya kita harus 
melakukan tindakan yang 
keras, dengan memecat 
misalnya, meski itu dilakukan 
dengan berat hati," kata 
mahasiswa pasca sarjana di 
Universitas Tanjung Pura yang 
sedang menggarap tesis 
tentang hukum perlindungan 
anak ini. 

"Bila anak-anak melanggar 
hukum, siapakah yang salah?" 
ia mengungkapkan benang 
merah tesisnya yang, lagi-lagi, 
berangkat dari keprihatinannya 
atas situasi dan kondisi aktual 
di daerahnya. "Banyak anak 
yang dibesarkan dalam situasi 
lingkungan yang kurang 
kondusif," kata dia. Ia mem- 
berikan ilustrasi, pada waktu 
pesta misalnya, para orangtua 
sering bermain judi dan mabuk- 
mabukan di depan anak- 
anaknya. Anak yang masih SD 
dan SMP itu pun terpengaruh 
dan melakukan tindak pidana. 
"Lalu siapa yang bertanggung- 
jawab melindungi mereka? 
Siapa yang layak dihukum 
dalam kasus ini, mereka sendiri 
atau orangtua mereka?" 
tanyanya. 

Memang banyak tugas pe- 
merintahan dan sosial yang me- 
nantang dan menyita waktu 
suami dari Frederika ini. Tapi dia 
terus melangkah dengan keya- 
kinan bahwa bila kepercayaan 
itu didapat dari Tuhan, maka 
tak ada perintang yang tak 
teratasi dan tak ada pekerjaan 
yang tak terselesaikan. 

*r Paul Makugoru 




Tak Henti Mengekspresikan 
Keyakinannya 



Ada hal baru saat ia membuka 
sebuah acara formal. Siang itu 
misalnya, ketika ia didaulat mem- 
buka acara Training Guru Mate- 
matika dan Fisika di Kabupaten 



Landak, ia dengan tegas men- 
yebutkan 'Atas Nama Bapa dan 
Putra dan Roh Kudus' sebagai 
landasan pergelaran acara di- 
maksud. "Saya memang memin- 



ta pertolongan Tuhan yang sa- 
ya sembah untuk mendampingi 
setiap acara yang saya buka," 
tegas penganut Katolik yang taat 
ini. 

Ia mengaku tak risih meng- 
ucapkan hal itu, betapapun itu 
sebuah acara kenegaraan. "Bila 
Adam Malik mengucapkan bis- 
millah ketika membuka sidang pari- 
purna MPR, maka saya juga ber- 
hak untuk mengucapkan doa 
saya. Apakah saya harus meng- 
ikuti doanya, kan tidak mungkin!" 
katanya. 

Memang, meski ia politisi - 
sejak 1977 sudah berkutat di 
dunia penuh sikat sikut itu - ia 
tetaplah seorang Kristen yang 
selalu berusaha setia pada ajaran 
dan teladan Yesus Kristus. Ia 
mengaku selalu berusaha untuk 
berpedoman pada nilai-nilai yang 
ada dalam Injil. Tentu saja dalam 
bingkai tantangan yang ada di 



hadapan tugas konkritnya setiap 
hari. 

Di dalam mendidik kedua pu- 
trinya, Carolin dan Anjelin, ia juga 
senantiasai berusaha men- 
dasarkan diri pada semangat Injil. 
Masalah yang dihadapi biasanya 
dipecahkan bersama dalam 
semangat demokratis. 

Sebagai pemimpin masyara- 
kat, ia juga berusaha membina 
hubungan baik dengan umat 
muslim. "Untuk kemajuan ber- 
sama, kita harus bisa bergan- 
dengan tangan dengan siapapun 
yang ingin mengembangkan 
daerah ini," katanya. Dalam 
konteks kerasulan, ia melihat 
interaksinya dengan umat lain se- 
bagai kesempatan untuk meng- 
garami dunia. "Kita tidak bisa 
menjadi garam yang mengasinkan 
bila kita hanya tinggal dalam 
kumpulan garam," katanya ber- 
analogi. 



Pencinta Roma 13 ini me- 
mang selalu berusaha setia 
pada panggilan Tuhan atasnya. 
Melalui pengalaman kehidu- 
pannya, ia mengakui bahwa 
Yesus Kristus sungguh berkarya 
dalam kehidupannya. Ketika 
masuk dalam pemilihan, dia 
mengaku 'kalah' bila dibanding- 
kan dengan saingannya, baik 
dari segi dukungan sosial mau- 
pun keuangan. "Tapi karena 
Tuhan turut campur tangan, 
saya menang," katanya penuh 
keyakinan. 

Tak berhenti di situ. Ia pun 
mengaku beberapa kali dihan- 
tam kuasa gelap. Bahkan sampai 
18 kali. Tapi karena mukjizat 
Tuhan jugalah dia terselamat- 
kan. "Ini kan bekas kerajaan dan 
orang kan banyak kepentingan- 
nya. Jadi saya berserah diri 
kepada Allah Bapa, Putra dan 
Roh Kudus saja," katanya. *** 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Sengga 



Merajut Karya Bagi DIA 




SUKSESNYA pagelaran musik kolosal bertajuk "Sayap Pujian" di 
[stora Senayan Jakarta Agustus lalu, tak lepas dari peran pria 
Derkacamata yang mempunyai nama lengkap Herry Priyonggo 
ini. Siapa gerangan pria yang akrab disapa bung Herry ini? Ia tak 
lain adalah pimpinan VG Yerikho Ministry, sebuah vokal group yang 
telah berusia hampir 23 tahun. 

Seniman yang satu ini, tampak begitu santai dan luwes. Itulah 
kesan pertama ketika menemui Herry untuk melakukan sebuah 
wawancara di rumahnya yang sekaligus dipakai sebagai kantor 
Artistika Desain Grafis, di Kawasan Jembatan Besi IV Jakarta Barat . 
Suami dari Rosianti Priyonggo ini, saat itu hanya memakai T-Shirt 
bercorak orange dipadu dengan celana panjang bahan berwarna 
hitam. 

Sebelum merintis sebuah vokal group yang bercikal bakal dari 
paduan suara GKI Gunung Sahari, pria yang lahir 25 Januari 1963 di 
Bondowoso Jawa Timur ini terlebih dahulu sempat menekuni dunia 
seni lukis, khususnya lukisan poster film. 

Di era tahun 1970-an, beberapa judul film nasional pernah 
menjadi karya lukisan poster filmnya antara lain "Bernapas Dalam 
Lumpur" yang dibintangi oleh aktor gaek alm. Ratno Timoer, 
"Kedawung" dan "Si Pitung". 

Tidak hanya itu saja. Sosok sutradara film kawakan di tahun 1980- 
an alm. Teguh Karya sempat mempercayakan kepada dirinya untuk 
membuat lukisan poster film pertamanya yang berjudul "Wajah 
Seorang Laki-Laki". 

Bagaimana kisah perjalanan hidup pria penggemar makanan pecel 
dan gado-gado ini? Berikut penuturan Herry anak kedua dari pasangan 
Natanael dan Lili Gunawan ini. 

Bergelantungan di sumur 



Aku bangga bisa lahir di 
sebuah desa kecil, di Kabupaten 
Bondowoso, Jawa Timur. Sama 
halnya dengan anak desa yang 
lain, seusai pulang sekolah 
biasanya aku menghabiskan 
waktu bermain dengan mainan 
sederhana dekat rumah. 

Di dalam keluarga aku 
termasuk anak yang paling 
bandel, mungkin karena itu, 
kedua orang tuaku jarang sekali 
mengajakku pergi, baik ke 
acara pesta perkawinan 
maupun keluarga. Tabiatku 
yang suka mencari perhatian, 
membuatku terkadang 
menyerempet ke hal-hal yang 
membahayakan. Misalnya saja, 
aku pernah mencoba 
bergelantungan di atas sumur 
sedalam 30 meter. Karuan saja, 
ibuku yang ketika itu sedang 



mencuci baju berteriak-teriak 
histeris, memintaku untuk segera 
turun. Semakin keras teriakan 
ibu, akupun semakin menjadi-jadi 
bergelantungan di atas seutas tali 
timba. 

Di sisi yang lain, aku sangat 
rajin pergi ke Sekolah Minggu. Di 
sinilah aku mulai bersing-gungan 
dengan dunia seni tarik suara. 
Sejak kecil aku sudah terbiasa ikut 
paduan suara anak dan tampil di 
gereja pada setiap ibadah minggu 
pagi. 

Ketika usiaku beranjak remaja, 
aku beralih menekuni seni lukis. 
Dengan rasa keberanian dan 
penuh percaya diri aku mulai 
memamerkan hasil karya 
lukisanku. Tema-tema lukisan 
yang kuangkat ke dalam kanvas 
saat itu masih sederhana hanya 
seputar kisah-kisah dalam Alkitab. 



Menapak dalam kesederhanaan 



Di suatu pameran lukisan, aku 
bertemu dengan seorang guru 
asal Jakarta, ia mengutarakan 
keinginannya untuk mengajakku 
melanjutkan sekolah SMA di 
Jakarta. Menurutnya, kalau aku 
mau berhasil di bidang seni lukis, 
aku harus pindah ke Jakarta. 

Berbekal tekad yang bulat 
untuk menjadi seniman besar, 
akhirnya aku memutuskan untuk 
hijrah ke kota metropolitan 
dengan ditemani ayah. Akupun 
akhirnya bersekolah di SMA 
Kristen Jakarta. 

Selama tinggal di Jakarta aku 
dan ayah menumpang tinggal di 
rumah salah satu keluarga dekat 
ayah. Itu kami lakukan karena 
terus terang aku berasal dari 
keluarga yang berkekurangan. 
Ayahku tak sanggup mengon- 
trak sebuah rumah walaupun 
hanya sederhana. 



Untuk mencukupi kebutuhan 
hidup sehari-hari terpaksa aku 
harus kerja sampingan. Siang hari 
usai pulang sekolah biasanya aku 
mendapat tawaran dari teman- 
teman sekolah untuk melukis 
potret wajah. 

Ada pengalaman menarik 
ketika aku bekerja sebagai 
seorang pelukis,saat itu orang tua 
salah seorang teman ku meminta 
kepadaku untuk melukis 
wajahnya. Karena dalam 
membuat lukisan wajah 
memakan waktu selama dua jam, 
membuat orang yang menjadi 
obyek lukisanku sampai terkantuk 
-kantuk. 

Baru satu tahun kemudian, 
ayahku mampu mengontrak 
sebuah rumah sederhana di 
Jakarta dan langsung membo- 
yong seluruh keluargaku yang 
masih tinggal di desa. Kamipun 
akhirnya bisa kembali berkumpul 
bersama. 



Bertemu importir film 



Masih di SMA, pada suatu hari 
aku berkenalan dengan salah 
seorang importir film. 
Sebelumnya aku memang 
bercita-cita untuk membuat 
lukisan reklame dalam bentuk 
bilboard. Ia awalnya tidak tahu 
kalau aku mempunyai bakat 
melukis wajah. Sampai pada 
suatu saat aku memberanikan diri 
untuk membuat contoh poster 
film tanpa kupungut biaya 
sepeser pun. Melihat hasil 
lukisanku yang begitu 
memuaskan, akhirnya importir film 



tadi mempercayakanku untuk 
membuat beberapa poster film. 

Semenjak itu, aku mulai 
kebanjiran order untuk membuat 
poster film di kanvas. Pagi hari 
sebelum berangkat sekolah aku 
mulai mengais-ngais kuas dengan 
cat minyak ke dalam sebuah 
kanvas ukuran besar, hanya untuk 
membuat sebuah sketsa. Barulah 
malam harinya usai belajar aku 
menyelesaikan sketsa salah satu 
adegan film tersebut menjadi 
poster yang siap ditayangkan di 
setiap bioskop di Jakarta . 



Saat Dia jamah 



Jujur saja, aku pernah mengalami proses dari Tuhan yang luar 
biasa. Ketika sedang giat-giatnya dalam Yerikho Ministry, dokter 
memutuskan kalau aku menderita penyakit parkinson. Dalam hati, 
aku sadar penyakitku ini sangat berbahaya bahkan dapat mengganggu 
kegiatanku di bidang pelayanan. 

Tapi kuasa Tuhan sungguh ajaib. Di tengah penyakit yang kuderita, 
aku masih mampu memberikan persembahan dalam bentuk pujian di 
Yerikho Ministry. Terus terang kuakui kalau Tuhan memakai diriku untuk 
menjadi saluran berkat. Dialah yang menjadi sumber inspirasiku ketika 
akan membuat album lagu rohani. 

Sementara itu, pertolongan Tuhan masih tetap aku rasakan hingga 
saat ini. Kalau saja Tuhan tidak ikut campur tangan, bagaimana 
mungkin VG Yeriko Ministry dapat bertahan hingga sekarang. 

£f Dan /e/ Siahaan 




Bere 
Menikah 
Tahun Depan 

SETELAH sempat menghilang 
dari blantika musik Indonesia, 
kini artis penyanyi Dessi Fitri 
kabarnya sedang menggarap 
sebuah album rohani. Mena- 
riknya album rohani tersebut 
akan dibuat dalam empat baha 
sa yaitu bahasa Indonesia, Ing 
gris, Jerman dan Jawa (Kromo 
Inggil). 

"Pada waktu menyanyikan 
lagu-lagu pujian, saya sungguh 
merasakan kasih dari Tuhan 
Yesus Kristus dan penyertaan 
Roh Kudus. Maka dari itu, saya 
mencoba menciptakan lagu 
yang menceritakan tentang 
kebesaran Tuhan," katanya. 

Tercetusnya ide untuk 
membuat sebuah album roha 
ni, menurut wanita pemeran 
tokoh Sukma dalam film laris 
"Pasir Berbisik" ini, berawal dari 
saling berkiriman kaset lagu 
dengan temannya yang bermu 
kim di Austria. Kirim-kiriman la 
gu kewat kaset ini sudah ber 
jalan hampir lima bulan. 

"Asal ada pimpinan Roh Ku- 
dus, tak ada ada yang sulit 
dalam menciptakan lagu," kata 
wanita berdarah Minangkabau, 
ketika merilis sebanyak 10 
buah lagu yang rencananya 
akan diproduksi di Jakarta. 
Selain merilis album rohani, 
Dessy yang sempat ngetop di 
dunia musik sekuler di era ta- 
hun 1998, ia berencana tahun 
depan akan melangsungkan 
pernikahan dengan pria 
idaman hatinya. 

Saat didesak oleh REFOR- 
MATA siapa gerangan pria yang 
telah menjadi tambatan hati 
nya, Dessy pun enggan 
mengungkapkannya. Yang pas 
ti, pria tersebut adalah salah 
seorang yang juga berperan 
dalam album barunya tersebut. 

"Kalau Tuhan berkenan 
kami akan menikah tahun 
2004. Jelas, membangun 
bahtera rumah tangga tidaklah 
gampang, apalagi menyangkut 
masalah latar belakang agama 
saya dulu". Katanya 

^ Binsar TH. Sirait 




ISCC 

Indonesian Senior Citizen Club 

Suatu "Club Persaudaraan" yang terbentuk bagi para Senior agar 
lebih menghargai "WAKTU" yang masih TUHAN berikan untuk dapat 
menjadi berkat buat sesama terlebih demi kemuliaan-Nya. 



Segera bergabung bersama Kami: 

- Temu Rindu setiap bulan 

- Perjalanan-perjalanan keluar kota 
(sesuai jadwal) 

- Keanggotaan yang meringankan 
kebutuhakebutuhan Anda sesuai 
"Daftar Fasilitas" 



Rindu 



November 




Duta Merlin Lt 



P k 



- Jl. Tanjung Selor 17 Roxy Jakarta 

- Jl. Dharma Kencana Raya C. 27 TSI Jakarta 
Tip: (021) 6308169 - 5805015 



o 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 




Pukul 05.30 yang Pilu 



TAK ada satu pun yang aneh 
malam itu. Angin masih 
berhembus seperti biasa- 
nya, dan bintang-bintang di 
angkasa masih memberikan se- 
nyumnya yang paling indah ke- 
pada seluruh jagad raya. Elisabeth 
Sriwulan memandang jam tangan- 
nya beberapa kali. Waktu sudah 
menunjukkan pukul 21.00 Wib, 
namun orang yang ditunggunya, 
belum juga tiba. Setelah me- 
nunggu beberapa lama, ia pun 
meraih HP Nokianya, dan mencoba 
menghubungi orang yang di- 
tunggunya itu. Sia-sia. Tak ada 
jawaban apa pun, selain bunyi 
tut...tut...yang menandakan HP 
tujuannya sedang mati atau tak 
mendapat sinyal. Wulan, demikian 
wanita kelahiran Jakarta ini biasa 
disapa, masih mencoba untuk 
bersabar. Waktu sudah berlalu 
setengah jam, namun orang yang 
ditunggunya belum juga datang. 

Melihat kegelisahannya, be- 
berapa teman kemudian ber- 
inisiatif mengantar Wulan pulang. 
Selama di perjalanan, Wulan tak 
punya firasat apa pun soal sua- 
minya. Ia hanya berpikir, mungkin 
suaminya sedang sakit atau ada 
pelayanan mendadak sehingga 
tidak bisa menjemputnya. 

Setiba di rumah, ternyata 
suaminya tidak ada. Wulan mulai 
gelisah. Tidak biasanya Leo, de- 
mikian nama suaminya, pergi 
begitu saja tanpa memberitahu 
Wulan. Teman-temannya kemu- 
dian mengusulkan agar mereka 
kembali lagi menyusuri jalan yang 
mereka lalui tadi untuk mencari 
tahu keberadaan Leo. Namun 
sebelum berangkat, Wulan men- 
coba menelpon sebuah gereja 
dimana ia dan Leo biasa melayani 
di sana. "Siapa tahu ada pelayanan 
mendadak," pikirnya dalam hati. 

Suara seorang penatua yang 
menerima telpon, sedikit tercekat 
ketika mendengar Wulan mena- 
nyakan keberadaan suaminya. 



Belum lama ia 
mengecap 
indahnya 
perkawinan, 
Tuhan sudah 
memanggil 
pulang orang 
yang sangat 
dicintainya. 
Elisabeth 
Sriwulan pun, 
larut dalam 
duka yang 
dalam. 



Wulan langsung berfirasat telah 
terjadi sesuatu pada suaminya. 

"Dia di mana sekarang?" tanya 
Wulan dengan suara bergetar. "Di 
sebuah rumah sakit," jawab pe- 
natua itu sambil menekan suaranya 
agar terdengar wajar di telinga 
Wulan. "Tapi dia tidak mati kan?" 
Tanya Wulan lagi dengan isak tangis 
yang mulai pecah. "Dia sedang 
dirawat," jawab penatua itu 
singkat. Tanpa mampu lagi me- 
neruskan pembicaraan, Wulan 
langsung melorot lemas. Ia me- 
nangis sejadi-jadinya, meski belum 
tahu pasti apa yang sedang terjadi 
pada suaminya. 

Esok harinya, sekitar pukul 
05.30 Wib, bersama beberapa 
dosen dan teman-teman kuliahnya, 
Wulan pergi menengok suaminya 
di rumah sakit. Di rumah sakit inilah, 
baru jelas semuanya bagi Wulan. 
Orang yang paling dicintainya itu, 
kini sudah terbujur kaku dalam 
sebuah peti mati yang diletakkan 
di rumah duka rumah sakit ter- 
sebut. Leo meninggal akibat 
ditabrak oleh sebuah taksi di sekitar 
jalan Duren III, Jakarta Barat, tepat 
ketika ia sedang dalam perjalanan 
men-jemput Wulan. 

Wulan kembali lemas. Ia tak 
berdaya menatap wajah orang 
yang sangat dicintainya itu. Ia tidak 
percaya jika lelaki yang baru 
dinikahinya setahun lalu itu, kini 
sudah terbujur kaku tanpa senyum, 
tanpa kerdipan mata yang selalu 
dirindukannya. Wulan meraung 
sejadi-jadinya, bahkan sampai tak 
sadarkan diri. Ia amat marah pada 
Tuhan. 

Bagi Wulan Leo adalah se- 
galanya. Pria gagah itu dikenalnya 
ketika mereka sama-sama sedang 
menempuh studi di Sekolah Tinggi 
Teologi Reform Injili Indonesia 
(STRII), Jakarta. Kedekatan me- 
reka pun, boleh dibilang sebuah 
kebetulan. Ketika itu, Wulan yang 
menjadi salah satu pembina remaja 
pada Gereja Reform Injili Indonesia, 



Lowongan Kerja 



Mungkin ANDA yang Kami butuhkan, Tenaga Distribution Reprensentative 
Persyaratan: 

1. Seorang Kristen yang memiliki jiwa pelayanan 

2. Pekerja yang tangguh dan tidak mudah menyerah 

3. Tahan terhadap tekanan kerja 

4. Optimis dan siap maju 

5. Jujur dan bisa bekerja sama 

6. Memiliki sim C dan memiliki motor sendiri 

Lowongan ditujukan ke: 
Personalia Tabloid REFORMATA 



kebingungan karena pendeta 
yang seharusnya menjadi 
pembicara pada sebuah acara 
remaja di gereja binaannya, 
menyatakan berhalangan tampil. 
Padahal acara itu sendiri sudah 
akan berlangsung dua hari 
kemudian. Mau tidak mau, Wulan 
harus pontang panting mencari 
penggantinya. 

Untunglah, Leo yang juga 
masih kuliah di tingkat III saat itu, 
bersedia menggantikan pendeta 
tersebut. Selesai pelayanan ter- 
sebut, mereka pulang bersama 
ke asrama STRII sambil naik bus 
umum. Di sepanjang perjelanan 
inilah, mereka saling bertukar 
cerita, dan Wulan merasa sangat 
cocok dengan pribadi Leo. 

Waktu terus bergulir. Tak 
lama kemudian, mereka harus 
menyelesaikan kerja prakteknya 
di lokasi masing-masing. Leo di 
tempatkan di Jawa Timur, se- 
mentara Wulan di Jawa Tengah. 
Selama praktek ini, komunikasi 
mereka tidak terputus. Jika 
bukan melalui telpon, mereka sa- 
ling berkomunikasi lewat surat. 
Begitulah komunikasi mereka 
terus berlanjut, sampai suatu 
waktu Leo menyatakan cintanya 
kepada Wulan. Dua setengah 
tahun kemudian, mereka saling 
mengukuhkan janji perkawinan- 
nya di hadapan pendeta. 

Bagi Wulan Leo adalah se- 
orang suami yang hangat. Ia 
pandai memuji, sabar dan paling 
memahami perasaan Wulan. 
Karena itu, ketika Tuhan me- 
manggil pulang suaminya, ia 
amat marah pada Tuhan. "Saat 
itu saya berteriak. Tuhan tega- 
teganya Engkau mengambil 
suamiku begitu cepat. Baru dua 
setengah tahun aku mengecap 
indahnya perkawinan dengan- 
nya, kenapa engkau memang- 
gilnya begitu cepat?" kisah 
Wulan. 

Setelah kematian suaminya, 
Wulan betul-betul terpuruk. Ia 
menarik diri dari semua kegiatan 
pelayanannya. Dan yang paling 
menyedihkan adalah Wulan 
belum bisa menerima kalau 
suaminya telah benar-benar pergi 



untuk selamanya. "Kalau ada bunyi 
HP atau ketokan pintu, saya 
selalu berharap itu telpon atau 
ketukan pintu dari suami saya. 
Setelah saya tahu itu dari orang 
lain, saya pun menangis," kenang 
Wulan dengan sedih. 

Untuk membunuh rasa sepi- 
nya, Wulan bahkan sempat ke 
luar negeri. "Saya sempat mencari 
sekolah konseling di sana. Tapi 
karena tak ada yang cocok 
akhirnya saya kembali ke Indo- 
nesia. Sebenarnya, saya ingin 
tinggal di luar negeri untuk 
melupakan segala kenangan soal 
Leo," urainya. 

Sekembali di Indonesia, 
Wulan melanjutkan studi master 
konselingnya di Seminary Alkitab 
Asia Tenggara di Malang. Di 
tempat inilah, ia bertemu dengan 
Ibu Julia Candra (istri dari 
Pdt.Robby Candra). Dalam 
kuliahnya, Ibu Julia Candra berkata 
demikian, "Tidak banyak orang 
yang Tuhan ijinkan tertimpa 
banyak musibah. Jika ada 
di antara kita yang meng- 
alami hal demikian, saya 
percaya Tuhan sedang 
menuntut sesuatu pada 
orang itu". 

Mendengar kuliah 
dosen itu, Wulan betul- 
betul tersentak. Selain 
kehilangan suaminya, ia 
juga sebenarnya pernah 
mengalami pengalaman 
mengerikan yang tidak 
kalah pilunya. Karena itu, 
ketika Ibu Julia berkata 
demikian, ia merasa 
bagian dari kelompok 
yang kecil itu. "Sejak itu, 
saya berpikir-pikir, kira-kira 
apa maksud Tuhan atas 
diriku," urai Wulan. 

Sudahkah ia me- 
nemukan jawabannya? 
Belum. Tapi saat ini, ter- 
utama ketika menempuh 
pendidikan konseling di 
SAAT, Wulan memulai 
merasa tertarik pada studi 
konseling bagi suami-istri, 
terutama bagi mereka 
yang baru saja mem- 
bentuk rumah tangga. 



Sadar atau tidak sadar, kata Wulan, 
Tuhan seperti mengarahkannya 
untuk ke sana. Contoh, misalnya, 
akhir-akhir ini ia mulai gelisah jika 
mendengar atau membaca 
perceraian yang menimpa 
keluarga-keluarga muda, termasuk 
keluarga-keluarga Kristen. 
"Padahal agama kita kan melarang 
perceraian," jelasnya. Karena itu 
janjinya, jika Tuhan menghendaki 
ia ingin menjadi konselor bagi 
pasangan-pasangan muda. Ia 
berharap, pendidikan dan 
pengalaman masa lalunya, bisa 
menjadi bekal untuk sharing dan 
berbagi pengalaman dengan 
suami-istri muda. "Semoga 
dengan itu, makin banyak ke- 
luarga yang diberkati dan kita tidak 
sering lagi mendengar perceraian," 
harapnya. 

Kini, selain menempuh studi, 
Wulan juga menjadi guru pem- 
bimbing dan guru agama di 
sebuah SMP dan SMA di Malang. 

j* Celestino Reda. 




INSTITUT INTEGRASI IMAN & ILMU (i4) 
REFORMATA 



Program Pendidikan non-gelar ber-sertifikat yang dirancang khusus 
untuk memperlengkapi warga/pemimpin gereja. 

Mata Kuliah 14: 



Paket A (4 kali pertemuan) 

AO. Iman Kristen dan Demokrasi 

ALIman Kristen dan Hak Asasi Manusia 

A2. Iman Kristen dan Civil Society 

A3. Iman Kristen dan Politik 

A4. Iman Kristen dan Ekonomi 

A5. Iman Kristen dan Agama 

A6. Iman Kristen dan Budaya 

A7. Iman Kristen dan Psikologi 

A8. Iman Kristen dan Filsafat 

A9. Iman Kristen dan Ilmu 

Kuliah Paket A: pkl. 13.00 - 14.40 WIB 

Daftarkanlah diri anda segera. Tempat terbatas. 

(diberikan diskon untuk pendaftar 
Sertifikat diberikan bagi peserta yang 



Paket B (4 kali pertemuan) 

BO.Prologomena dan Bibliologi 

B1. Doktrin Manusia dan Dosa 

B2.Kristologi dan Soteriologi 

B3. Doktrin Allah dan Pneumatologi 

B4. Doktrin dan Manajemen Gereja 

B5. New Age Movement 

B6.Hermeneutika 

B7.Evangelism Explosion 

B8.Christian Ethic 

B9.Christian Leadership 

Kuliah Paket B: pkl. 15.00 - 16.40 WIB 

Biaya Rp. 75.000,-/orang per-topik 
lebih dari 3 orang), 
mengikuti seluruh sesi. 



Pemimpin Program: 

Pdt. Bigman Sirait 

Direktur Program: 

Drs. Victor Silaen, MA. 



Hubungi Sdri. Lidya Wattimena 

42883963/4, Fax: 42883964, HP: 0856-7808400 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



%fias 



Gereja Katolik Santa Maria de Fatima 



e 



Pesona Tiongkok Klasik di Pusat Metropolitan 



Kita seperti digiring menyusuri sebuah titik di negeri Cina saat berdiri di depan 
Gereja Katolik Santa Maria de Fatima Toa Sebio. Gereja berarsitektur Cina ini, 
kini berada di tengah himpitan rumah-rumah penduduk di jalan Kemenangan 
III Jakarta Pusat. 



MEMASUKI halaman Gereja 
Katolik Santa Maria de 
Fatima, Toa Sebio, Jakarta, 
nuansa arsitektur pecinan tampak 
begitu dominan. Di kanan kiri pintu 
masuk menuju gereja terdapat 
hiasan dua patung singa. Konon 
patung singa merupakan per- 
lambang kemegahan kebang- 
sawanan dalam budaya Cina. Dan 
penafsiran itu memang tidak ber- 
lebihan mengingat cikal bakal 
Gereja Toa Sebio adalah bekas 
rumah seorang kapitan keturunan 
Tionghoa, bermarga Tjioe. Rumah 
itu dibeli dengan harga Rp 
3.000.000. 

Meski mengalami beberapa kali 
renovasi namun bentuk asli 
bangunan tersebut tetap diper- 
tahankan. Sekarang kalau kita ber- 
diri persis di depannya, kita akan 
melihat atapnya yang berbentuk 
simetris jajaran genjang dengan 
hiasan ukiran bunga dan huruf cina 
berwarna merah dengan paduan 
warna keemas-emasan. Mirip 
padepokan perguruan Kung Fu 
dalam film-film Mandarin. 

Masih berada di halaman gereja 
seluas 200 meter persegi ini, ter- 
tata apik sebuah menara lonceng 




setinggi 12 meter. Desain atap 
menara lonceng yang dikerjakan 
khusus oleh anggota perkumpulan 
Santa Maria de Fatima ini, di- 
sesuaikan dengan bentuk atap 
gedung gereja. Menariknya proses 
pengerjaannya pun terbilang 
singkat yaitu hanya memakan 
waktu empat bulan. 

Di tahun 1954, kabarnya di 
sekitar halaman gereja yang telah 
berusia lebih dari setangah abad 
ini, terdapat sebuah Gua Maria 
yang sangat sederhana dan di- 
naungi oleh pohon Kamboja dan 
Bougenville. Mengingat karena 
kurang terawat, akhirnya Perkum- 
pulan Santa Maria de Fatima 
memutuskan untuk membuat 
sebuah bukit di sekitar area Gua 
Maria. Bila menginjakkan kaki di 
ruang utama gedung gereja, jelas 
terlihat perpaduan interior khas 
Cina dengan nuansa kekristenan. 
Kesan ini tampak dari sebuah 
pahatan relief kayu dengan icon 
"Perjamuan Terakhir". Ditem- 
patkan di antara ukiran dan huruf- 
huruf Cina berwarna merah 
keemas-emasan. Begitu pula 
jendela di kanan-kiri gereja juga 
terbuat dari kayu dengan motif 
ukiran Cina. Benar-benar 
eksotis. 

Keunikan lain dari 
Gereja Katolik 
Maria de Fatima 
ini adalah 
adanya 
persembahan 
Misa dengan 
menggunakan 
bahasa 
Mandarin setiap 
hari Minggu 



pukul 16.15. Misa tersebut biasa- 
nya dihadiri sekitar 100 sampai 150 
umat. Mereka tidak hanya umat 
dari sekitar gereja tetapi juga 
umat lain yang berkebangsaan 
Italia, Australia, Hongkong dan 
Vietnam. Misa berbahasa Mandarin 
itu juga dilaksanakan ketika 
perayaan Imlek tiba. 

Kelestarian pernak-pernik 
budaya Tionghoa tidak hanya 
dipertahankan baik dari segi bentuk 
bangunan gereja maupun jalur 
ibadah. Namun lebih jauh lagi tra- 
disi etnis yang sudah ratusan 
tahun berada di Indonesia ini ma- 
lah makin dikembangkan, salah 
satunya melalui corak pakaian. 

Ini dapat dilihat dari jubah se- 
orang pater ketika memimpin 
upacara parkawinan. Juntaian 
jubah berwarna merah darah ini 
di bagian depannya bersulam 
tulisan cina yang berarti cinta 
kasih. Begitu pula di bagian be- 
lakang terdapat tulisan cina yang 
berarti kebahagiaan. 

Dirintis tiga orang Pater. 

Pembangunan gereja yang 
menjadi salah satu cagar budaya 
di Jakarta ini, mulai dirintis oleh 
tiga orang pater yang datang dari 
daratan Cina di sekitar tahun 
1950. Mereka adalah Pater 
Conradus Braunmandl SJ (Austria), 
Pater Zwaans SJ (Belanda) dan 
Pater Carolus Staudinger SJ 
(Austria). 

Ketika tahun 1953, Vikaris 
Apostolik Jakarta Mgr. Adrianus 
Djajasepoetra SJ memberikan 
tugas kepada Pater Wilhelmus 
Krause van Eeden SJ untuk 
membeli sebidang tanah di daerah 




Pecinan - sekarang Jl Kemenangan 
III Jakarta Pusat. Pembelian tanah 
tersebut bertujuan untuk men- 
dirikan gereja, sekolah dan asrama 
bagi orang Hoakiauw (Cina Pe- 
rantauan). 

Untuk sekedar di ketahui, pada 
waktu itu umat Katolik yang 
tinggal di wilayah sekitar Kota Ja- 
karta Pusat dapat dikelompokan 
menjadi tiga. Umat berbahasa 
Khek dengan basis di gereja/stasi 
Dwi Warna (sekarang stasi paroki 
Mangga Besar, umat berbahasa 
Indonesia dengan basis di Kali 
Beton (sekarang paroki Mangga 
Besar) dan umat berbahasa 
Mandarin di Budi Mulia (kemudian 
dipindahkan ke Toa Sebio). 

Di tahun 1954, dilangsungkan 
misa pertama di dalam sebuah 
kapel (sekarang gedung gereja 
dari pintu gerbang sampai sebatas 
pilar/tiang besar). Misa ini sendiri 
dihadiri oleh empat orang imam 
dan 16 orang umat. Baru pada 
minggu berikutnya, umat Katolik 
yang mengikuti misa hari Minggu 
bertambah menjadi 20 orang. 

Perkembangan selanjutnya di 
tahun 1955, daerah Jembatan 
Besi Tiga sampai Toa Sebio yang 
semula menjadi stasi dari Paroki 
Mangga Besar, dijadikan Paroki 



berdikari dan memiliki gedung 
gereja tersendiri dengan nama 
Paroki Santa Maria de Fatima Toa 
Sebio nomor 47 ( sekarang Jalan 
Kemenangan III No 47 Jakarta 
Pusat), hingga saat ini. 

Dan sejak 10 Januari 1972 
Gereja Santa Maria de Fatima yang 
sering disebut rumah kediaman 
langgam Cina ini, dinyatakan 
sebagai Bangunan Bersejarah di 
DKI Jakarta dan Cagar Budaya yang 
harus dilindungi. 

eS Daniel Siahaan. 




<Baca Qali MjtaB bersama PPft 



Baca Gali Alkitab adalah sebuah metode untuk 
h merenungkan firman Tuhan setiap hari dalam waktu 
*jy teduh secara berurut per kitab dan kontekstual. 
Langkah-langkah Baca Gali Alkitab adalah: 1) Berdoa, 
2) Baca, 3) Renungkan: Apa yang kubaca; Apa yang kupelajari; 
dan apa yang kulakukan. 4) Bandingkan, 5) Berdoa, 6) Bagikan. 



Amos 5:14-27 



SITUASI di Israel pada masa Amos tidak beda jauh dengan di 
Indonesia. Saat itu, keadaan ekonomi Israel cukup baik, tetapi 
terjadi ketimpangan sosial, dimana orang-orang kaya, pembesar 
dan bangsawan semakin kaya, sebaliknya orang-orang miskin, janda 
dan yatim makin tertindas oleh mereka yang berkuasa. Keadaan 
keagamaan Israel marak dengan aktivitas religi tetapi berbau 
kemunafikan, sinkretisme sampai kepada penyembahan berhala. 

Dalam situasi seperti itu Amos menyampaikan berita 
penghukuman dari Allah. Allah marah kepada umat-Nya, yang 
terikat kepada perjanjian dengan-Nya, karena semua dosa yang 
dilakukan Israel adalah pelanggaran terhadap perjanjian Sinai. 

Amos menyampaikan berita penghukuman diselingi dengan 
panggilan pertobatan supaya hukuman tidak harus menghancurkan 
bangsa itu dengan dahsyat. Bahkan diujung pemberitaannya, 
setelah kepastian hancurnya bangsa itu dinyatakan melalui 
penglihatan ilahi penghancuran mezbah, lambang ibadah sinkretis 
mereka, Amos mengumumkan rencana Allah memulihkan mereka. 



APA YANG KUBACA 



5:14-17 Panggilan berbuat baik 

Israel (sisa-sisa keturunan Yusuf) 

- dipanggil untuk melakukan 
kebaikan, yaitu menegakkan keadilan 
dan menolak kejahatan. (14-15) 

- Israel dipanggil untuk berka-bung 
(16-17) 

- Agar mereka hidup, disertai dan 
dikasihani Tuhan. 

Tuhan (Allah Semesta Alam) 

- Akan menyertai Israel (14) 

- Akan mengasihani sisa-sisa Israel. 
(15) 

- Akan berjalan di tengah-tengah 
Israel. (17) 

5:18-20: Hari Tuhan 
Hari Tuhan adalah hari yang gelap, 
sehingga orang akan mengalami 
malapetaka demi malapetaka, bahkan 
di rumahnya sendiri (18-20) 

5:21-27 Ibadah Israel 

Yang dibenci Allah: (21-26) 

- Korban-korban yang dipersem 
bahkan kepada Allah. 

- Nyanyian dan tarian yang 
dipersembahkan kepada Allah 

- Ibadah yang dipersembahkan 
kepada dewa-dewi kafir 
Yang akan dilakukan Allah oleh karena 
ibadah Israel yang najis: (27) 

- membawa Israel jauh ke 
pembuangan. 

Yang diharapkan Allah: (24) 

- melaksanakan kebenaran dan 
keadilan 



APA YANG KUPELAJARI 



Pelajaran: 

- Tuhan menginginkan umat-Nya 
berbuat baik dengan menegakkan 
kebenaran, keadilan. 

- Hari Tuhan adalah hari 
penghakiman! Tuhan akan 
menghukum orang yang jahat 
dan tidak bertobat. 

- Ibadah yang menurut aturan 
serta yang meriah tidak menjamin 
diterima Tuhan 

- Ibadah tidak hanya perkara 
vertikal tetapi juga urusan 
horisontal. 

Peringatan: 

- Jangan mempermainkan Tuhan 
dengan ibadah-ibadah yang hanya 
kulitnya saja religius. 

- Jangan bermain-main dengan 
segala bentuk berhala. Tuhan 
akan menghukum penyembah- 
penyembah berhala. 

Perintah: 

- Melakukan perbuatan baik, 
menegakkan keadilan dan 
kebenaran. 

- Ibadah disertai dengan 
perbuatan baik 

Janji: 

Tuhan akan mengasihani dan 
mengampuni orang yang 
bertobat. 



APA YANG KULAKUKAN 



Bersyukur: 

Masih ada kesempatan bertobat 
dan mendapatkan belas kasih 
Tuhan yaitu pengampunan. 

Berdoa: 

Bagi gereja-gereja Tuhan, bagi 
umat Tuhan agar tidak terbenam 
hanya pada ibadah, kebaktian, 
ritual yang khusuk ataupun yang 
kharismatik tetapi juga dalam 
memperhatikan jerit-an-jeritan 
orang-orang di luar gereja yang 
kelaparan, tertindas oleh 
kelaliman dan mengulurkan 
tangan kepada mereka yang 
sedemikian. 

Bagi pemimpin-pempimpin 
bangsa kita, semua yang 
mengaku berTuhan, agar juga 
berkemanusiaan. 

Berbuat sesuatu: 

Menjadi Kristen yang peduli 
terhadap sekelilingnya, mulai dari 
yang di dalam rumah (pembantu 
rumah tangga, sopir), yang di 
kantor/ toko/pabrik (karyawan, 
sesama rekan kerja) sampai 
kepada mereka yang di 
lingkungan lebih luas. Pendek 
kata kepada siapa saja Tuhan 
memper-temukan orang Kristen. 

BANDINGKAN : uraian perikop ini 
ada di Santapan Harian PPA 21 
Juli 2003. 



Daftar Bacaan BGA 
Bacaan Alkitab selama 11 hari: AMOS 
Hari ke- 1) Amos 1:1-2:3 2) 2:4-16 3) 3:1-15 4) 4:1-13 5) 
5:1-13 6) 5:14-27 7) 6:1-14 8) 7:1-17 9) 8:1-14 10) 9:1- 
10 11) 9:12-15 



Dipersiapkan oleh: Hans Wuysang, M.Th. 



Laporan 'Khusus 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



l\2 



Ketika Perempuan Masih 

Dinomor 



ASUS pelecehan seksual 
yang dialami perempuan, 
baik dalam kehidupan 
rumah tangga serta sosial 
masyarakat sehari-hari, masih terus 
terjadi. Seperti dialami Sumarni 
(sebagaimana dikutip dari koran 
Terminal Selasa, 26 Agustus 2003) 
yang mengaku sering diper- 
lakukan kasar, baik pemukulan 
serta bentakan dari sang suami. 
Bahkan, dia tidak mendapat 
tunjangan hidup berbulan-bulan. 
Hingga akhirnya, ia memutuskan 
untuk bercerai. 

Sebenarnya, kisah pilu yang 
dialami Sumarni, banyak juga 
menimpa hidup jutaan perempuan 
di dunia, termasuk di Indonesia. 
Kasus-kasus pelecehan seksual 
setiap hari terjadi. Ini terbukti 
dengan sajian berita-berita di- 
televisi yang masih menampilkan 
beragam peristiwa seputar pe- 
lecehan seksual, dengan perem- 
puan sebagai obyek penderitanya. 
Pertanyaan yang harus diutarakan 
tentang masalah diskriminasi 
gender tersebut adalah sebenar- 
nya sejauh mana hukum di 
Indonesia menjamin penegakkan 
keadilan atas hak-hak kaum 



perempuan? 

Rita Serena Kalibonso, S.H., 
LL.M, Direktur Eksekutif dari 
Yayasan Mitra Perempuan 
mengatakan, memang 
perangkat per- 
lindungan 
hukum di Indo- 
nesia masih 






SGM Indonesia 
■■■ ■■■ ■■■ 



Mengenal SGM 



Scripture Gift Mission ialah Badan Penerbit Kristen yang 
menyediakan Firman Allah secara cuma-cuma untuk 
didistribusikan secara pribadi. 

Firman Allah: Publikasi SGM merupakan gabungan 
dari ayat-ayat Alkitab pilihan yang disesuaikan dengan 
kebutuhan. 

Gratis: Tanpa Biaya. Pelayanan ini didukung oleh 
pemberian kasih dari umat Allah. 



Dibagikan secara pribadi: SGM memberikan Firman 
Allah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang dengan 
permasalahan yang khusus seperti depresi, perceraian, 
kesedihan, kesendirian dan lain-lain. Digunakan khusus 
dalam kontak-kontak pribadi, bukan dibagikan secara 
umum pada orang banyak atau didistribusi massa. 



Hidup Diubahkan 



Setiap hari SGM menerima banyak informasi 
tentang banyak kehidupan yang telah 
mengalami keubahan, dosa-dosa diampuni, 
hibungan dipulihkan, karena ayat-ayat Alkitab 
dalam terbitan kami. Hal ini terjadi karena Anda 
telah mengambil inisiatif untuk memberitakan 



SGM telah menerbitkan 200 judul dalam 
lebih dari 800 bahasa: 

- untuk penginjilan (kesaksian pribadi, 
kunjungan rumah sakit dan penjara) 

- untuk kehidupan keluarga 

- untuk kelompok-kelompok orang dengan 
kebutuhan yang berbeda 

- judul tertentu (untuk Natal, Paskah, dll) 



SGM Indonesia dan Anda 

Kami bersedia membantu dalam pelayanan pribadi dan pelayanan gereja Anda. Penerbitan kami 
disediakan tanpa dikenakan biaya. 

Kami mendorong Anda untuk memberikan literatur SGM kepada pribadi-pribadi. Kami 
mengharapkan berita dari Anda tentang bagaimana Allah telah memakai publikasi ini untuk menjadi 
berkat bagi orang lain 

Doakanlah Kami 

Lebih dari seabad Allah telah menyediakan kebutuhan keuangan SGM melalui umat-Nya. Kebutuhan 
kertas cetak, ongkos pengiriman sangatlah besar. Kami bersedia untuk memberikan keterangan lebih 
banyak tentang hal ini 



Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang hal ini silakan menghubungi kami 
ke alamat terdekat dengan tempat Anda di: 

Jakarta : SGM Indonesia, 31. Angkasa 9 Jakarta 10610; 

Telp. 021-42885649-50 (contact person: Santono, 

Pdt. Gunar Sahari, M. D i v.: 0816714983, 021-82406820) 

e-mail: indo@sgm.org 
Surabaya : SGM Indonesia Kotak Pos 1290 Surabaya 60012 

Telp. 031 - 8290163; fax: 031 - 8293585; 

e-mail: yakinsby@rad.net.id 




Yayasan SGM Indonesia No. Rek. 5500301114 BCA Kemanggisan 



cukup lemah. Hal ini dapat 
dibuktikan dengan tingginya 
angka kekerasan yang dialami 
perempuan. Khususnya yang 
terjadi di lingkungan rumah 
tangga, dengan pelakunya adalah 
suami sendiri. 

Sepuluh tahun lalu angka 
kekerasan di rumah tangga 
-yang diungkap— tidak 
setinggi saat ini, seperti 
didata oleh crisis center 
dari Mitra Perempuan. 
Bahkan Kofifah Indra 
Parmawangsa saat 
menjabat sebagai 
menteri Peranan Wa- 
nita pernah menga- 
fc takan kalau, kekerasan 
terhadap perempuan 
banyak terjadi pula di 
desa-desa. Selain kadar 
kesadaran elit politik di 
Senayan sendiri yang 
terkesan kurang peka 
untuk memproduksi 
undang-undang 
perlindungan terhadap 
kaum perempuan. Pada- 
hal, fakta obyektif dila- 
pangan jelas mengung- 
kapkan, bahwa perem- 
puan sangat rentan terhadap 
segala bentuk gangguan ke- 
amanan. Dan masyarakat sendiri 
sepertinya tidak terlalu peduli akan 
masalah ini. 

"Lemahnya perlindungan 
hukum itu sendiri dapat dibuktikan 
dengan banyaknya kasus ke- 
kerasan yang tidak sampai kemeja 
hijau. Presentase kasus kekerasan 
terhadap perempuan sendiri hanya 



sepuluh persen yang sampai ke 
pengadilan," kata Kalibonso pada 
REFORMATA saat sela acara 
Seminar Transformasi Keadilan 
Gender di Hotel Wisata per- 
tengahan Agustus di Jakarta. Jadi, 
lanjutnya, citra penegakkan 
hukum di Indonesia, dan khusus- 
nya dalam persoalan kekerasan 
terhadap kaum perempuan, 
memang masih memberi kesan 
buruk. Ditambah pula dengan 
pengakuan masyarakat terhadap 
nilai-nilai kekerasan terhadap 
perempuan dalam lingkup keluarga 
pun masyarakat. 

Mitra Perempuan sendiri me- 
nurut Rita, berusaha memberikan 
kenyamanan serta keamanan 
pada para perempuan yang 
menjadi korban kekerasan. Wujud 
nyata usaha perlindungan itu 
dengan menyediakan rumah aman 
dan hotline untuk pengaduan 
atas segala tindak kekerasan. 
Menurut Rita, sekitar 70-80 
persen kekerasan terhadap pe- 
rempuan dilakukan oleh pa- 
sangannya atau suami. 

Oleh karenanya, masyarakat 
perlu meningkatkan kepedulian 
terhadap para korban kekerasan 
-maksudnya perempuan yang 
diperlakukan tidak adil baik oleh 
pasangan atau suami. Selain 
penegak hukum yang semestinya 
sungguh-sungguh mengusahakan 
keadilan bagi perempuan yang 
menjadi korban kekerasan. 
Kalibonso pun berharap, kiranya 
para tokoh agama mengem- 
bangkan tafsir Kitab Suci yang 
mencerahkan paradigma kultural. 
Sehingga dalam budaya patriakhal, 
nilai-nilai penghargaan terhadap 
perempuan diunggulkan pula. 




o 

e- 
— * 



Jas Pria Lengkap (milik/sewa), Gaun Pesta, Tunangan, Ulang 
Tanun, Keluarga Pengapit, Pagar .Ayu, Gaun Pengantin, Seragam 
Kantor- Kartu Undangan, Kue Pengantin, Mobil, Video, Phoyo, 
MC, Salon, Ltilur, Body Massage 
Terima Make-up Panggil di Tempat 
Terima Order Pakaian Pengantin / Pesta 
Untuk Salon di Seluruh Indonesia 
Express & Mutu Terjamin 



HUBUNGI: 



Jl. Ir. H. Juanda I-A/6 
Jakarta Pusat 10120 
Telp. 384-8057 
HP. 0816-4837347 



31 Gunung Sahari IV No. 15 
Jakarta Pusat 10610 
Telp. 422-0101 
424-0894 



ITC Mangga Dua 

Pusat Butik Lt 5 Blok B-171 

Jakarta Utara 

HP. 0816-4837347 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Laporan "Khusus, 



Magdalena Sitorus 



Akibat Budaya 
Timur 



Meskipun Presiden Republik 
Indonesia adalah seorang 
perempuan, tetapi diskriminasi 
gender tetap saja ada di negeri 
ini. Demikian dikatakan 
Magdalena Sitorus pada 
REFORMATA. 

Lebih lanjut menurut direktur 
Solidaritas Aksi Korban Kekerasan 
Terhadap Anak & Perempuan 
(SIKAP) ini, Tindak kekerasan 
terhadap Perempuan dan anak 
terjadi tidak hanya di luar rumah, 
tapi juga di dalam rumah. 
Kekerasan kekerasan yang 
dialami oleh perempuan 
umumnya berhubungan dengan 
kekerasan fisik dan non-fisik. 
Dalam konstruksi masyarakat 
Timur, kekerasan dalam rumah 
tangga, sering kali dianggap 
sebagai urusan dalam rumah 
tangga itu sendiri. Akibatnya, 
banyak perempuan dan anak- 
anak yang menjadi korban 



hasrat si suami untuk berse 
lingkuh. Dan itu sah-sah saja! 
Tapi, ketika perempuan meng 
inginkan hubungan seksual, bisa- 
bisa hal itu dianggap sebagai aib! 
Yang lebih agresif itu harus laki- 
laki. Vonis-vonis seperti ini masih 
ada dalam masyarakat. Padahal 
tidak boleh demikian! Perem- 
puan dan laki-laki punya hak yang 
sama. Laki-laki juga bisa menolak 
hubungan seksual dan perem 
puan punya hak untuk meminta 
dipenuhi keinginan seksnya! Dan 
semua itu sah-sah saja. Sehingga 
kesimpulannya, dalam melakukan 
hubungan seksual, kedua belah 
pihak harus sama-sama mau. 
Tidak boleh ada paksaan. 

Dalam kultur Asia, membi- 
carakan masalah keluarga dimuka 
umum merupakan hal yang 
tabuh. Itu sebabnya, masalah 
kekerasan terhadap perempuan 
dan anak-anak menjadi sulit 




kekerasan enggan berbicara 
menyuarakan perlakuan kasar 
yang menimpa diri mereka 
kehadapan hukum. 

Dari data yang terhimpun, 
SIKAP menyimpulkan, tindak 
kekerasan seksual sangat tinggi. 
Kalau data yang serupa 
dikumpulkan dari lembaga yang 
peduli terhadap kekerasan 
terhadap perempuan dan anak, 
maka kita akan menemukan data 
yang signifikan. 

Kekerasan fisik seperti dipukul 
dengan tangan, atau alat, 
apalagi hingga cidera atau 
kematian, dapat mengakibatkan 
traumatik. Atau mengganggu 
perkembangan phisikologis. Dan 
belum ada undang-undang yang 
melindungi perempuan dari 
segala bentuk kekerasan. 
Bahkan kekerasan seksual 
sekalipun. Seperti, istri yang 
dipaksa melayani kebutuhan 
suaminya, inikan sulit untuk 
diperkarakan, karena belum ada 
UU yang mengatur persoalan 
seperti itu. Semua ini, 
merupakan konklusi budaya, 
bahwa kebutuhan seksual suami 
wajib dilayani setiap saat. Kalau 
tidak, dapat menyebabkan 



"diatasi". Beda dengan masya- 
rakat Barat, yang lebih terbuka 
dan bebas. Ini sangat mempri 
hatinkan, bukan berarti tidak ada 
laki-laki yang jadi korban 
kekerasan perempuan. Ada, tapi 
relatif kecil. 

Kenapa hal ini terjadi, karena 
kaum Adam beranggapan bahwa 
pasangan hidup itu 'bak barang 
pribadi. Sehingga bebas mau 
diapakan saja. Paradigma ini 
mungkin terlalu dipengaruhi 
kultur Patriakalistik. Seharusnya 
tidak demikian, anak dan perem- 
puan bukan sebagai. Seharusnya 
dipahami sebagai subyek. 

Memang menyejajarkan 
Perempuan dan Laki-laki tidak 
gampang dan perlu waktu yang 
panjang. Sebab sudah tertanam 
selama bertahun-tahun. Kalau 
kita perhatikan dengan seksama, 
konfensi yang dibuat PBB, CEDO. 
Salah satu bagiannya 
mengatakan bahwa negara- 
negara harus memperhatikan 
kodrat perempuan yaitu 
kehamilan. Jangan kehamilan 
menghambat kebebasan untuk 
berekspresi serta berkreasi. 

^ Binsar TH Sirait 



"Perempuan Tidak 




Diatas Mimbar" J 




■s 



DI Gereja Bethel Indonesia, 
Jemaat Bukit Kalvari, 
seorang perempuan tidak 
diperkenankan naik mimbar untuk 
berkotbah. Sekalipun ia bergelar 
sarjana Teologia. Hal ini dikatakan 
Pdt. Ade Manuhutu saat ditemui 
REFORMATA, Jumat, 8 Agustus 
2003, di Jakarta. 

Kebijakan itu menurut Ade, 
untuk mengembalikan kehidupan 
bergereja seperti gereja mula- 
mula. Berikut petikan wawancara 
REFORMATA dengan Gembala 
Sidang G BI Bukit Kalvari, Pdt. Ade 
Manuhutu, di ruang kerjanya. 

Mengapa gereja anda tidak 
memperbolehkan perempuan 
untuk berkotbah? 

Itu amanat dari Tuhan. Karena 
pada tahun 1991, Tuhan beri di 
hati saya masa tugas memulihkan 
gereja-Nya. Artinya, mengem- 
balikan gereja pada fungsi seperti 
dimasa pertama berdiri (baca: saat 
gereja mula-mula). Pemulihan itu 
menuntut berbagai aspek; Per- 
tama. Dari segi anggota tubuh 
Kristus. Jemaat harus mengalami 
pertumbuhan rohani dan ini harus 
terjadi. Caranya jemaat dididik, 
digembleng dengan Firman Tuhan 
agar bertumbuh serupa dengan 
Kristus. Kedua. Pemulihan ke- 
luarga, artinya, posisi bapak dalam 
rumah tangga dikembalikan dalam 
peran sebagai kepala keluarga. 
Dan itu berarti juga sebagai Imam 
untuk keluarganya. Sedangkan 
sang istri, diandaikan sebagai tiang 
doa. Serta sebagai penolong sua- 
mi, sebagaimana awalnya Tuhan 
ciptakan. Bukan sebaliknya, se- 
bagai perongrong suami. Se- 
hingga, bapak, turut bertang- 
gung jawab atas pertumbuhan 
rohani keluarganya. 

Sedangkan pemulihan ketiga 
ialah atas berkat-berkat Tuhan. 
Kenapa? Karena sekarang banyak 
keluarga yang menurunkan harkat 
dan martabat sebagai keluarga 
Kristen. Banyak keluarga Kristen 
yang menjadi cela, bukan berkat. 

Baru kita pada pemulihan ge- 
reja secara hakiki. Contoh praktis 
dalam ibadah, ada pemulihan 
dalam pujian dan penyembahan 
kepada Allah. Pemulihan dalam 
kotbah, pemberitaan Firman 
Tuhan, sampai mujizat-mujizat. 

Jadi maksud anda, semua itu 
sesuai dengan semangat Al- 
kitab? 

Ya! Waktu itu saya bergumul 
dan kemudian sampaikan kepada 
pelayanan-pelayan yang lain. 
Kemudian kami berdoa dan Tuhan 
mengingatkan kami, atau ber- 
bicara kepada kami, untuk me- 
ngembalikan fungsi Perempuan 
pada fungsinya. Walau keputusan 
saya itu sempat dimintai per- 
tanggung jawaban oleh Sinode 
GBL Persoalannya ya sekitar ke- 




bijakan saya yang tidak meng- 
injinkan Perempuan naik mimbar 
atau berkotbah, serta tidak akan 
mentahbiskannya untuk menjadi 
pendeta. 

Tetapi bukan berarti saya 
mematikan karier Perempuan 
dalam pelayanan! Saya hanya 
mencoba mengembalikan pada 
porsinya. Kaum Hawa silahkan ber- 
nubuat, bersaksi siapa meng- 
halangi, memimpin tim doa safaat! 
Mereka cocok untuk hal itu, dan 
sangat luar biasa! Karena pe- 
rempuan, lebih peka dari laki-laki. 
Juga melakukan perkunjungan. 
Dan semua itu kami dukung! 
Sebab, kaum Adam, kebanyakan 
tidak sempat menjalankan hal-hal 
tersebut. Mengapa? Karena harus 
bekerja. Sedangkan untuk kotbah 
diatas mimbar pada hari minggu, 
tetap tidak!. 

Kenapa? 

Pertanyaan anda bukan yang 
pertama dan sudah banyak per- 
tanyaan yang serupa. Pertanyaan 
ini kemudian saya tanya kepada 
Tuhan kenapa. Kemudian mem- 
beri pengertian kepada saya, 
ketika Tuhan Yesus Kristus me- 
nyampaikan Amanat Agung dalam 
Matius 28 19 - 20. juga pada 
waktu Ia menampak diri kepada 
para murid, di kelompok 11 murid 
- karena Yudas Iskariot sudah 
menggantung diri, kepada 70 
orang murid dan 500 orang murid. 
Disana tidak disebutkan Perem- 
puan. Tapi dalam menyampaikan 
Amanat Agung, hanya kepada 11 
murid. Apakah Tuhan lupa kepada 
para Perempuan! Saya pikir tidak, 
karena pada waktu Ia bangkit dari 
kubur yang pertama kali tahu 
adalah Perempuan. Kemudian 
perempuan itu disuruh memberi- 
tahukan kepada Petrus dan 
teman-teman. Ingat disuruh 
memberitahu, bukan berkotbah. 
Pada waktu Amanat Agung di- 
sampaikan semuanya laki-laki. Inti 
Amanat Agung ialah jadikan 
semua bangsa muridku, baptis 
dan ajar melakukan segala sesuatu 
yang Kuperintahkan kepadamu. 

Apakah Perempuan boleh 
membaptis? Kalau perempuan bo- 
leh mengajar, kenapa tidak mem- 
baptis juga. Kenapa tidak pimpin 
Perjamuan Suci sekalian. Contoh 
praktis saja, lihat di Gereja Pen- 
takosta dan Karismatik, tidak ada 
Perempuan yang memimpin sa- 
kramen baptisan dan Perjamuan 
Kudus dan tidak ada Pendeta Pe- 
rempuan yang memberkati per- 
nikahan, tapi digereja lain ada. 
Kenapa ini terjadi? Jawabannya 
ialah kembalikan Perempuan pada 
tempatnya, yaitu sebagai pendoa 
safaat, mengadakan perkun- 
jungan dan lain-lain. Pada waktu 
saya melakukan hal ini, Sinode GBI 
memanggil saya untuk disidang. 
Status kependetaan saya diragu- 



dt. Ade Manuhutu 
bala Sidang GBI 
emaat Bukit Kalvari 



kan. Saya jelaskan pandangan saya 
secara alkitabiah dengan tenang 
kepada Badan Pekerja Harian 
(sekarang Badan Pekerja Sinode) 
GBI. Secara Alkitabiah saya tidak 
bisa dibuktikan bersalah. Saya 
tidak mengutip bagian firman 
Tuhan yang ditulis Rasul Paulus ini 
dan itu. Itu - maksudnya adalah, 
kebijakan Ade yang melarang pe- 
rempuan melayankan sakramen 
dan firman— adalah inti dari Ama- 
nat Agung Tuhan Yesus Kristus. 

Tapi mengapa dalam Per- 
janjian Lama, Allah juga 
memakai perempuan seperti 
Debora, Hulda dan yang lain? 

Ya betul, tapi mereka kan 
nabiah, yang menyampaikan 
nubuatan dan memimpin perang. 
Konteksnyakan saat laki-laki 
pengecut. 

Jadi antara nubuat dengan 
kotbah beda? 

Beda, kotbah itu pengajaran. 

Tapi dalam Kisah Rasul pun 
perempun juga terlibat dalam 
pelayanan Paulus, seperti 
Lidia, Febe dan lain-lain. Bagai- 
mana Anda menafsirkan kisah- 
kisah tersebut? 

Kalau kita kembali dalam Kisah 
Rasul Paulus dengan tegas meng- 
atakan "Aku tidak menginjinkan 
Wanita berbicara, bertanya di- 
dalam jemaatpun tidak." 

Jadi disinipun sudah terjadi 
kontroversial, Paulus seorang yang 
keras dalam pendirian, itu di- 
ungkapkan dalam Filipi 3. ia se- 
orang Farisi, ahli Taurat, disiplin 
tinggi, apalagi setelah jadi murid 
Kristus. Tidak mungkin ia menjilat 
perkataannya sendiri. Tapi ia tidak 
memutuskan hubungan dengan 
wanita, lihat saja Paulus bisa be- 
kerja sama dengan Lidia, Febe. 
Tapi tidak untuk kotbah! Per- 
tanyaan juga timbul kenapa dalam 
Amanat Agung Wanita tidak 
disertakan. 

Jadi apa saja tugas perempuan 
di gereja Anda? 

Pedoa safaat, pemimpin kaum 
wanita. Dan di sana, mereka bisa 
saling membagi "berkat". 

Apakah pembagian peran se- 
perti itu tidak memberi kesan 
adanya diskriminasi gender? 

Tidak, justru mereka ditempat- 
kan pada tempat yang tepat. 
Katakan saja dalam tim doa safaat, 
perempuan jauh lebih peka dari 
laki-laki. Jadi tidak benar kalau 
mereka berpendapat saya tidak 
menghargai Perempuan dalam 
pelayanan. Wanita bernubuat 
silahkan, tapi karunia roh tunduk 
kepada otoritas Allah. Tidak ada 
otoritas Allah tunduk kepada 
karunia roh. 

Binsar TH Sirait 



o 



(Binmng-Sincang 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



APAKAH masyarakat kita 
memang sedang sakit? 
Masihkah nilai-nilai religius, 
moral dan etika d iwujud nyatakan 
dalam kehidupan sehari-hari? 
Berikut bincang-bincang penulis 
65 buku sekitar kesehatan ini 
bersama REFORMATA: 

Bagaimana pandangan Anda 
atas kasus anak usia 12 tahun 
yang menggantung diri ka- 
rena tidak bisa membayar 
uang ekstrakuler Rp. 2500? 

Masyarakat kita sedang 
rentan. Tidak sakit dan belum 
sembuh. Gara-gara uang parkir 
Rp. 1000, orang membunuh se- 



bunuh diri. Tiap anak dituntut oleh 
orang tuanya untuk menjadi yang 
nomor satu. Pada waktu anak ga- 
gal, ia malu dan membunuh dirinya 
sendiri. Orang yang bunuh diri, 
biasanya tergolong introvet, ia 
tidak bisa mengeluarkan per- 
masalahnya kepada orang lain dan 
kurang bergaul. Segala sesuatu 
yang dihadapi disimpan dalam hati. 
Dalam tataran sosial, bagai- 
mana Anda melihat kehadiran 
orang-orang Orde Baru ke 
panggung politik? 

Keinginan sebagaian oknum 
yang pernah berkuasa di masa 
Orde Baru ke panggung politik 
atau kekuasaan, adalah wajar dan 



Betul, ia orang beragama, punya 
superego, tapi tidak bermoral. 
Orang beragama belum tentu 
bermoral dan sebaliknya. 
Apakah kebiasaan korupsi ini 
disebabkan oleh keinginan 
untuk memperoleh uang se- 
banyak-banyaknya? 

Pendidikan di Barat men- 
juruskan orang untuk menjadi 
nomor satu. Dan nomor satu arti- 
nya mengusai uang. Kalau dilihat 
dari sudut agama, ini yang disebut 
hedonistik, mendewakan hal 
duniawi dan nikmat. Kenikmatan 
jika ditarik benang merahnya ada 



dengan tidak berpendidikan. Itu 
bisa dideteksi mulai dari sistimatika 
berpikir dan pengambilan ke- 
putusan dan lain-lain. Sebagai 
manusia yang normal, hati nu- 
raninya pasti bicara. Layak tidak 
saya duduk disini, berkompeten 
tidak di posisi yang strategis dan 
enak ini. Korupsi, mendapatkan 
uang dengan cara gampang biasa- 
nya dilakukan oleh orang yang ku- 
rang berpendidikan dengan me- J 
manfaatkan peluang yang ada. j0 

Sekarang sedang terjadi kri ^ 
kekacauan etis. Mayoritas ya- ; 
salah, nilainya menjadi benar. Ke- 



dr. Handrawan Nadesul: 




"Banyak Orang Beragama Tapi Tidak Bermoral! 



samanya. Kalau dilihat dari aspek 
penyakit jiwa, seseorang yang 
melakukan bunuh diri melalui 
beberapa fase. Sress, frustrasi, 
depressi, kegagalan memper- 
tahankan diri atau jiwa membuat 
orang tersebut rentan. 

Tiap orang mempunyai daya 
tahan atau ketahanan mental 
yang berbeda satu dengan yang 
lain. Ketahanan mental itu pada 
umumnya terbangun dari peng- 
alaman masa kecil. Pahit, getir dan 
kesengsaraan hidup membuat 
seseorang itu tahan uji, tahan ban- 
ting. Ketahanan mental orang 
beriman kepada Tuhan Yesus 
Kristus, beda dengan ketahanan 
mental orang lain. 

Kasus anak usia 12 tahun yang 
menggantung diri, karena tidak 
mampu membayar uang ekstra- 
kurikuler Rp. 2.500 termasuk kasus 
yang langka dan itu menunjukkan 
masyarakat kita yang rentan, tidak 
sakit, belum sembuh. 
Apakah hal semacam itu 
diakibatkan oleh tingkat kom- 
petisi yang tinggi? 

Ya, Jepang merupakan negara 
tertinggi dalam kasus anak sekolah 



m. 



manusiawi. Namun jika ditelusuri 
lebih "dalam", ini menunjukkan 
gejala masyarakat yang rentan 
tadi. Kenapa, karena salah satu 
sifat dan sikap manusia ialah ingin 
mendapatkan sesuatu dengan 
gampang dan mudah. Tanpa 
harus melalui jerih lelah atau me- 
meras keringat. 

Sifat 'gampangan' itu pula 
yang melahirkan korupsi? 

Manusia punya ego, punya 
keinginan dan punya naluri seperti 
binatang. Kadarnya bisa berbeda- 
beda. Kita lihat sekarang, korupsi 
justru dilakukan oleh orang 
berpendidikan, bukan orang 
bodoh. 

Seharusnya, orang semakin 
berpendidikan dalam dirinya ada 
"polisi" seperti agama, moral, etika 
dan adat istiadat yang mengotrol 
apakah perbuatannya berten- 
tangan dengan agama yang di- 
anutnya. Hati nuraninya, pasti ber- 
bicara pantas tidak melakukan 
tindakan korupsi dan senonoh. 
Kenyataan di lapangan menunjuk- 
kan bahwa korupsi dilakukan oleh 
orang-orang yang berpendidikan 
tinggi. Artinya kontrol super- 
egonya hanya di atas kertas. 



di otak manusia. Bisa diter- 
jemahkan kenikmatan dari uang, 
obat-obatan terlarang dan seks. 
Dengan uang, orang bisa berbuat 
apa saja, masyarakat menjadi 
hedonis. 

Hidup sudah bergelimang harta 
benda, tapi tetap merasa miskin. 
Di Indonesia orang menjadi 
pejabat negara untuk mencari 
harta. Sedangkan di Amerika 
(negara lain juga) menjadi pejabat 
negara karena memang sudah 
kaya. Jadi pada waktu kampanye 
tidak korupsi atau menyalah- 
gunakan jabatan. 
Apakah itu mempengaruhi 
pula pola rekrutmen kepe- 
mimpinan? 

Ya, untuk menjadi lurah 
misalnya, tidak perlu kompentensi 
dan tidak harus pinter. Ya, cukup 
dengan pengaruh dalam masya- 
rakat dan punya uang. Selama 
kondisi seperti ini dipelihara, maka 
posisi kunci akan diduduki oleh 
orang-orang yang tidak ber- 
pendidikan dan berbahaya. 

Seharusnya posisi strategis 
ditempati oleh orang-orang 
berpendidikan. Kita tahu per- 
bedaan orang berpendidikan 



tika mayoritas berbuat salah 
nyatakan benar, maka orang ju 
terkubur. 

Di bea cukai kalau ada oknum 
yang jujur, itu oknum. Bukan bea 
cukainya. Orang jujur selalu 
dibuang atau disingkirkan. Se- 
karang kalau ada orang seperti 
Arief Budiman pasti akan di- 
singkirkan. 

Bisa tidak agama membrantas 
korupsi? 

Di Jepang orang tidak ber- 
agama, tapi bermoral. Meskipun 
Indonesia dikenal sebagai negara 
yang agamis, namun agama tidak 
punya peranan sama sekali dalam 
hidup berbangsa dan bernegara. 
Agama lebih banyak dipergunakan 
sebagai komoditas politik, agama 
kita hanya diatas kertas. 

Kita tidak praktekan hidup 
keagamaan itu dalam kehidupan 
sehari-hari. Contoh praktis, ke- 
rukunan antar beragama yang 
ada. Kerukunan antar kita umat 
beragama tidak pernah di- 
bicarakan. Kalau sampai ada, ini 
keliru, bahaya besar. Karena hanya 
keinginan orang-orang diatas sana, 
yang tahu hanya buat konsep, tapi 
tidak pernah mempraktekan. 



Rakyat sudah mempraktekkan 
hidup rukun dan damai selama 
bertahun-tahun. Buat apalagi 
undang-undang kerukunan umat 
beragama. Jadi seperti sengaja di- 
ciptakan dikotomi dengan kon- 
sep-konsep. Ini pekerjaan orang- 
orang diatas yang memperelite, 
memperekonomi, memper- 
kulturkan. Pada hal rakyat sendiri 
tidak mempermasalahkannya. 
Penyakit ini memang sulit untuk 
diberantas. Kalaupun bisa, me- 
makan waktu beberapa generasi. 
Anda melihat pendidikan bisa 
mengatasi semua ini? 

Apalagi kalau melihat sistim 
pendidikan sekarang, saya 
pesimis. Karena di sekolah hanya 
terjadi transfer pengetahuan, 
tidak disertai dengan pendidikan. 
Kalau mengajar itu hanya proses 
memindahkan ilmu. Mendidik 
lebih dari sekedar mengajar. Men- 
didik menjadikan anak yang 
bermartabat, insan khamil dan 
sebagainya. Orang tua sibuk, 
guru mengajar, tidak menem- 
patkan diri sebagai pendidik. 

^ Binsar T H Sirait 



mm 



tosan 



O^^tenjadi SSuah 



ADA banyak alasan mengapa 
seseorang membuka usaha 
sendiri. Salah satunya karena 
bosan menjadi anak buah. Itulah 
yang dialami oleh Achen, se- 
orang pengusaha salon pengan- 
tin yang cukup sukses di Jakarta. • 
Lebih dari 10 tahun lalu, Achen 
bekerja pada sebuah perusa- 
haan konveksi. Meski memegang 
jabatan yang cukup tinggi di pe- 
rusahaan tersebut, namun 
Achen tetap merasa dirinya se- 
bagai anak buah. "Setiap hari, 
bahkan setiap saat, kita harus 
melapor ke atasan. Meski punya 
kreativitas, namun sering kali 
tidak bisa kita wujudkan karena 
terbentur dengan tuntutan dan 
aturan perusahaan. Itulah susah- 
nya jadi anak buah," tegas 
Achen. 

Bosan menjadi anak buah, 
tahun 1990 Achen mendirikan 
usaha sendiri. Usaha yang di- 
pilihnya adalah salon pengantin. 
Soal pilihannya ini Achen men- 
jelaskan, " Sejak kecil saya sudah 
suka pada dunia fashion. Bakat 
yang Tuhan berikan pada saya 
boleh dibilang, ya, di bidang fas- 
hion ini. Umur 15 tahun saya su- 
dah bikin gaun malam sendiri. Itu 
tanpa kursus macam-macam lho. 



Setelah bekerja, saya mengambil 
beberapa kursus, termasuk kursus 
membuat gaun pengantin. Tahun 
1988 untuk pertama kalinya saya 
membuat gaun pengantin hasil 
rancangan saya sendiri. Sejak itu, 
banyak teman, bahkan sampai 
salon-salon ternama minta gaun 
pengantin hasil rancangan saya. 
Itulah sebabnya, ketika berhenti 
dari perusahaan konveksi ter- 
sebut, saya langsung membuka 
usaha salon pengantin ini," jelas 
Achen. 

Usaha yang dirintisnya di Jalan 
Juanda IA/6 itu, perlahan tapi 
pasti, terus dibanjiri banyak ^£ 
order dan permintaan. wk 
Permintaan para konsu- \ ffj* 
mennya bahkan tidak lagi ' JST 
terbatas hanya pada gaun j v 
pengantin dan make up, * A 
tapi juga sudah me- 
nyentuh hingga 
ke seluruh ke- 
perluan bridal 
mulai dari surat 
undangan, 
photo, shooting, 
bahkan sampai 
gaun bagi ke- 
luarga pengan- 
tinnya. Untuk 
menyediakan 





semua itu, mau 
tidak mau 
Achen harus 
mendirikan 
sebuah show 

room. "Show room ini didirikan 
untuk memudahkan para kon- 
sumen memilih jenis bridal yang 
mereka butuhkan," jelas perem- 
puan kelahiran Jakarta ini. 

Hingga kini, salon pengantin 
Achen boleh dibilang salah satu 
salon yang paling dicari oleh 
masyarakat di Jakarta. Selain 
menyediakan keperluan bridal, 
salon Achen juga memproduksi 
gaun malam. Pemakai gaun 
i malam inilah yang setiap 
harinya membanjiri salon 
Achen. Menurut Achen, 
setiap harinya sedikitnya 
ada 5-10 orang yang 
| datang memesan atau 
mengambil gaun malam 
di salon. 

Bagaimana 
dengan gaun 
pengantin dan 
berbagai 
keperluan 
b r i d a I n ya . 
Menurutnya, 
Achen, inilah 
salah satu 



pe 

1 ; 



keunikan dalam dunia perbridalan. 
Dalam seminggu belum tentu ada 
calon pengantin yang datang ke 
salonnya. Tapi ketika mereka da- 
tang sekali, jumlahnya tidak tang- 
gung-tanggung bisa sampai 10 
pasang pengantin. Ini belum ter- 
masuk keluarganya, yang untuk 
satu pasang pengantin biasanya 
membawa 5 orang keluarga untuk 
sama-sama dirias di salonnya. Kalau 
ditotal-total, jumlahnya dalam 
sehari bisa mencapai 50 orang. 

Mengapa bisa demikian? Me- 
nurut Achen, sebelum menentu- 
kan tanggal perkawinannya, para 
pengantin biasanya berkonsultasi 
pada hongsui (peramal cina) 
untuk menentukan saat yang 
tepat untuk melangsungkan per- 
kawinan mereka. "Kalau sudah 
begitu, hampir seluruh karyawan, 
saya ajak lembur," jelas Achen yang 
ini memiliki 23 orang karyawan 
yang semuanya merupakan te- 
naga ahli. 

Ketika ditanya kunci suksesnya 
dalam membangun usaha ini, 
Achen mengajukan 3 alasan. Per- 
tama, doa. Menurutnya, sehebat- 
hebatnya manusia bekerja, tapi 
kalau hanya bergantung pada ke- 
mampuan sendiri, maka semuanya 
akan sia-sia dan gagal. Kedua, 
kreatif dan inovatif. Menurutnya, 
untuk menjadi pengusaha yang 
sukses, maka seorang pengusaha 
harus selalu melakukan inovasi 



pada produk-produknya. "Sering 
kali kita harus berani rugi dalam 
melakukan inovasi. Jika saya lihat 
ada corak atau bahan yang 
menarik dari majalah-majalah 
model luar negeri, maka saya se- 
lalu berkreasi untuk menghasil- 
kan satu desain yang baru. De- 
sain itu bisa saja disukai, tapi bisa 
juga tidak disukai. Dalam konteks 
itulah yang saya maksud berani 
rugi," tegas Achen yang karena 
inovasinya itu sudah mendapat 
dua kali piala dalam lomba desain 
gaun pengantin. Yang pertama 
tahun 1990 dan kedua tahun 
1992. 

Ketiga, servis yang memuas- 
kan. Selain menghasilkan pro- 
duk-produk bridal yang ber- 
kualitas, ketepatan waktu me- 
rupakan syarat mutlak yang 
harus dimiliki setiap pengusaha. 
"Bahan kita boleh saja ber- 
kualitas, tapi kalau tidak tempat 
waktu, ya konsumen pun ke- 
cewa," jelasnya. 

Sukses sebagai pengusaha 
bridal tidak membuat Achen lu- 
pa kasih karunia Tuhan. Sebagai 
wujud syukurnya, tidak jarang 
Achen memberikan secara 
cuma-Cuma gaun pengantinnya 
kepada orang yang membutuh- 
kan. Achen juga banyak terlibat 
dalam penginjilan, terutama 
dalam memberikan dukungan 
dana. 

*s Celestino Reda. 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Jhon Wesley, 



O 



'Kesalehan AkaHudr 

Injil Yesus Kristus membawa orang pada gaya hidup saleh. Saleh dalam ibadah, pula hidup sosial bermasyarakat. Pewartaannya harus 
membuat orang memiliki orientasi pemahaman hidup yang memuliakan Allah. Serta menyemangati keinginan untuk berbagi hidup dengan 
sesama. Dan inilah tujuan sesungguhnya dari karya pelayanan Injil Jhon Wesley. 



JHON Wesley, anak dari seorang 
pendeta gereja Anglikan, 
Inggris yang bernama Samuel 
Wesley. Ibunya bernama Susanna 
Annesley. Ia lahir di Epworth, 17 
Juni 1703. Pada 1714, masuk 
Chartehouse School di London. 
Tapi kemudian pindah ke Church 
Christ, di Universitas Oxford. Dan 
tahun 1724, meraih gelar sarjana 
muda. Tak lama lulus, ia pun men- 
jabat diakon— atau diaken— pada 
gereja yang dipimpin ayahnya. Ka- 
rena semangat belajarnya sangat 
kuat, maka Jhon kembali men- 
daftarkan diri sebagai mahasiswa 
program SI di Lincoln College, 
Oxford, tahun 1726. Selain me- 
miliki semangat belajar, ia pun 
tergolong pintar. Oleh sebab itu, 
setelah perkuliahan berjalan, Jhon 
diangkat sebagai assisten dosen. 

Sejak kecil, ibunya memahami 
kalau jalan hidup sang anak kelak 
menjadi abdi Allah. Hal ini ber- 
dasarkan pemaknaan pada suatu 
peristiwa saat Jhon berusia lima 
tahun. Saat itu, rumah keluarga 
pendeta Anglikan, Samuel Wes- 
ley terbakar. Sementara Jhon yang 
masih kecil itu terkurung dalam 
kobaran api. Ia baru dapat di- 
selamatkan pada menit-menit ter- 
akhir. Melihat mujizat tersebut, 
ibunya menghubungkan penga- 
laman itu dengan nats dalam kitab 
Zakharia 3:2 puntung yang 
ditarik dari api", untuk tugas 
khusus. Tugas itu adalah meng- 
injili. Mewartakan Sabda kese- 
lamatan Yesus Kristus pada semua 
orang. Dan semangat ini pun 
membara dalam diri Jhon Wesley. 

Saat meneruskan program 
studi SI di Lincoln College, Oxford, 
ia dikenal sebagai perintis per- 
sekutuan mahasiswa. Perse- 
kutuan itu dikenal dengan julukan 
"klub kudus". Julukan itu diberi- 
kan karena, mereka memiliki ke- 
giatan kelompok yang khusus. 
Misalkan, belajar bahasa Yunani 
bersama, berpuasa pada hari 
Rabu dan Jumat, serta me- 
layankan sakramen di hari Minggu. 
Pula aktif dalam melakukan 
perkunjungan ke rumah sakit dan 
penjara-penjara. Gaya hidup 
anggotanya pun tertib aturan 
yang telah ditetapkan secara 
ketat. Tentu saja ada orang- 
orang yang tidak menyukai 
keberadaan kelompok yang rintis 
Jhon tersebut. Sehingga mereka 



-orang-orang yang tidak 
menyukai— memberikan julukan 
Methodis. 

Dalam pengembaraan 

Tahun 1735, kehidupan Jhon 
serta adiknya Charles Wesley 
sangat diliputi dukacita. Karena di 
tahun itu, ayahnya meninggal. 
Namun dukacita tersebut tidak 
mewarnai seluruh kehidupan 
mereka. Hingga akhirnya, di tahun 
itu pula, mereka berdua me- 
mutuskan untuk berlayar ke 
Georgia, Amerika. Tujuannya 
utamanya, mengabarkan Injil 
keselamatan Yesus Kristus. 

Jhon bekerja sebagai se- 
orang pekabar Injil di ka 
langan suku Indian. Di ka- 
pal, ia berkenalan dengan 
orang-orang Moravia. 
Kesalehan pribadi orang- 
orang Moravia yang 
sesehari dilihat Jhon 
meninggalkan keka- 
guman dalam dirinya 
Pernah suatu kali kapal 
yang ditumpanginya 
hampir tenggelam, ka- 
rena badai besar. Jhon 
sangat ketakutan. Na- 'J 
mun sebaliknya, orang- 2 
orang Moravia itu tidak 
terlihat takut sedikitpun. 
Hal itu membuat Jhon Wes- 
ley penasaran. Ia 
ingin tahu penye- 
bab keberanian 
mereka saat di- 
perhadapkan 
dengan maut. 
Dia pun berta- 
nya: "Anda tidak 
takut akan badai?" 
Mereka menjawab: 
"Tidak, Tuhan ada flep ro 
bersama kami. Kami tidak 
takut mati." 

Pada esok harinya, A. G. 
Spangenberg, pemimpin orang- 
orang Moravia gantian meng- 
ajukan pertanyaan: "Saudara 
Jhon, kenalkah Anda dengan 
Yesus Kristus?" Jhon dengan 
lancar menjawab, "Saya tahu, 
bahwa Ia adalah Juruselamat 
dunia!" Tetapi ketika ditanya, 
apakah Jhon dapat membuktikan 
kalau Yesus telah menye- 
lamatkannya, ia bingung untuk 
menjawab. Dan sejak itu, per- 
tanyaan Spangenberg tadi 
menjadi dasar pergulatan iman 



Jhon Wesley, sekaligus alasan dari 
pilihan teologis pietisnya (baca: 
corak keimanan dengan pema- 
haman yang sangat meng- 
utamakan kesalehan pribadi). 

Perjalanan penginjilan Jhon 
dapat dikatakan banyak ke- 
kecewaan. Setelah turun dari 
kapal, ia memulai pelayanannya 
pada komunitas orang Indian. 
Tetapi kehadirannya ditolak. 
Pewartaan Injil itu pun pada 
akhirnya dilayankan untuk orang- 
orang Inggris di Georgia. Tema- 
tema kotbahnya banyak me- 
nyinggung persoalan sosial. 

Terutama 
tentang 

m* 




■sp k 



penolakannya 
terhadap sistem per- 
budakan. Hal ini sama sekali tidak 
disukai orang-orang sebangsanya. 
Dengan kecewa Jhon akhirnya 
kembali ke Inggris. Di sana dia 
bertemu dngan Peter Bohler, 
pendeta orang-orang Moravia. 
Banyak hal dipelajarinya dari 
perjumpaan itu. Khususnya perihal 
hidup saleh seturut terang iman 
Kristen. Dan pengalaman itu pula 
yang kemudian banyak mem- 



pengaruhi paradigma misi Jhon 
Wesley kemudian. 

Pengkotbah keliling 

Teologi Jhon Wesley ternyata 
tak disukai para pemimpin gereja 
di Inggris. Kehadirannya sama 
sekali tak mendapat tempat di 
sana. Tak sekali pun kesempatan 
diberikan padanya untuk ber- 
kotbah. Tetapi hal itu sama sekali 
tak menjadi masalah baginya 
untuk terus mewartakan Injil 
Yesus Kristus. Baginya, sebagai- 
mana dipaparkan banyak penulis 
sejarah gereja, gedung gereja 
bukanlah satu-satunya wahana 
memberitakan firman Allah. 
Dimana saja, warta Injil dapat 
disampaikan. Oleh sebab itu, ia 
banyak sekali berkotbah baik di 
jalan-jalan, pasar, atau tempat 
umum lainnya. Tujuannya, untuk 
melakukan kebangunan rahani 
umat. Semua itu dilakukannya 
karena prihatin akan kekristenan 
saat itu yang sangat mem- 
prihatinkan. Gaya hidup 
mereka cendrung meng- 
jjfc: abaikan nilai-nilai moral dan 
etika. Sementara para 
SKS'j pengkotbah di gereja 
™* . hanya membahas tun- 
. tutan hidup bermoral yang 
semu. Sebab kotbah- 
'r •* kotbah para pendeta di 
gereja terbukti sama 
sekali tidak mengubah 
kehidupan masyarakat 
secara umum. Konteks 
itulah yang membuat Jhon 
Wesley merasa terpanggil 
untuk mengembalakan umat 
Kristus di sana. 
Satu hal yang membedakan 
format Kebaktian Kebangunan 
Rohani yang Jhon kembangkan 
dengan umumnya berkembang 
saat ini adalah, orientasi kesalehan 
dari pemahaman iman Kristen itu 
sendiri. Yang dimaksud kesalehan 
yang dituntut Jhon Wesley ber- 
sifat pembaharuan seluruh to- 
talitas diri. Jadi bukan kesadaran, 
apalagi pertobatan sesaat, namun 
total. Baik dalam ketekunan 
beribadah, berdoa, juga me- 
lakukan firman Allah, tapi pula 
harus tercermin dalam kehidupan 
sesehari. Kesalehan yang juga 



berimbas dalam gaya hidup tertib 
dalam masyarakat. 

Coba kita bandingkan, bu- 
kankah saat ini dari sekian 
banyaknya KKR yang diikuti banyak 
orang Kristen, perubahan moral 
dan etis hampir dapat dikatakan 
sedikit mengalami perubahan? 
Buktinya, masih terjadi kete- 
gangan, perselisihan, pertikaian 
dalam gereja. Bahkan lebih dari 
itu, KKR saat ini cendrung hanya 
mencari simpati umat pada salah 
satu tokoh atau aliran gereja ter- 
tentu -atau para pengkotbahnya 
semata. Sedangkan Jhon Wesley, 
sama sekali tidak berniat mencari 
popularitas diri. 

Kebangunan Rohani yang di- 
upayakan Jhon melalui kotbah- 
kotbah di jalan pertama karena 
alasan dirinya tidak mendapat 
kesempatan berkotbah pada salah 
satu gereja yang ada. Karena itu- 
lah, ia kemudian memilih tempat 
umum sebagai ruang pewartaan 
Injilnya. Tetapi harus digaris 
bawahi, konteks masyarakat saat 
itu seluruhnya beragama Kristen. 
Jadi, jangan coba-coba menerap- 
kan metode penginjilan Jhon di 
sini, yang masyarakatnya plural. 
Sebab itu merupakan tindakan tak 
bijak. Serta hanya akan memper- 
sulit keberadaan kekristenan. 

KKR yang dilakukan Wesley pun 
menghasilkan perubahan nyata 
hidup sosial bernegara kearah 
lebih baik. Oleh sebab itu, KKR 
saat ini pun mestinya berdampak 
yang sama. Pertama, meng- 
arahkan orang menjadi warga 
gereja yang baik juga masyarakat 
berbudi. Kedua, membawa orang 
pada pemahaman iman Kristen 
seturut teladan Yesus. Jadi, 
kesalehan yang menembus din- 
ding-dinding gereja, dan ketaatan 
merenungkan Alkitab dengan 
perwujudan pembaharuan akal 
budi. Sebab dampak dari KKR Jhon 
Wesley, sebagaimana dicatat para 
penulis sejarah gereja, berhasil 
mengarahkan gaya hidup moral 
serta etika dalam terang iman 
seturut teladan Yesus Kristus. 

*g Albert Gosseling 




Christian Leadership 
University 

CLU Fulfillment Center 
1431 Bullis Road, Elma, N Y 14059-9656 USA 



External Degrees Program 

Offer Christian Entrepreneurship Degrees Program for 
Christian Leaders & Businessman: 

B.C.E. (Bachelor of Christian Entrepreneurship) 
M.C.E. (Master of Christian Entrepreneurship) 
D.C.E. (Doctor of Christian Entrepreneurship) 
Ph.D. (Doctor of Philosophy in Christian Entrepreneurship) 

Indonesia Information: 
Philadelphia International Institute 

VillaTomang Baru Blok Al No. 28, Kota Bumi. Tangerang 
Tclpon. 02 1 -5920805 

Home Page: www.philadelphia-international.com 

E-mail: PhilaclelphiainstituteO? hotmail.com 

Click Section "Philadelphia International Institute" 



Renungan 

« Hartanuntuk 

^Bisnis 



Bisnis 



: Catatkan diri Anda sebagai pelanggan 
Renungan Harian KARUNIA ! 



Kini Menjadi Renungan Harian PLUS 
Lengkap dengan Suplemen Majalah 
KARUNIA BISNIS. 

Menyajikan Wawancara Eksklusif dengan para 
Ftemimpin Bisnis dan Artikel Manajemen Bisnis 





Informasi Lebih Unjut. hubungi : 
Ambar Riyani 

Vkttcit ■ vww.lcaruruioniw.con bt-1Ur1q94.Ti-1 
Dapat diperoleh di : 

Toko Buku Umum. Toko Buku Rohani dan NcwJ S;*.-*! ! 



Tro dan 'Kontra 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Bertentangankah Asuransi dengan Kekristenan? 

Asuransi kini sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup masyarakat. Hal itu terbukti dari makin bertambahnya jumlah orang yang 
menggunakan jasa asuransi. Meski demikian, ada yang menyatakan, secara hakiki asuransi bertentangan dengan iman Kristen. Benarkah 

demikian? Berikut tanggapan beberapa narasumber REFORAMATA. 




Pdt. Ruyandi Hutasoit, 

Gembala Sidang Gereja Kristen Bersinar. 

Orang Kristen Harusnya Tak 
Menggunakan Asuransi 

Untuk menjamin masa depan 
kita, banyak orang yang 
menyatakan bahwa kita 
harus ikut asuransi. 
Mengapa? Karena asuransi 
menyediakan berbagai jasa 
yang dapat menjamin masa 
depan kita. Misalnya saja, 
asuransi kecelakaan mobil, 
asuransi kematian, asuransi 
sekolah, dan banyak lainnya. 
Sampai-sampai orang Kristen pun tidak lagi memeriksa 
apakah asuransi ini sejalan atau bertentangan dengan 
iman Kristen. 

Dalam Mazmur 37:25 pemazmur berkata: Dulu aku 
muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah 
kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya 
meminta-minta roti. Apa maksud dari bait ini? Maksudnya, 
kita ikut asuransi atau tidak ikut asuransi, Tuhan menjamin 
bahwa Dia sendirilah yang akan memelihara hidup kita 
dan anak cucu kita. Karena sumber berkat serta 
perlindungan datangnya dari Tuhan. 

Nah, kalau orang Kristen percaya kepada firman ini, 
maka saya kira dia tidak perlu ikut asuransi lagi. Apa masih 
perlu menjamin masa depan kita kepada sesuatu yang 
tidak pasti? Asuransi itu berhubungan dengan uang kan? 
Dan seperti anda ketahui sendiri, nilai uang itu selalu 
berubah-ubah. Katanya dijamin, tapi ketika nilai rupiah 
berubah, katakanlah karena inflasi, nilai jaminan kita pun 
ikut berubah. Jadi jangan mengandalkan uang untuk 
menjamin masa depan kita, tetapi andalkanlah Tuhan. 
Bukankah Alkitab juga berkata, pilih mana, anda beriman 
kepada Tuhan atau kepada Mamon? 

Dengan mengatakan hal ini, bukan maksud saya untuk 
menabukan asuransi. Tapi sebagai seorang Kristen, kita 
dituntut untuk mengantungkan hidup kita sepenuhnya 
kepada penyelenggaraan Ilahi. Menggantungkan hidup 
sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi inilah yang saya 
lihat sudah kurang dilakukan oleh umat Kristen sekarang. 
Ketika ada asuransi, mereka malah lebih menggantungkan 
hidupnya pada asuransi. 




Meity Hendra, 

Senior Branch Manager Manulife Financial 

Asuransi Menjamin Masa Oepan Kita 



Tujuan dibuatnya asuransi 
adalah untuk menjamin 
keamanan kehidupan 
keluarga kita di masa yang 
akan datang. Mengapa masa 
depan kita perlu dijamin? 
Karena pada dasarnya 
manusia tidak tahu apa yang 
akan terjadi dengan dirinya 
i di masa yang akan datang. 
i Belum lama ini, suami dari 
1^ seorang teman wanita saya 
meninggal dunia. Teman 
wanita saya ini betul-betul bingung, karena setelah 
suaminya meninggal, ternyata mereka tidak punya 
simpanan apa pun. Memang ada sedikit uang di bank, tapi 
uang itu sama sekali tidak mencukupi untuk membiaya 
sekolah anak-anaknya, membayar kontrakan, dan untuk 
keperluan sehari-hari lainnya. 

Sebaliknya, belum lama ini juga, adik saya (laki-laki) 
meninggal dunia. Tapi istrinya betul-betul bersyukur 
kepada Tuhan karena selama suaminya hidup, ia sudah 
melindungi istri dan anak-anaknya dengan jaminan asuransi. 
Akibatnya, meski adik saya ini meninggal di usia muda (37) 
tahun, tapi istri dan anak-anaknya tidak kebingungan 
seperti yang dialami oleh teman wanita saya itu. 

Itu barulah beberapa kasus dimana asuransi bisa 
memainkan peran dalam kasus-kasus tersebut. Masih ada 
banyak kasus lainnya, di mana asuransi bisa membantu 
kita untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya, soal 
uang kuliah, kebakaran rumah, kecelakaan mobil, dan 
sebagainya. 

Dulu saya termasuk orang yang tidak suka asuransi. 
Tapi setelah banyak kerkenalan dengan orang asuransi 
dan tahu tujuan dari asuransi, akhirnya saya bergabung 
ke Manulife ini. Menurut saya, kalau orang belum benar- 
benar memahami apa itu asuransi, sebaiknya dia jangan 
banyak berkomentar dulu, apalagi sampai menghubung- 
hubungkan dengan Alkitab. Dalam Alkitab pun dikatakan, 
orang tua yang bijaksana akan meninggalkan warisan bagi 
anak-anaknya. Ketika berasuransi, orang tua tersebut sudah 
meninggalkan warisan bagi anak-anaknya. 



Lita Rihidara, 

Mahasiswa IFTK Jaffray 

Tanggungjawab Iman 



^m^^ Pro dan kontra soal apakah 

^^^f^^ asuransi itu selaran dengan 

^A iman Kristen atau tidak, masih 
~ f\ berlangsung hingga saat ini. 
jA Ini sah-sah saja karena masing- 
^^^y^^P masing orang melihat dari 
^B^^ sudut pandangnya masing- 
masing. 

^ft^H Menurut saya, 

^fl I tidak bertentangan dengan 
/R g| | prinsip-prinsip dalam Alkitab. 

Inti asuransi adalah kita 
mempersiapkan sesuatu saat ini untuk digunakan pada 
masa yang akan datang (suatu kelak nanti. Jadi sifatnya 
feature). Dalam Alkitab kita bisa temukan hal yang sama 
yaitu ketika membaca kisah Yusuf. 

Yusuf yang sudah menjadi salah satu orang besar di 
Mesir bermimpi bahwa pada 7 tahun kemudian, akan 
terjadi kelaparan di seluruh negeri. Maka sebelum 
kelaparan itu datang, Yusuf sudah membangun lumbung 
makanan dan menampung makanan di situ. Akibatnya, 
ketika 7 tahun kemudian kelaparan benar-benar datang, 
orang-orang di negeri Yusuf tak lagi kelabakan karena 
mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu sebelum 
bencana itu datang. 

Apa yang dilakukan Yusuf sesungguhnya 
mengkombinasikan dua hal yang sangat hakiki dari hidup 
manusia, yaitu menggunakan rasionya secara sempurna 
dan mempertanggungjawabkan kehidupan yang sudah 
diberikan oleh Allah kepada manusia. Jika Yusuf tidak 
menggunakan rasio, maka mimpi atau petunjuk yang 
diberikan Allah kepadanya, akan dianggapnya sebagai 
angin lalu belaka. Sebaliknya, karena ia menggunakan 
rasionya, maka ia mempersiapkan segala sesuatu untuk 
menghadapi bencana yang bakal datang itu. Dengan 
begitu, ia sudah merawat, sudah mempertanggung- 
jawabkan kehidupan yang diberikan Allah kepadanya dan 
keseluruh umat manusia. 

Ketika kita mengikuti asuransi, kita bukan hanya 
mempersiapkan "lumbung" untuk menghadapi sesuatu 
yang tidak pasti di masa datang, tapi sekaligus 
mempertanggungjawabkan anugerah hidup kepada Allah. 

Celestino Reda. 



Mata 9<ati 



KKR, KPI, KKL YANG MANA DONG? 



Bersama: Pdt. Bigman Sirait 



Apa gerangan singkatan yang men jadi judul 
mata hati kali ini? KKR adalah singkatan 
Kchaktian Kchangunan Rohani, merupakan 
singkatan yang paling populer dibandingkan 
yang lainnya. KPI itu berarti Kebaktian 
Penyegaran/Pemupukan Iman. Sementara KK1 
tak lain dari singkatan Kebaktian Kchangunan 
Iman. Lalu mana yang pas? 

Jawabnya, sederhana saja. tergantung siapa 
yang memakainya. Rupa-rupanya, perbedaan 
denominasipun harus ditampilkan dalam istilah 
yang dipakai. Jadi bukan lagi masalah definisi. 
Namun harus diakui, istilah KKR bukan saja 
yang paling populer, tetapi juga yang pertama. 
Alkisah di Los Angelcs. California, tepatnya 
A/.usa Street, di negara Unclc Sam, sekitar 
tahun 1 906 digelar KKR secara maraton.William 
J. Scymour (1870-1922) adalah pengkhotbah 
berkulit hitam yang sangat populer saat itu. 
Apa yang dilakukan Scymour. dapat dikatakan 
sebagai sebuah terobosan dari kemapanan gereja 
dalam beribadah, yakni mengadakan ibadah di 
lapangan terbuka, atau tempat sejenis. Muncul 
pro kontra seputar gerakan ini. namun semakin 
hari jumlah yang mengikuti ibadah KKR ini 
semakin banyak. Hal ini sebenarnya dapat 
dimengerti, mengingat kondisi gereja saat itu 
yang "mendingin" dan terjebak "rutinitas ritual" 
dan "sakralnya gedung gereja". 

KKR di masa itu betul-betul sebuah 
kchangunan. Hanya saja seiring itu, muncul juga 



permasalahan teologis, tetapi sekali lagi hal itu 
sangat logis. Perbedaan visi akan menciptakan 
perbedaan aksi. Dalam kesempatan ini mata hati 
tak hendak membedah "kericuhan teologi" yang 
terjadi, melainkan mengambil sebuah cuplikan 
kecil kisah KKR. 

Scturut perjalanan waktu, suara KKR terus 
menggema, dan kini KKR tidak lagi didominasi 
oleh kelompok tertentu, tetapi oleh banyak gereja, 
bahkan para gereja. Tapi KKR ini di Amerika 
yang mayoritas Kristen, yang kebanyakan 
Kristennya sedang "tidur" dan layak 
"dibangunkan". Lalu kini, disini, Indonesia yang 
bukan negeri mayoritas Kristen, apakah KKR 
lak boleh digelar? Kembali Pro Kontra 
mengemuka. Ada aneka pandangan, dari sudut 
teologi, psikologi masa. sosiologi, hingga logi logi 
lainya. Jadi tak pernah usai jika tak dilerai. 
Namun, adalah bijak menyimak perkatan Rasul 
Paulus (I Korintus 9:20). yang sekalipun bebas, 
namun mengambil sikap menjadi seperti Yahudi 
bersama Yahudi dan Yunani seperti Yunani. 

Jangan salah paham, sikap ini bukan bunglon, 
atau kompromistis. Ini untuk memenangkan 
sebanyak mungkin jiwa baru. Kita sangat 
mengenal Paulus. sebagai Rasul. Paulus tegas dan 
konsisten dalam berteologi. Kalimat ini 
menggambarkan betapa perlunya bijaksana. 

Bijaksana menempatkan diri untuk 
memenangkan jiwa bagi Kristus. Ketegasan sikap 
dan warna teologi yang ditampilkan dalam format 



bi laksana, pasti luar biasa "membungkam lawan". 
Namun itu tidak berarti tidak ada perlawanan, 
karena Paulus toh melanglang buana dari satu 
perlawanan kepada penganiayaan bahkan 
pemenjaraan. Artinya, format apapun yang 
dipakai perlawanan pasti tetap ada. namun format 
yang tepat akan menempatkan kita pada posisi 
yang tepat pula. Tidak ada celah bagi "pihak 
lawan" untuk mencercah. Sehingga ketika 
perlawanan itu muncul, orang lain (Kristen atau 
Non Kristen) akan mudah menilai mana yang 
benar atau salah. Tetapi formal yang kurang tepat 
mencipta lubang "bagi pihak lawan" untuk 
menggugat. Bagaimana tidak, format tepat saja 
dipermasalahkan apalagi yang kurang tepat. 

Belajar dari berbagai pengalaman kepahitan 
pada acara akbar Kristiani yang kita sebut KKR. 
maka yang pasti, jangan pernah berhenti 
memberitakan Injil, tapi harus jeli. KKR toh tidak 
berarti jumlah yang banyak, melainkan 
pemberitaan Injil yang diikuti pertobatan yang 
sejati. Disisi lain, KKR juga harus diselenggarakan 
secara bertanggung jawab, yakni dengan 
mengadakan follow up bukan follow me. 
Kebanyakan KKR akhirnya hanya follow me 
(mencari masa) bukannya follow up (menolong 
seseorang bertumbuh dalam imannya kepada 
Kristus). 

Pro Kontra seputar KKR dibumi pertiwi 
yang sedang lusuh ini. perlu diselesaikan dalam 
suasana teduh. Mari menghitung "rugi laba" 



model pelaksanaannya, tetapi jangan pernah 
mulai menghitung tugas Pembcriataan Injil (PI). 
Pisahkan antara KKR sebagai baju. dengan PI 
sebagai raganya. Baju bisa saja diganti sesuai 
musimnya, tapi raga. maaf. tidak bisa diganti, 
dengan dan oleh alasan apapun. Mengganti raga 
sama saja binasa. KKR di daerah "teduh" 
(kerukunan umat beragama lak bermasalah), 
mengapa tidak? Namun KKR di daerah "tak 
teduh" kenapa harus? 

Sebagai seorang pembicara KKR yang 
melayani diberbagai daerah bahkan luar negeri, 
penulis belajar, tiap tempat punya kondisi 
sendiri. Di Eropa, dalam sebuah KKR, saya 
diingatkan agar khotbah tidak melewati 
pk.22.00. karena tempat beribadah agak terbuka 
dan suara bisa menggangu tetangga yang 
notabene Kristen. Karena jika terganggu mereka 
berhak melapor pada polisi, dan itu pernah 
terjadi. Saya agak terpana, di daerah Kristen 
saja bisa begini? Tapi khotbah toh tak harus 
sampai pk.22.00 bukan? Injil harus tetap 
diberitakan. Namun ibarat mengemudikan motor 
dijalan berlobang, perlu seni menghindar lobang, 
tanpa perlu meninggalkan motor. lalu anda 
berjalan kaki. 

Akhir kata mari tetap menyelenggarakan 
KKR. KPI. KKL tapi dimana. bilamana, atau 
bagaimana? Kita pikirkan bersama. Mudahkan'.' 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Opti, 



Temu Kangen PDS dan Media Massa 

Setelah lulus dari Verifikasi Departemen Kehakiman dan HAM, Partai Damai Sejahtera kini bersiap-siap memasuki 

verifikasi tahap dua yang dilakukan oleh KPU. 




rv — i i 

Partai Damai Sejahtera. Siap bertarung di Pemilu 2004 



BOGOR Cafe yang terletak di 
wing barat hotel Borobudur, 
Jakarta Pusat, terlihat lebih 
sumringah dari biasanya. Hari itu 
(12/9), sejumlah pimpinan teras 
Partai Damai Sejahtera (PDS) 
menggelar acara temu kangen 
dengan sejumlah media massa 
yang terbit di Jakarta. Hadir dalam 
acara tersebut antara lain, Pdt. 
Ruyandi Hutasoit selaku ketua 
umum, Denny Tewu selaku 
Sekjen, Apri H. Sukandar selaku 
Wasekjen, dan beberapa ketua 
DPP dan DPD lainnya. Dari media 
hadir antara lain Tabloid 
REFORMATA, Victorius, Gloria, Maj. 



Bahana, Kompas, dan sebagainya. 

Tak begitu jelas apa tujuan 
dan sasaran dari pertemuan 
tersebut. Denny Tewu yang 
bertindak selaku moderator dalam 
pertemuan tersebut hanya 
menjelaskan bahwa acara ini 
diadakan semata-mata sebagai 
bentuk memenuhi rasa rindu 
pengurus PDS yang rindu 
bertemu dengan para wartawan. 
"Jika kemudian ada masukan- 
masukan berguna yang kami 
peroleh dari pertemuan ini, ya 
kami berterima kasih sekali," 
ungkap Denny Tewu yang hari itu 
mengenakan baju lengan panjang 



berwarna hijau. 

Wartawan yang hadir dalam 
pertemuan tersebut pun, tidak 
menyia-nyiakan kesempatan yang 
tergolong langka ini. Sejumlah 
pertanyaan tajam dan menyelidik 
diarahkan kepada pengurus PDS 
dan yang paling banyak dihujani 
pertanyaan, siapa lagi kalau bukan 
ketua umumnya. 

Seorang wartawan dari salah 
satu media cetak Kristen bertanya 
demikian kepada Pdt. Ruyandi 
Hutasoit, "Dalam beberapa 
kesempatan anda mengatakan 
bahwa anda didukung oleh 
sejumlah organisasi gereja, 
diantara PGI, Pil, PGPI, dan 
sebagainya. Apa benar anda 
didukung oleh organisasi-organisasi 
gereja tersebut?" 

Dengan senyum dan tawanya 
yang sedikit menggoda, pendeta 
yang juga dokter ahli bedah ini 
menjawab, "Pada acara NPC lalu, 
yang kemudian dilanjutkan 
dengan acara Jaringan Doa 
Nasional, Pdt. Ir. Rahmat Manulang 
tiba-tiba berkata begini: saudara 
sekalian, kita sudah banyak berdoa 
untuk transformasi Indonesia. 
Sebentar lagi kita akan menghadapi 
pemilu. Apa yang kita buat? Tanya 
Rahmat Manulang. Pdt. Daniel 
Alexander menimpali lagi, kita 
jangan hanya berdoa-berdoa saja. 



Sudah saatnya kita bertindak. Pdt. 
Boy Mangoal kemudian menimpali, 
sudah jangan malu-malu, masa 
dalam pemilu nanti kita harus 
memilih orang yang kita tidak 
kenal. Pilih Pdt. Ruyandi saja. 
Sesudah itu, sejumlah tokoh mulai 
menyatakan, saya dan jemaat 
saya akan mendukung Pdt. 
Ruyandi. Begitulah pernyataan 
dukungan itu mengalir," jelas 
Ruyandi sambil menambahkan, 
tokoh-tokoh yang hadir dalam 
jaringan doa tersebut antara lain 
dari PGI, Pil, PGPI, Bala 
Keselamatan, dan sebagainya. 

Wartawan yang lain langsung 
menyambar, "Anda juga 
menyatakan didukung oleh 
Konggres AS, apa benar begitu?" 
"Begini ya, rekan-rekan 
wartawan," jawab Ruyandi masih 
dengan senyumnya yang 
menggoda, "Saya kebetulan 
diundang ke AS dan bertemu 
dengan beberapa anggota 
konggres. Saya ceritakan kepada 
mereka jika saya mencalonkan diri 
menjadi presiden. Mereka 
kemudian menyatakan 
mendukung saya. Seperti itulah 
yang saya katakan kepada orang- 
orang. Jika kemudian ada media 
yang menulis saya didukung 
konggres AS, itu ya hasil 
kembangan media itu sendiri," 



tandas Ruyandi. 

Wartawan yang lain bertanya 
soal keengganan PDS untuk 
berkoalisi dengan partai Kristen 
lainnya. Menurut Ruyandi, PDS 
bukannya tak mau bergabung 
dengan partai Kristen lainnya. 
Justru kata Ruyandi, koalisi adalah 
satu keharusan dalam sistem multi 
partai ini. "Jika selama ini kami 
terkesan tak mau berkoalisi, itu 
karena belum jelas eksistensi 
masing-masing partai Kristen. 
Sekarang kita kan masih melewati 
tahap verifikasi. Nanti kalu kita 
sudah dinyatakan lulus, baru kita 
lihat, kira-kira kita akan berkoalisi 
dengan partai. Verifikasi saja kita 
belum lalui, kita belum berjuang, 
kok sudah pada mau koalisi," jawab 
Ruyandi setengah bergurau. 

Terlepas dari semua 
pertanyaan tajam dan menyelidik 
yang diajukan oleh para wartawan, 
PDS kini termasuk dalam 18 partai 
yang sudah dinyatakan lulus 
verifikasi oleh Departemen 
Kehakiman dan HAM. Tanggal 9 
Oktober 2003 ini, PDS yang 
mensyaratkan pengurusnya tak 
boleh merokok ini, akan mengikuti 
tahap verifikasi kedua yang 
dilakukan oleh KPU. Akankah PDS 
lolos dari jejaring KPU, kita tunggu 
saja hasilnya. 

& Celestino Reda. 



Konser Amal 
Sabda dan Nada" 



SEBUAH konser amal bertajuk 
'Sabda dan Nada" akan digelar, 
di Jakarta, pada tanggal 1 
November 2003 mendatang, 
bertempat di Gedung Audito- 
rium BBPT Jakarta Pusat. 
Malam dana yang ditujukan 
bagi upaya pengembangan 
potensi di pedesaan ini, 
rencananya akan menampilkan 
bintang tamu antara lain 
penyanyi Lilis Setyayanti 
pelantun lagu Amazing Grace 
dalam album The Songs Of My 
Life dan Herry Priyonggo, pria 
yang laris dengan album 
terakhirnya yang bertema 
"Sayap Pujian" 

Konser yang bertema 
"Terang Telah Datang" ini, 
rencananya Lilis dan Herry akan 
membawakan 11 buah lagu 
selama satu jam nonstop. 
Sedangkan untuk aransemen 
musiknya sendiri dipercayakan 
kepada Ataw, pria yang pernah 
bergabung dalam group musik 
LoliPop di era tahun 1980-an 

"Selain itu, acara konser ini 
juga didukung dengan per- 
mainan multi media. Di mana 
kami mencoba menampilkan 
sisi-sisi kehidupan masyarakat 
pedesaan dalam bentuk gam- 
bar di sebuah layar besar. Kami 
berharap para undangan dapat 



merasakan apa yang terjadi 
berkaitan dengan kehidupan 
mereka di pedesaan." 

Dalam perhelatan kali ini 
pihak penyelenggara "Panitia 
Bersama Malam Sabda dan 
Nada" dengan penasehat, Yusuf 
Arbianto, Ketua Umum, 
Maimunah, Ketua Pelaksana, 
Sugihono Subeno, dan 
Koordinator Acara, Benny 
Siswanto, mencoba menyajikan 
bentuk tatanan konser musik 
rohani yang berbeda dengan 
biasanya. Misalnya saja bentuk 
ibadah pujian yang mengalir 
ibarat air, mulai dari pujian 
pembukaan, presentase hingga 
ke acara inti kebaktian yaitu 
kotbah yang akan dibawakan 
oleh Pdt. Bigman Sirait. 

Tidak hanya itu saja, pe- 
mimpin pujian harus mampu 
berinteraksi dengan jemaat 
yang hadir, salah satunya melalui 
beberapa buah tembang lagu 
yang dinyanyikan secara ber- 
sama-sama dengan jemaat. 

Rencananya, seluruh lagu 
yang dinyanyikan dalam konser 
ini akan dibuat dalam bentuk 
kepingan VCD dan dibagikan 
secara gratis kepada para 
undangan yang akan hadir dalam 
pementasan konser Sabda Dan 
Nada. 




Diskusi 'Buku 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 



Ketuhanan Yesus Kembali Dirongrong 

Usaha oknum Islam untuk merongrong ketuhanan Yesus, ternyata tak pernah berhenti. Belum lama ini terbit lagi sebuah buku berjudul 
Islam Meluruskan Kristen. Bagaimana tanggapan Rev. Andreas Himawan dan Pdt. Martin Sinaga terhadap isi buku itu? 



SIANG itu (16/8/03), gedung 
Menza yang terletak di Jl. 
Salemba Raya, nampak agak 
berbeda dari biasanya. Beberapa 
perempuan berjilbab dan sejumlah 
pria berpakaian koko, terlihat 
memenuhi auditorium gedung 
tersebut. Di antara mereka, ter- 
dapat juga beberapa pria ber- 
agama Kristen. Ada apa ge- 
rangan? 

Hari itu, Forum Arimatea— 
sebuah forum yang secara reguler 
mengadakan diskusi lintas agama— 
menggelar acara bedah buku. 
Buku yang dibedah berjudul Islam 
Meluruskan Kristen. Penulisnya 
adalah Dr. H. Sanihu Munir, SKM, 
MPH, seorang pendakwah Islam 
yang lama berdakwah di Filipina. 
Selain menghadirkan Sanihu 
sebagai pembicara utama, bedah 
buku ini juga menghadirkan Har- 
tono Ahmad Jaiz sebagai pem- 
banding dari kelompok Islam, serta 
Pdt. Martin Sinaga dan Pdt. 
Andreas Himawan sebagai pe- 
nanggap dari kelompok Kristen. 
Kehadiran jemaat Kristen dalam 
kumpulan umat muslim itu tidak 
lain untuk sama-sama menelaah isi 
buku Sanihu Munir itu. 

Dalam bukunya, setidaknya 
ada dua gugatan penting yang 
diajukan Sanihu. Pertama, soal 
ketuhanan Yesus, dan kedua, soal 
kata-kata Yesus dalam Injil Per- 
janjian Baru. Menurut Sanihu, 
dogma atau ajaran yang menga- 
takan Yesus itu Tuhan adalah keliru 
besar. Mengapa? Karena selama 
hidupNya— seperti juga tercermin 
dalam keempat Injil Perjanjian 
Baru— Yesus tak pernah me- 
nyebut diriNya Tuhan. Para mu- 
ridNya pun tak pernah menyebut 
diriNya Tuhan. Paling banter 
mereka menyebutNya Mesias 
(guru). 

Untuk memperkuat argumen- 
tasinya, tanpa ragu-ragu Sanihu 
juga menggunakan ayat-ayat 
Alquran untuk menyerang kon- 
sep-konsep Kristen. 



Misalnya, soal ketuhanan Yesus itu 
ia mengutip satu ayat dalam Surat 
Alfateha yang berbunyi: "Tun- 
jukilah kami ya Allah jalan yang 
lurus yaitu jalannya nabi Nuh, 
Musa, Sulaiman, Zakaria, dan Isa." 
So, bagi Sanihu posisi Yesus sudah 
jelas: Ia hanya nabi di antara nabi- 
nabi lainnya. Dia bukan Tuhan! 

Jika Yesus maupun murid-mu- 
ridNya tak pernah menyebut 
diriNya Tuhan, lantas siapa yang 
memberi gelar Tuhan pada Yesus? 
Sanihu langsung menunjuk 
Paulus. Pauluslah yang telah 
mengangkat atau menyebut 
Yesus sebagai Tuhan. Bahkan kata 
Sanihu, Paulus mengajarkan ke- 
pada umat manusia sesuatu yang 
sangat salah dan menghina 
otoritas Allah. Dalam Galatia 2: 16 
misalnya, Paulus mengatakan 
kamu diselamatkan bukan karena 
amal salehmu (perbuatan baikmu) 
atau oleh hukum taurad, tetapi 
karena imanmu kepada Kristus. 

Akibat kelancangannya ini, 
jelas Sanihu, Allah sampai me- 
nurunkan beberapa ayat untuk 
memurkai Paulus. Dalam hal 104 
misalnya, Sanihu menulis: Oleh 
karena itu Allah sangat murka dan 
mengutuk kebohongan Paulus 
yang mengajarkan bahwa Yesus 
adalah anak Allah (lihat: Maryam: 
19:88-92). 

Lantas bagaimana dengan 
keaslian kata-kata Yesus dalam Injil 
Perjanjian Baru? Menurut Sanihu, 
kata-kata Yesus yang asli dalam 
keempat Injil itu tidak lebih dari 
10 persen. Dari mana Sanihu 
mendapatkan kesimpulan ini? 
Ternyata ia menggunakan hasil- 
hasil kajian Jesus Seminar. 

Yesus Seminar adalah seke- 
lompok sarjana Alkitab liberal di AS 
yang berkumpul rutin untuk 
menentukan dari catatan kitab- 
kitab Injil (termasuk Injil Thomas), 
manakah yang asli ucapan Yesus. 
Yang mereka anggap asli ditandai 
warna merah, yang mirip ber- 
warna pink, yang ragu-ragu 
abu-abu, yang palsu 
hitam. Hasilnya: yang 
merah sedikit sekali 
(tidak lebih dari 10 %). 
Bahkan Markus hanya 1 
ayat. Lebih buruk lagi 
Jji Injil Yohanes sama sekali 
y tidak terdapat warna 
f merahnya. Porsi terbesar 
f adalah hitam. 

Keberatan terpenting 
terhadap kelompok ini 
adalah bahwa mereka 
bukan hanya me- 
mulai studi kitab- 
kita Injil dengan 
meragukan 





keaslian Injil tersebut dan keaslian 
ucapan Yesus, tetapi mereka 
menentukan dengan kriteria 
mereka sendiri apa yang boleh dan 
tidak boleh di-ucapkan Yesus. 

Sebagai contoh. Satu hal yang 
dianggap palsu oleh Sanihu 
maupun Jesus Seminar adalah 
perintah Yesus untuk melakukan 
pengabaran Injil. Menurut Sanihu 
perintah atau kata-kata yang asli 
perkataan Yesus dalam Matius 28 
hanyalah yang terdapat pada ayat 
1-15. lebih dari itu palsu, karena 
yesus tak penah berbicara soal 
misi. Dengan demikian, rumusan 
ayat yang mengatakan: "Karena 
itu pergilah, jadikanlah semua 
bangsa murid-Ku dan baptislah 
mereka dalam nama Bapa dan 
Anak dan Roh Kudus" adalah palsu 
menurut Sanihu. 

Jika Kristen palsu, lalu agama 
mana yang asli? Menurut Sanihu, 
ya Islam. Dengan menggam- 
pangkan, Sanihu melukiskan bagai- 
mana Allah menurunkan agama 
(Islam) yang benar ke dunia ini. 
Kata Sanihu, "Allah mewahyukan 
taurat kepada nabi Musa, lalu 
ajaran ini disampaikan kepada 
murid-muridnya, tapi sayang 
ajaran tauhid ini diselewengkan 
menjadi agama Yahudi oleh Farisi 
dan Saduki. Karena Allah murka, 
maka ia mengutus nabi Isa untuk 
memurnikan ajaran ini dan kembali 
kepada tauhid yaitu hanya 
menyembah Allah. Namun se- 
sudah itu, datanglah Paulus yang 
menyelewengkan tauhid lalu 
keluar sebagai agama Kristen. 
Karena penyelewengan ini men- 
dunia, maka Allah mengutus nabi 
Muhammad SAW untuk me- 
luruskan dan kembali ke tauhid." 

Rev. Andreas Himawan yang 
lebih menyoroti kelemahan pro- 
sedural dan metodologi penalaran 
buku Sanihu Munir ini menga- 
takan, kelemahan utama buku ini 
adalah bahwa Sanihu 
berusaha 



Dr. Sanihu. Mempertanyakan Ketuhanan Yesus 



mencari kebenaran masing- 
masing agama (Islam dan Kristen) 
dengan menggunakan standar- 
standar science dan rasionalitas. 
Padahal kebenaran agama itu 
sifatnya teologis— salah satu aspek 
terpenting dari agama— yang tidak 
bisa diukur dengan science 
maupun rasionalitas. 

Akibat kesalahan prosedural 
dan metodologinya itu, kata 
Andreas, Sanihu akhirnya mem- 
perlakukan Islam dan Kristen 
seperti seorang yang mem- 
perbadingkan buah apel dan buah 
jeruk. Ketika buah jeruk tidak sama 
dengan buah apel, maka Sanihu 
mengatakan jeruk bukanlah buah. 
Lebih jauh, dosen STT Amanat 
Agung ini menjelaskan, "Per- 
hatikanlah bagaimana dalam buku 
ini dia berusaha mengkritik 
konsep-konsep Kristen dengan 
cara mengutip ayat-ayat Alquran. 
Sebenarnya, walaupun sama-sama 
disebut agama, jelas Islam dan 
Kristen berbeda secara radikal 
dalam Teologi. Islam memiliki dok- 
trin Allah monoteis sementara 
Kristen Allah Tritunggal. Jika 
masing-masing doktrin itu dicabut 
atau dipelintirkan, maka akan tidak 
akan pernah lagi menemukan 
Islam sejati maupun Kristen 
sejati," tandas Andreas. 

Andreas juga mengkrtik ke- 
tidakkonsistensian Sanihu dalam 
menggunakan literatur. Jesus 
Seminar adalah kelompok teolog 
yang ditolak oleh otoritas gereja, 
tapi Sanihu membenarkan dan 
menggunakan teori-teori mereka 
untuk menyerang Kristen. Se- 
baliknya, ketika menyangkut 
kepentingan Islam, Sanihu tidak 
berani menggunakan teori-teori 
Jaringan Islam Liberal untuk 
mengkritisi Islam maupun Kristen. 
Sanihu malah menuduh mereka 
sebagai pengkianat Islam. "Kalau 
mau fa/r, harusnya dia berani 
menggunakan itu juga 
dong,"tandas Andreas. 

Pdt. Martin Sinaga mengakui 
bahwa yang memberi gelar Tuhan 
kepada Yesus adalah Paulus. 
Mengapa Paulus dan orang-orang 
Yunani waktu itu menyebut Yesus 
sebagai Tuhan? Karena mereka 



merasakan bahwa Yesus bukan 
sekedar manusia, bukan pula 
sekedar Nabi. Ia lebih dari itu 
semua. Ia bangkit dan naik ke 
surga. Inilah yang menyebabkan 
orang Yunani menyebutnya 
Tuhan. 

Jika dianalogikan dengan 
sebutan pemimpin, maka pe- 
mimpin yang sesungguhnya 
bukanlah orang yang menyebut 
dirinya "saya ini pemimpin", tapi 
justru orang lainlah yang harus 
menyebutnya pemimpin karena 
mereka merasakan dia sebagai 
pemimpin. 

Sama halnya dengan ke- 
tuhanan Yesus. Apakah Yesus 
perlu menyebut diriNya Tuhan? 
Kalau Yesus mengatakan hal itu, 
justru diragukan ketuhananNya. 
Sebaliknya, jika yang mengatakan 
hal itu adalah orang-orang yang 
merasakan dan percaya akan 
ketuhananNya, maka eksistensi 
Yesus sebagai Tuhan men- 
dapatkan landasan pembenaran- 
nya. 

"Sama halnya dengan perintah 
pengabaran Injil itu. Meski ada 
yang mengatakan palsu atau 
tidak, bagi umat Kristen yang ter- 
penting adalah kerinduan untuk 
membagi pengetahuan, membagi 
suka cita tentang Yesus yang 
disalibkan, bangkit, dan menebus 
dosa umat manusia. Masa ingin 
membagikan yang baik saja 
dipersoalkan?" 

Sebagai sebuah hasil karya 
tulis, buku Sanihu Munir ini sangat 
kita hargai. Meski begitu, Sanihu 
Munir bukanlah orang yang cukup 
tepat untuk menuliskan buku 
seperti ini. Mengapa? Karena 
meski bekerja sebagai pen- 
dakwah, sekaligus Instruktur 
Kristologi pada Dewan Dakwah 
Islam Filipina, ia tidak pernah 
belajar kristologi secara khusus. 
Doktornya adalah doktor mana- 
gemen, sementara sarjananya 
sarjana Kesehatan Masyarakat. 
Dari data itu saja, kita sudah bisa 
membaca kualitas buku Sanihu 
Munir. 

^Celestino Reda. 



EDISI 7 ■ Tahun I ■ Oktober ■ Tahun 2003 




■H 



Saya seorang suami telah menikah secara Kristen setahun yang 
lalu dan kami tinggal di rumah ibu saya karena ibu saya seorang diri. 
Tapi perkawinan saya tidak berjalan dengan baik selama V2 tahun ini 
ada masalah dengan istri saya. Istri meninggalkan rumah karena terjadi 
pertengkaran dengan ibu saya dan dia meninggalkan rumah. 

Sekarang istri kost sendiri, tapi saya tetap mengunjungi dia, tele- 
pon (komunikasi), antar jemput dia ke kantor, walaupun pene- 
rimaannya tidak begitu baik. Semua itu saya lakukan untuk menun- 
jukkan tanggung jawab saya sebagai suami & dengan harapan dia 
mau kembali lagi, dengan cara-cara yang baik. 

Tapi akhir-akhir ini + 3 minggu ini, dia tidak mau berhubungan 
sama sekali dengan saya dan dia bilang tidak ada hubungan apa-apa 
lagi dengan saya. Saya sudah bersabar dengan sikap dia selama ini, 
tapi tidak ada timbal balik sikap dia untuk tetap mempertahankan 
keutuhan perkawinan kami. Intinya dia tidak mau kembali kepada 
saya. Saya sudah konsultasi dengan pengurus gereja tentang masalah 
ini, tapi tidak ada tindakan nyata hanya ada yang bilang kami bantu 
dengan doa. Saya sendiri sudah berpuasa dan berdoa agar diberi pe- 
tunjuk penyelesaiannya. 

Yang ingin saya tanyakan adalah: 

1 . Bagaimana menurut hukum perkawinan gereja, apabila sudah 
tidak ada keharmonisan seperti saya ini: Apakah tetap 
dibiarkan menggantung sampai kapan? 

2. Terus terang masalah ini sangat membebani hidup saya, jadi 
apa yang harus saya lakukan untuk membereskan masalah 
ini? 



Sdr.David di Tambora, 

Saya bisa memahami kegun- 
dahan hatimu. Sangatlah sulit 
menghadapi masalah yang me- 
mojokkan kita pada pilihan yang 
tidak enak, memilih istri atau 
orangtua. Hanya saja, perlu un- 
tuk diingat bahwa ada jalan yang 
telah dipilih, yang merupakan pi- 
lihan saudara dan istri, yang 
membawa kalian pada situasi se- 
karang ini. 

Jadi, yang pertama perlu di- 
pikirkan adalah bahwa ini meru- 
pakan konsekwensi dari pilihan, 
jangan dulu buru buru putus 
asa. Dari sisi gereja, apa-bila ada 
persoalan sehingga tidak ada 
keharmonisan, tentu saja hu- 
kumnya berdamai. Pisah rumah 
untuk sementara agar kedua- 
belah pihak ada waktu tenang 
untuk merenung bisa saja, tetapi 



tinggal dimana? Kalau kost, me- 
nurut hemat saya itu kurang 
bijak. Tidak ada nilai tambah 
dalam rangka merenung dan me- 
nemukan ketenangan hati untuk 
hidup berdamai. Namun, per- 
tanyaannya adalah apakah ini inti 
masalahnya? 

Menyimak cerita dari saudara, 
saudara dan istri tinggal serumah 
dengan orang-tua. Alasan sau- 
dara karena ibu tinggal sendiri. 
Pertanyaan saya adalah apakah 
saudara sudah mempertimbang- 
kan masak masak apabila tinggal 
serumah dengan orangtua. Bagi 
saudara tentu tidak ada masalah, 
karena orangtua sendiri, tapi bagi 
istri? 

Bagaimanapun juga istri sau- 
dara adalah orang baru bagi ibu 
saudara, demikian juga sebalik- 
nya. Tentu kuranglah bijak meng- 
harapkan keduanya langsung 



akur, seia sekata, walaupun kalau 
itu bisa tentu saja sangat menye- 
nangkan. Namun pada umumnya 
yang terjadi adalah kebalikannya. 
Hal ini sangat tergantung pada 
tingkat kedewasaan menantu 
sebagai orang baru yang me- 
masuki sebuah kehidupan yang 
telah memiliki pola yang baku. 
Juga kelapangan dada orangtua 
menerima kenyataan hadirnya 
orang baru dalam rumah. 

Nah kelihatannya, dalam ma- 
salah saudara, masalah sudah di- 
mulai ketika usai menikah, sau- 
dara membawa istri kerumah 
orangtua. Tampaknya tidak ada 
persiapan yang cukup memadai, 
sehingga pertengkaran antara istri 
dan orang-tua terjadi. 

Mungkin bagi saudara itu 
hanya hal sepele. Tetapi tidak 
bagi istri. Adalah wajar seorang 
istri mengharapkan ketenangan 
dalam rumah tangganya dimana 
dia bebas mengatur kehidupan 
pribadi dan keluarganya. Sehing- 
ga ketika pertengkaran mulai ter- 
jadi dengan ibu mertua, muncul- 
lah rasa marah yang semakin lama 
semakin menumpuk didalam da- 
da. Mau ditumpahkan tapi tidak 
tahu kemana. Maka amarah ter- 
simpan rapi dan sewaktu-waktu 
siap untuk meledak. Sementara 
saudara sendiri merasa semuanya 
berjalan normal. Ketika akhirnya 
kemarahan istri meledak, dan dia 
mengambil sikap meninggalkan 
rumah orangtua saudara. Saudara 
terkejut dan mungkin mengang- 
gap istri keterlaluan dan tidak mau 
mengalah pada orangtua. 

Sementara pada pihak istri, 
kemungkinan paling besar yang 
ada dalam benaknya adalah bah- 
wa saudara sebagai sumai tidak 
berpihak padanya, ironis. Istri me- 
milih untuk kost, bukannya ru- 
mah orangtua atau keluarga. 
Tapi mungkin juga ini karena tidak 
ada keluarga di Jakarta. Entahlah. 
Tapi yang pasti saudara mengun- 
junginya, antar jemput ketempat 
kerja. Nah ini jadi agak aneh bu- 
kan? Saudarakan sudah menikah 



dengan dia dan bukannya pacaran 
lagi. 

Sikap saudara dinilai mendua 
oleh istri, saudara dianggap lebih 
memilih orangtua daripada istri, 
jadi tidaklah terlalu mengherankan 
jika kemudian dia berkata tidak ada 
hubungan lagi. Itulah puncak ke- 
marahannya. Toh dia tidak melihat 
saudara berpihak padanya sebagai 
istri. Setelah sekian minggu ter- 
nyata saudara tidak mencoba un- 
tuk menjalani hidup berdua se- 
bagaimana layaknya sebuah rumah 
tangga. Tetapi jangan salah pa- 
ham dulu, saya tidak bermaksud 
untuk mengatakan bahwa sau- 
dara harus meninggalkan orangtua 
dalam pengertian bermusuhan. 
Berpisah rumah dengan orangtua 
bukanlah sebuah ketidakpedulian, 
karena memang ada waktunya 
anda meninggalkan rumah sebagai 
konsekwensi sebuah pernikahan 
(baca:rumah tangga yang baru). 

Namun hal ini tentu saja dapat 
menjadi sebuah pengecualiaan jika 
saudara mempersiapkan dari awal 
dengan baik, khususnya mema- 
hami karakter dan kedewasaan pa- 
sangan saudara. Saya sendiri per- 
nah tinggal dirumah mertua 
(dengan ayah mertua, ibu mertua 
sudah tiada) dan tidak ada ma- 
salah yang berarti. Namun ini tidak 
berarti saudara bisa mempersalah- 
kan istri yang tidak bisa menye- 
suaikan diri, karena bagaimanapun 
istri adalah pilihan saudara yang se- 
harusnya saudara kenal baik ka- 
rakternya, terlebih lagi ibu saudara. 
Sayangnya saudara tidak menye- 
but usia saudara dan istri. 

Apa yang saya katakan diatas 
adalah memahami masalah, nah 
sekarang bagaimana menyelesai- 
kan persoalannya. 

Bagaimanapun juga saudara 
dan istri perlu konsultasi ke kon- 
suler Kristen yang memang 



mg 0 

li dihidangnya. Saya c ^S-j»>_ 



Pdt. Bigman Sirait 

apalagi berhenti berdoa). 

Ada beberapa tips yang bisa 
saya sampaikan untuk saudara. 
Pertama cobalah belajar mema- 
hami perasaan dan argumentasi 
istri mengapa dia meninggalkan 
rumah. Jangan buru-buru mem- 
bantah pendapatnya dan coba- 
lah menempatkan diri pada po- 
sisinya. Kedua, tunjukkanlah sikap 
yang tegas bahwa saudara 
menghargai sikapnya, sekalipun 
saudara sendiri tentu punya 
pendapat sendiri. Ketiga, mulai- 
lah dengan diskusi apa yang ter- 
baik bagi kalian berdua sebagai 
pasangan dan bagaimana Bagi- 
manapun juga saudara dan istri 
perlu konsultasi ke konsuler Kris- 
ten yang memang ahli dihidang- 
nya. Saya percaya dia akan 
memberikan beberapa alternatif 
bagi saudara, dan tidak sekedar 
menyuruh saudara berdoa (tapi 
saudara jangan pernah lupa 
apalagi berhenti berdoa). Ada 
beberapa tips yang dapatnya dan 
cobalah menempatkan diri pada 
posisinya. Kedua, tunjukkanlah 
sikap yang tegas bahwa saudara 
menghargai sikapnya, sekalipun 
saudara sendiri tentu punya 
pendapat sendiri. Ketiga, mulai- 
lah dengan diskusi apa yang ter- 
baik bagi kalian berdua sebagai 
pasangan dan bagaimana meng- 
ambil keputusan bersama yang 
tidak melukai hati orangtua. 
Silahkan mencoba! 



percaya dia akan memberi- 
kan beberapa alternatif bagi | 
saudara, dan tidak sekedar . 
menyuruh saudara berdoa (tapi ' 
saudara jangan pernah lupa l 



KUPON KONSULTASI 
TEOLOGI 

Edisi 7 Tahun 1 Oktober 2003 



I I 'i I \ 1 1 Tarip iklan baris: Rp - 5.000,-/baris 

I I M f M i I ( 1 baris=30 karakter, min 3 baris ) 

Ml M I Tarip iklan 1 Kolom : Rp - 2 ooo.- /mm 

' 1 ( Minimal 30 mm) 



- Iklan Umum B/W : Rp. 5.000,-/mmk 

- Iklan Umum F/C : Rp. 6.000,-/mmk 

- Iklan Ucapan Selamat B/W : Rp. 2.500,-/mmk 

- Iklan Ucapan Selamat F/C : Rp. 3.500,-/mmk 



Untuk pemasangan iklan silakan hubungi : 
Bagian Iklan : Jl. Angkasa Raya No. 9, Jakarta Pusat 

Tip. (021) 42885649-50, Fax. (021) 42883964 



BIRO JASA 



Terima mengurus surat2 akta 
kelahiran,akta perkawinan,akta 
kematian, Hub: Bp. Bonar S.Th. 
Tersedia Ruang Kantor & tempat 
Ibadah Tlp.3919485/HP 
08161815940 



BIRO TEKNIK 



Terima renovasi, Bangun Baru, 
Konsultasi Bangunan, Design 
Kantor, Rumah,dll. Hub: Esther 
HP. 0815-8228297 



AUTO 168 



MOBIL BEKAS 
BERKUALITAS 



Menerima: 

Jual-beli cash/kredit & tukar 
tambah, mobil bekas pakai & 
baru (segala merk) 
Kerjasama peminjaman dana 
cash/kredit (leasing resmi) 
dengan jaminan BPKB/mobil 
(proses cepat) 



VILLA DIJUAL 



Villa di Green Apple Blok MBS 
No.43 Lt.60m2 Bangunan 2 It, 
1300 W, 2 kamar tidur, 1 kamar 
mandi. Hak milik, harga Rp. 160 
juta nego. TP. hub. 0812 
5465000 



Dapatkan kaset seri: Kotbah 
Populer Pdt Bigman Sirait, Hub: 
42885649-50 



PELUANG USAHA 



Penghasilan tambahan sebagai 
Distributor Birthday Cake 
Hubungi: Sdri. Liani, Tip. 021 
4611042. 



Terima tranfer dr Betha, VHS,V-8 
(Harriycam) ke VCD Mutu Terbai^antar 
jmpt Hub:6315244/0816701999 



Ingin bisnis garmen di rmh. profit 
25-50%, mdl kcl. hub: 4244394, 
42901277 HP. 08161624522, 
cab Tangerang Tel. 59309633 




Keterangan lebih lanjut hub: 
AUTO 168: 

JI.Angkasa Raya 
N0.I6A-I8A (dekat rel KA) 
Jakarta Pusat 
Telp. (021) 4209877-4219405 
Fax: (021) 4209877 



JUAL / BELI 



O B I L 



Jika Anda Sulit menjual 
Mobil, Kami siap 
membantu Anda 
menjual/ membeli 
mobil dengan kondisi 

body/mesin baik 
maupun rusak (dari 
segala merk) 
Hubungi: 

CM 

CAHAYA MOTOR 
(021) 742-8381 
HP. 0816-730675 



Kami melayani jual-beli, tukar 
tambah, service, rental 

alat-alat musik & sound system 
berbagai merek dengan 
harga spesial 

Menteng Prada Lt. I unit 3G 
Jl. Pegangsaan Timur 15A, 

Jakarta 10320 Tip. 021-3929080, 
3150406, 70741016 

Hp. 0816.852622, 0816.1164468 




Anda dapat mem- 
peroleh REFOR- 
MATA di Toko Buku 
daerah JABOTA BEK: 

Alpha Omega, Berea, BPK Gunung 
Mulia, Bukit Zion, Galilea, Gunung 
Agung, Gandum Mas, Gramedia, 
Gloria, Imanuel, Harvest, Kalam 
Hidup, Kanisius, Kerubim, Kharisma, 
Logos, LM Baptis , Manna, Metanoia, 
Paga, Paramukti, Phileo, Pondok 
Daun, Pemoi, Syalom, Taman 
Getsemani, Talenta, Wasiat, Yaski 



TURUNKAN BERAT 

BADAN 

5-30 KG «! 

AMAN & ALAMI 

Hubungi: 

Juli (Jakarta) 0811-843535 
Temi(Surabaya)0812^237123 



DIBUTUHKAN 
PENGURUS RUMAH 
TANGGA 

'Wanita 20 - 27 thn 
' Katolik / Kristen 
' Harus bisa masak 

* Sanggup membersihkan rumah 
1 Bersedia tinggal pada sebuah 

keluarga di Jakarta 
' Gaji bersih tahap awal Rp. 450rb/ 
bin 

1 Mendapat biaya transpor ke 
Jakarta 

• Lamaran harus disertai: 

1. Fotocopy KTP 

2. Surat Keterangan RT 

3. Surat Keterangan/Referensi 
dari Pastor/Pendeta setempat 

4. Surat Kelakuan Baik dari Polisi 



Harap Fax Lamaran ke: 
(021) 571 - 9089 
Atau kirim ke: 
PO Box 4886, Jkt 12048 




Terima pesanan Kue lapis legit 

& Kue lapis Surabaya 

For Delivery Hub: 0818-963030 



Tersedia Aneka Souvenir Natal 
untuk Anak Sekolah Minggu 

dan Aneka Snack 
(Murah/Harga sangat khusus 
untuk gereja) 

Kirim seluruh Indonesia ( • • f 

W*' J- 

HUB: KERRISS SHOP * ^ 
Telp. (021) 4611042 * m 
H P. 0818-419969 # 




eformata 



Songwfiter ; L'dis 
Seiyayahti 



1992-2003 



Menyuarakan Kebenaran dan Keadilan 





I J alam catatan sejarah, Antler (tanduk menjangan jantan) dikenal sejak tahun 168 Sebelum Masehi di 

Tiongkok dalam mencegah berbagai macam penyakit. Di abad ke-20 para ahli pengobatan kuno, mulai melakukan 
penelitian tentang tanduk muda menjangan jantan antara lain: USA, Kanada, Selandia Baru, Rusia dan Jepang. Hasilnya sangat luar biasa, ternyata Antler memiliki khasiat 
luar biasa bagi kesehatan khususnya meningkatkan daya tahan tubuh (body resistance) dengan merangsang produksi antibodi melawan berbagai macam penyakit Prime & First New 
World mempersembahkan VELDEER, anugerah alam yang luar biasa dari tanduk muda menjangan yang belum menjadi tulang (cartilage) dalam bentuk kapsul yang higienis, 100 % 
alami tanpa zat tambahan apapun, dan diperoleh dari hasil asimilasi berbagai ras menjangan kelas Super "A" yang dapat bertahan hidup di suhu yang sangat dingin dan sangat tinggi. 
Veldeer mengandung berbagai zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk tetap sehat dan prima, a.l. : asam amino, antioksidan, mineral, asam linolenat, fosfolipid, kolagen, 
proteo-dan glikosaminoglikans, chondroitin sulfat, glukosamine sulfat, dll. Veldeer tidak bekerja seperti obat, tetapi adaptogenik, mengoreksi keadaan tubuh yang tidak seimbang, 

sehingga tubuh menjadi sehat. 



UNGGULAN 



i Diambil dari menjangan ras genetik kelas 1 yang dapat 
bertahan di suhu -30° sampai dengan +40° Celsius, 
yang hanya mengkonsumsi makanan pilihan (Super 
"A" Grade). Menjangan yang akan diambil tanduk 
mudanya diawasi secara ketat dan profesional dalam 
pengembang biakannya. 

» Umur tanduk diambil pada puncak optimal sehingga 
dihasilkan zat-zat yang dibutuhkan untuk ketahanan 
tubuh seseorang, tanpa menyakiti menjangan tersebut. 



EFEKTIF 



Mencegah dan membantu penyembuhan keropos tulang, 
radang sendi/ arthritis 

» Meningkatkan kesehatan dengan 
menstimulasi produksi antibodi, guna 
meningkatkan kemampuan 
kekebalan tubuh sehingga tidak 
mudah terserang penyakit 



Mempercepat penyembuhan penyakit 
infeksi seperti radang tenggorokan, 
tipus, dll. 



Mempercepat penyembuhan setelah 
operasi 

Mengurangi migrain dan vertigo 
Menyeimbangkan Yin dan Yang 
seperti konsep pengobatan 
tradisional Tiongkok 
Membantu penyembuhan penyakit 
anemia (kurang darah) 



Bila mencegah lebih baik daripada mengobati, 
perkuatlah daya tahan tubuh Anda dan keluarga dengan Veldeer. 

Cukup konsumsi 1 -2 kapsul per hari. 



Untuk keterangan lebih lanjut, dapat menghubungi Customer Service ka 
JAKARTA (021) 3500135-6 BANDUNG (022) 2031610 
SURABAYA (031) 5025287 MEDAN (061) 7322662, 7351813 



^ PRIME & FIRST NEW WORLD T^c^Uru^UA iew^ 




MEDAN 

5 Oktober 2003 Novotel Hotel 



SURABAYA 

7 Oktober 2003 Prime & First Cabang SURABAYA 



MALANG 

8 Oktober 2003 Hotel Regent 



JAKARTA 

10 Oktober 2003 Atila Hotel 



Dapatkan ratusan HADIAH menarik pada taat acara.. 



Y A S K I MEMPERSEMBAHKA 



Siaran Radio 




Bahasa Indonesia & Bahasa Daerah 



Radio International FEBC Manila 




SW2-31MB 


SW2-25MB 


SW2-19MB 


(Frek. 9435KHz) 


(Frek.12095 KHz) 


(Frek. 15095 KHz) 


05.30 - 06.30 WIB 


16.00 -17.00 WIB 


16.15 -18.15 WIB 


Setiap hari 


Setiap hari 


Setiap hari 


Radio International FEBC Saipan 





SW2-19MB (Frek. 15380 KHz) 15.00 - 19.30 WIB / Setiap hari 



Heartline Network 

97.85 FM 

Heartline Tangerang 
98.80 FM 
Heartline Samarinda 
92.15 FM 
Heartline Lampung 
101.95 FM 
Heartline Bali 



di GELOMBANG Siaran i 



djDYASKI fIr^east ^HEAirnjNE^ 



4# 

ITlezBAh keliuRQ<\ 

Di dalam kerinduan membangun kerohanian pribadi 
anggota keluarga sering kita lupa betapa pentingnya 
menghadirkan mezbah di dalam sebuah rumah tangga. 

Di tengah semakin banyaknya rumah tangga yang 
hancur di muka bumi ini hadirat Allah sangatlah perlu 

dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. 
fflt:ziv.\h keluARcA perlu dibangun di dalam rumah 
orang-orang yang percaya kepada Yesus. 
Rangkaian pujian penyembahan dalam album ini 
mengajak anda dan keluarga untuk merasakan 
indahnya menyembah Tuhan bersama dengan 
orang-orang terdekat. Apapun peran anda 
di tengah keluarga, menjadi kerinduan Allah 
agar anda membawa keluarga untuk bersatu 
dan memiliki persekutuan yang erat dengan 
Kristus, Sang Kepala Rumah Tangga. 




E-maii: solideomusic@centrin.net.id